Pelangi terus tersenyum selama perjalanan pulang ke rumah.
“Bahagia banget, Non,” komentar Pak Bono, yang sesekali melirik Pelangi dari kaca spion. Pria paruh baya itu sedang fokus mengemudikan mobil di tengah kemacetan lalu lintas.
“Pak Bono sok tahu,” gerutu Pelangi, namun senyum di wajahnya tidak pudar.
“Lagi jatuh cinta, ya?” Pak Bono melirik jahil anak majikannya itu. Muka Pelangi sontak memerah.
“Sok tahu, ih!” Pelangi mencubit lengan Pak Bono.
Pak Bono meringis. “Ampun, Non.”
Pelangi tertawa puas. Setelah itu tidak ada percakapan, hanya terdengar alunan lagu yang disenandungkan oleh Pelangi. Pak Bono tampak sibuk dengan jalanan yang macet.
“Gini, nih, jalanan kalo sore. Macet,” gumamnya sambil mengetuk-ngetuk stir kemudi dengan jarinya.
“Emangnya jalan pulang ke rumah cuma disini, ya, Pak?” tanya Pelangi. “Nggak ada jalan lain, gitu?”
“Ada, sih, Non. Tapi sama aja macetnya.”
Pelangi mengangguk. “Kalo gitu terbangin aja mobilnya,”
“Tapi kalo kita ditilang gimana?”
“Kita kan terbang, jadi polisinya nggak mungkin ngejar,”
“Kalo polisinya terbang?”
“Kita mutar balik ke jalanan,”
“Kalo macet?”
“Ya tungguin aja macetnya,”
“Kalo kita ketangkap sama polisinya?”
Pelangi tersenyum. Pak Bono memang selalu bisa menangkis semua candaannya dan tidak pernah gagal membuatnya tersenyum. “Berarti takdir kita emang harus ketangkep sama polisi.”
“Tapi takdir bisa kita yang nentuin loh, Non.” Pak Bono mengalihkan pandangannya ke Pelangi yang duduk di sampingnya.
“Oh ya?”
Pak Bono mengangguk. “Misalnya nih. Kita bodoh, tapi pengin jadi pinter. Kita harus berusaha keras, belajar mati-matian, juga harus berdoa sama Tuhan biar diberikan jalan yang mudah untuk mencapai itu.
“Nah, pas kita udah pintar, kita pasti mikir gini, Dulu kalo saya nggak berusaha buat jadi pintar, apa saya akan kayak begini? Atau saya memang ditakdirin biar jadi pintar, meskipun dulu saya nggak berusaha? Jawabannya adalah nggak. Kita nggak akan jadi pintar kalo kita nggak memilih berusaha buat jadi pintar. Karena kita nggak akan sampai di tempat tujuan kalo kita nggak jalan.
“Itulah takdir, kita bisa menentukannya sekarang. Mau gimana kita nantinya, itu tergantung pada apa yang kita pilih saat ini, karena kitalah yang menentukan takdir kita sendiri.” jelas Pak Bono.
Pelangi mengangguk pelan, berusaha mencerna perkataan Pak Bono.
Matahari sudah mulai kembali ke peraduannya, menyisakan cahaya remang-remang dan langit yang mulai berubah warna. Kemacetan di jalanan tidak kunjung menyurut. Pelangi memandang sekelilingnya dengan pandangan menerawang. Sekilas, mata gadis itu tampak berkaca-kaca.
“Aku selalu percaya kalau Bunda meninggal karena takdir,” gumamnya lirih. Ia masih memandang ke luar jendela, enggan memperlihatkan matanya yang mulai berair kepada Pak Bono. “Tapi pas dengar omongan Pak Bono tadi, aku jadi mikir. Apa Bunda meninggal karena takdir atau karena … pilihannya sendiri?”
Pak Bono memandang putri majikannya itu. Ia sudah cukup lama bekerja pada keluarga Pelangi untuk mengenal gadis itu, menghafal sifatnya yang ceria dan moodnya yang gampang terombang-ambing, mengingat apa saja yang disukai dan tidak disukainya,
Dan untuk mengetahui bahwa Pelangi masih menyimpan duka atas kecelakaan beberapa tahun silam yang merenggut nyawa sang ibu yang sangat disayanginya.
Pak Bono tersenyum tipis, lalu bergumam, “Non, terkadang ada beberapa hal di dunia yang tidak dapat kita ubah; sekeras apapun kita berusaha.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Rain Sound
Novela Juvenil(Telah Diterbitkan) Aku bingung kenapa banyak orang yang menyukai hujan. Saat kutanya, sebagian dari mereka mengatakan bahwa hujan itu romantis, beberapa berkata bahwa hujan itu menyejukkan, yang lainnya mengungkapkan bahwa hujan membawa ketenangan...
