Semilir angin mengiringi perjalanan kita. Aku tidak tahu akan dibawanya kemana. Tapi satu hal yang aku tahu, aku memercayaimu Yore.
"Sel, portal hitam itu, aku pernah mendengar sesuatu tentangnya dulu," ucapan Yore mengawali percakapan di tengah-tengah kepakan sayap kami.
"Perihal apa?"
"Kau akan tahu nanti."
"...A, apa yang...?" Ucapanku terhenti tepat ketika Yore menginjakkan kaki ke tanah.
Di depan kami, ada sebuah bangunan besar, terlihat kuno, dan aku bahkan tak pernah melihat ini di seluruh pelosok Luxior.
Bentuk nya seperti cawan — gelas yang dipakai untuk minum bir —
aku sampai bingung, apakah itu memang cawan atau rumah?
"Kita sampai Sel."
"Iya aku tahu, bodoh," Siapa pula yang tidak tahu kalau kita sudah sampai?
Yorenza hanya terkekeh melihatku.
"Yore, mengapa kita tidak pakai portal saja?"
"Aku mengkhawatirkan soal itu Sel, untuk itu aku mengajakmu kemari."
"Mengkhawatirkan soal apa?"
"Nanti juga kau akan tahu."
Huhh, sebal, terlalu banyak yang di nanti-nanti, aku tidak suka kejutan.
Yorenza menuntunku terbang ke dalam cawan itu. Saat sudah sampai, aku terperangah, tidak seperti cawan biasa, ini kastil! Hati ku tergugah untuk terbang mengelilinginya, kau tahu? Disini indah sekali.
Beberapa saat setelah aku berdecak kagum pada bangunan ini, terdengar suara kepakan sayap.
"Itu sang ratu."
"Siapa?"
"Fina."
Aku sekali lagi berdecak kagum, bahkan kali ini jantungku ikut berdegup. Melihat keanggunan sayap Ratu Fina — mungkin disini mereka memanggil ratu langsung dengan namanya.
"Ratu aku menemukan dia berada di kandang sapi milik ayahku, berasal dari portal hitam misterius itu!" Ujarnya melaporkan kejadian.
"Benarkah? Siapa namamu?" Sang ratu bertanya.
"Selina," aku menjawab.
Lenggang sejenak.
Jantungku semakin berdetak mengikuti deru napasku yang semakin mendalam. Sebenarnya apa ini? Seserius itukah?
"Masalah portal hitam itu tak ada habis-habisnya, akhir-akhir ini, kelinci-kelinci di negeri kami hilang, dan ada beberapa warga yang mengatakan mereka di culik portal hitam misterius. Tapi aku rasa hal tsb tidak sesederhana itu. Benar rupanya, pasti ada kesalahan portal," ia berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan, "Apa kau bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi?!" Begitu katanya, dan kali ini nada bicara nya meninggi serta tatapan tajam dengan aura semakin merasuk dada ,menghujam tubuhku.
Yorenza terlihat merasa tidak enak padaku, mungkin ia tidak mengira bahwa sang ratu akan marah, lalu sedetik kemudian setelah kelenggangan dimulai di ruangan itu, Yorenza langsung menarik tanganku dan kabur.
"Kejar mereka!" Perintah ratu menggema di aula kastil.
Beberapa pasukan dengan sayap yang sama dengan Yorenza itupun mengejar kami. Menutup seluruh akses untuk keluar.
Rasanya sayapku lemas, tidak kuat terbang lagi, sayap mereka jauh lebih kokoh dari sayap milikku, kita tidak sejenis! Tapi Yore bersikeras menarik aku.
Aku terseret, ingin jatuh tapi tak bisa, ingin terbang namun tak mampu. Dayaku menggapai pintu terakhir kastil yang belum di tutup hampir sirna. Aku pun jatuh pingsan, menyisakan keputusasaan di mata Yore.
Detik-detik terakhir aku menutup mataku sempurna, portal hitam itu muncul lagi di hadapan kami. Yorenza lagi-lagi bertindak gesit, ia langsung menggendong aku menuju portal itu.
Hmph, gegabah sekali dia, memangnya dia tau portal ini akan menuju kemana? Dasar bodoh.
Aku hanya bisa berharap kami mendarat di tempat yang bagus untuk istirahat.
Seperti yang ku alami kemarin, portal ini sungguh jelek, berputar-putar!
Oh, ukh....Ok kali ini aku betulan jatuh pingsan....
Next? Vote and share duluu
KAMU SEDANG MEMBACA
Klandestin Mudita
FantasíaInilah "kebahagiaanku" Tentang sebuah kebahagiaan tersembunyi yang aku dapati dengan usaha penuh bayang-bayang Bimbang, hancur, dan mati, bersama rasa ini. Sedang dunia terus berjalan melewati masa dan asa, duniaku, juga dunia mu. Membentuk sebuah p...
