“Jadi lo kenal Pelangi?” tanya Nando tanpa menoleh ke arah Gilang. Pandangannya tertuju pada Pak Trisna—guru sejarah yang terkenal hobi melempar penghapus papan tulis pada siapa saja yang tidak memperhatikan pelajarannya.
“Kenal,” jawab Gilang singkat.
“Nggak biasanya seorang Gilang ngajak cewek kenalan,” Nando terkekeh dan membuat Pak Trisna melotot ke arahnya. Cowok itu segera nyengir tanpa dosa dan mengelus dada saat Pak Trisna kembali menulis di papan tulis. Nando kembali bertanya dengan suara lebih dikecilkan, “Gimana ceritanya?”
“Panjang,” jawab Gilang.
“Cerita dikit napa, songong amat,” cibir Nando. Kali ini ia melirik Gilang kesal yang membuat cowok itu mendengus sebal. Ia malas menceritakan sesuatu—karena sejujurnya ia tidak pandai bercerita.
“Kita kenalan gitu aja kok.” kata Gilang. Kali ini Nando mendengus sebal, tidak puas dengan jawaban temannya itu. Gilang mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Suatu kejadian terlintas di benaknya, membuatnya bergumam, “Senin kemarin gue bolos upacara,”
“Wow, cerita yang menarik,” sindir Nando.
“Lo tahu gue bareng siapa?” Gilang tersenyum miring. “Natasha.”
Mata Nando melotot. “NATASHA GUE?”
BUK!
Sebuah penghapus papan tulis menghantam kepala Nando. Cowok itu meringis sambil mengusap-usap kepalanya, sementara Pak Trisna melanjutkan pelajarannya dengan tenang.
“Natasha?” tanya Nando. Kali ini ia berbisik agar tidak kena hantaman penghapus papan tulis yang kedua.
“Nanti gue ceritain,”
“Sekarang.” tukas Nando. “Natasha gue?”
Gilang menghela nafas panjang. Awas saja kalau dia juga ikut-ikutan terkena jurus sakti Pak Trisna. “Natasha-nya Ariko,” jawab Gilang, menekankan nama Ariko yang membuat Nando mendengus sebal.
“Natasha gue. Gue, Nando.” ujarnya. “Dia mau-mau aja lo ajak bolos?”
“Nggaklah. Gue doang sih yang bolos, Natasha nggak,” Gilang menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Tapi secara teknis gue nggak bolos, sih. Gue kan nemenin Natasha ke UKS.” gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri.
“Natasha sakit?” tanya Nando, berusaha mengontrol volume suaranya.
“Nggak, cuma lecet dikit.” jawab Gilang.
“Siapa yang bikin dia lecet?”
“Pot bunga.”
“Pot bunga yang mana?” tanya Nando berapi-api. “GUE BAKAR DEH ITU POT!”
BUK!
Penghapus papan tulis yang kedua mendarat mulus di jidat Nando.
---
Bell pulang sekolah berbunyi bersamaan dengan jatuhnya tetes pertama dari hujan siang ini. Gilang mengambil buku-buku yang tersebar di atas mejanya, lalu menjejalkannya secara asal ke dalam tas.
Hari ini Gilang sama sekali tidak punya niat untuk pergi ke rooftop. Kejadian tempo hari mungkin berpengaruh baginya. Ia berkeinginan untuk menjauhi markas rahasianya itu sementara waktu.
Gilang menimbang-nimbang antara langsung pulang ke rumah atau pergi ke tempat lain.
“Ndo, gue boleh ke rumah lo?” tanya Gilang.
“Kapan?”
“Sekarang.”
“Nggak bisa,” jawab Nando sambil menutup resleting tasnya. “Gue ada janji sama Maura.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain Sound
Jugendliteratur(Telah Diterbitkan) Aku bingung kenapa banyak orang yang menyukai hujan. Saat kutanya, sebagian dari mereka mengatakan bahwa hujan itu romantis, beberapa berkata bahwa hujan itu menyejukkan, yang lainnya mengungkapkan bahwa hujan membawa ketenangan...
