CHAPTER 5

3.8K 651 2
                                        


Setiap tarikan napas, Jungkook berharap tidak memiliki keluarga yang hampir hancur-berada di ujung tanduk. Setiap hembusan napasnya, Jungkook berharap tidak pernah terlahir menjadi seorang Jeon Jungkook. Setiap laki-laki itu membuka matanya, ia berharap tidak pernah ada yang namanya kehidupan menyakitkan di dunia. Setidaknya untuk beberapa hal, ia benci telah terlahir di dunia.

"Tangkap!"

Jungkook tersentak, segera menangkap bola karet yang dilemparkan Seolhee ke arahnya. Perempuan itu berjalan ke menghampirinya, di tangannya menggandeng lengan kecil Jeonshan, berlari-lari kecil bersama adiknya dengan senyuman manis yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Terkadang Jungkook bertanya, seberapa banyak beban yang gadis itu sembunyikan di balik senyumannya?

Seolhee itu hancur, sama seperti dirinya. Atau mungkin lebih hancur. Tapi setahu Jungkook, hampir tidak pernah ia melihat Seolhee mengeluh, hanya sesekali menggerutu lalu kembali tersenyum cerah lagi. Jika sebuah senyuman memang benar-benar bisa menambah amal kebaikan manusia, maka Jungkook yakin milik Seolhee sudah menggunung seorang diri.

"Kenapa kemari?" tanya Jungkook setelah Seolhee dan adiknya sampai di depannya.

"Kenapa? Tentu saja untuk bermain, Jungkook! Lihat, adikmu bersemangat sekali ingin bermain bersamamu," ujar Seolhee seraya menunjuk senyuman lebar Jeonshan yang begitu bersemangat. Anak laki-laki itu memandang kakaknya begitu dalam, penuh harap agar mau bermain bersama. "Kau lihat, kan?"

Jungkook melihatnya, betapa polosnya adik laki-lakinya yang ingin bermain bersamanya tanpa mengetahui suasana hati kakaknya yang sedang amat buruk. Kendati begitu, Jungkook tetap menunjukkan senyuman manisnya, mengusap sayang rambut halus adiknya.

"Mau bermain bersama Hyung, hm?"

Jeonshan mengangguk cepat, gigi kecilnya ia perlihatkan kepada Jungkook. Tanda ia begitu menginginkannya.

"Baiklah, ayo!" Jungkook melemparkan sembarang bola karet yang ada di tangannya ke rerumputan di halamannya. Menendangnya asal yang langsung diikuti kejaran kaki kecil adiknya. Jeonshan berlari acak, mengejar bola karet dari kaki besar kakaknya.

Saat kedua kakak beradik itu sibuk bermain sepak bola, yang dilakukan Seolhee hanyalah melihatnya dari jauh. Memandang raut wajah bahagia kedua laki-laki itu. Setidaknya kali ini ia kembali berhasil mengembalikan senyuman lebar sahabat kecilnya itu. Tentunya dibantu dengan si Malaikat Kecil keluarga Jeon.

"Jeonshan, semangat!!!" seru Seolhee mendukung buntalan manis yang masih sibuk berlari ke sana dan kemari.

Seolhee bersyukur Jeonshan tumbuh dengan begitu baik. Tubuhnya begitu sehat dan gendut, terlihat sangat bahagia. Tidak seperti Jungkook. Pria itu mungkin memiliki tubuh yang terlihat cukup sehat dan berisi, tapi tidak dengan suasana hatinya yang selalu berubah-ubah. Seolhee yakin, jika saja dirinya tidak sering menjaili Jungkook, laki-laki itu akan selalu dalam suasana hati yang buruk. Mengurung dan mengutuk dirinya dengan berbagai perasaan marahnya.

Perasaan marah itu wajar, boleh dirasakan. Tapi tidak untuk terus-menerus, apalagi sampai menyalahkan keadaan. Memang setelah mengamuk dan menyalahkan segala hal yang bisa disalahkan semuanya akan berubah menjadi lebih baik? Bisakah kehidupan berubah seperti yang diinginkan dengan hanya meraung dan berteriak pada langit? Mustahil!

Seolhee memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah Jungkook, berencana membuat beberapa minuman segar yang dapat melepas dahaganya, Jungkook dan tentunya susu cokelat untuk Jeonshan. Setelah selesai, ia segera kembali ke halaman depan dengan membawa nampan berisi minuman segar.

Dilihatnya Jungkook yang sudah tertuduk lelah di tanah sementara Jeonshan melanjutkan permainannya, berganti menjadi mengayuh sepeda mininya, mengelilingi halaman rumahnya.

"Payah sekali sih, baru sebentar sudah terengah-engah begitu. Malu sama Jeonshan, Jung."

Jungkook mendesis mendengar ejekan Seolhee.

"Wajar, Seol. Jeonshan masih sangat muda, semangatnya masih terbakar tinggi."

"Lalu, umur sembilan belas tahun sepertimu sudah tua, begitu?"

"Tidak tua, hanya sudah tidak memiliki semangat," jawab Jungkook dengan santainya. "Sudah cepat, kemarikan minumannya. Aku haus."

Seolhee menurutinya, memberikan minuman Jungkook sementara ia membawa sebotol susu cokelat ke arah Jeonshan. Membiarkan adik laki-laki Jungkook meminumnya seraya tetap melanjutkan permainannya, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke arah Jungkook. Mengamati Jeonshan dari jauh dan menikmati minumannya sendiri.

"Kau tidak pulang? Pekerjaan rumahmu mungkin menunggumu untuk segera diselesaikan," ucap Jungkook seraya menatap Seolhee dari samping.

Jungkook tahu, sahabat baiknya itu memiliki segudang pekerjaan rumah yang harus diselesaikannya. Tidak peduli hari minggu atau libur sekalipun, semua hari akan tetap sama saja bagi gadis itu. Sama-sama dipenuhi kesibukan.

"Tidak. Aku akan pulang saat menjelang makan malam nanti."

"Kau... sudah izin?"

"Ya, aku sudah mengatakannya pada mereka. Aku bilang akan ke rumahmu untuk mengerjakan tugas sekolah bersamamu."

"Lalu pekerjaan rumahmu?"

Seolhee tersenyum tipis lalu segera menjawabnya, "Tenang saja, aku akan mengerjakannya sepulang dari sini. Hanya perlu mencuci beberapa piring dan memasak makan malam. Tapi hey, kenapa kau jadi cerewet begitu, sih?"

Jungkook tergagap. "A-apa, tidak. Aku hanya mengingatkanmu. Bagaimana jika mereka memukulmu karena kau belum mengerjakan tugasmu?"

"Dipukul, ya tinggal dipukul. Dikerjakan atau tidak, mereka akan tetap sering memukulku tanpa sebab, bahkan walau hanya karena sebuah suara yang keluar dari mulutku. Tetap terasa salah di mata mereka," sahut Seolhee begitu pasrah.

Perkataan Seolhee begitu menohok hati Jungkook. Gadis itu begitu menderita tapi masih berusaha bersikap baik-baik saja. Kedua orang tua Seolhee tidak lebih baik dari miliknya, bahkan mungkin lebih menyebalkan.

"Seol... kau tidak ingin pergi? Ke sebuah tempat yang paling jauh, meninggalkan bayang-bayang kekejaman mereka," tanya Jungkook dengan pelan.

Kepala gadis itu mendongak ke atas, memandang langit biru yang begitu cerah. Menghirup udara segar di sekitarnya lalu menghembuskannya dengan perlahan melalui bibirnya.

"Aku mau, Jung. Sangat mau sampai rasanya ingin berlari sekarang juga. Meninggalkan kenangan buruk bersama mereka adalah keinginan terbesarku sejak kecil."

"K-kalau begitu, ayo pergi bersama! Kita bisa hidup bersama, ah dengan Jeonshan juga. Aku tidak ingin adikku merasakan perasaan buruk yang sama denganku saat ia sudah besar nanti."

Seolhee tertawa renyah mendengar pemikiran pendek Jungkook. Memang menjalani kehidupan semudah itu?

"Tidak semudah itu, Jungkook." Seolhee menatap mata hitam milik pria itu. "Tidak semua hal dapat dengan mudah dilakukan seperti ucapanmu. Bisa saja justru membawa masalah baru, kan? Dan mereka... bisa saja ikut terluka, Jung."

Gigi Jungkook bergemeletuk mendengar perkataan Seolhee. Perempuan itu masih saja memikirkan perasaan kedua manusia yang jelas-jelas menyakitinya, yang tidak mungkin pernah memikirkan perasaannya.

"Kau bodoh, ya?! Mereka tidak memikirkanmu, Seolhee. Untuk apa kau begitu peduli padanya, memikirkan perasaan dua manusia kejam yang menghancurkanmu secara perlahan? Kenapa?!"

"Karena aku menyayangi mereka, Jungkook! Mereka orang tuaku, seburuk apapun mereka tetap bagian dari darahku! Rasa peduliku mengalahkan kebencianku."

"Tapi mereka tidak peduli padamu, Seolhee!"

"Dia peduli, Jung."

"Apa? Siapa maksudmu?"

"Ibuku, Jungkook. Wanita paruh baya itu masih memiliki sedikit perasaan peduli padaku. Tidak peduli walaupun itu mungkin hanyalah sebuah perasaan kasihan pada anak perempuan yang tidak diinginkan seperti diriku, aku akan tetap menyayanginya."

[]

LILIUM✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang