Don't love me

498 17 4
                                        

Janine - Don't Love me

Pagi sekali Pak Herman sudah melepas gembok dan membuka gerbang yang menjulang tinggi 3 meteran. Gerbang sekolah langit terbuka lebar, siap untuk menyambut datangnya para siswa.

Pak Herman berdiri diambang gerbang dan sejenak melirik jam ditangannya.

"Baru jam 6.05 belum ada yang berangkat, biasanya udah ada sebagian yang datang"Pak Herman lalu mendongak ke kanan dan kiri jalan.

"Kok belum pada dateng ya?"Pak Herman garuk-garuk kepala bingung. Hari ini hari kamis kan? Pak Herman kembali ke ambang pintu. Dia tidak ingin pusing memikirkan hari. Tugasnya hanya jaga gerbang dan menghukum anak kesiangan.

Beberapa menit telah berlalu. Ratusan kendaraan seperti sepeda,motor dan mobil memasuki sekolah. Sedikit siswa memberi sapaan kepada Pak Herman.

"Selamat pagi Pak Herman"sapa Gilang melambaikan tangan ketika mobilnya melewati Pak Herman. Pak Herman hanya tersenyum masam.

Tak lama kemudian, motor yang membawa Ranum berhenti di depan gerbang. Ranum turun dari motor Nin*a itu dan melepas helm.

"Makasih Kak. Aku masuk ya"Ranum menyodorkan helm dan membenarkan ikat rambutnya. Lalu dia membalikan badan.

"Sya.."Panggil pemilik motor menghentikan langkah Ranum. Ranum pun memutar tubuhnya lagi. Pemilik motor itu juga membuka helmnya.

"Iya Kak Daniel. Ada apa?"Jawab Ranum mengernyitkan alisnya canggung.

"Mmm, nanti kakak jemput ya?"Ucap Daniel tersenyun ragu. Takut ada penolakan dari Ranum pagi ini.

Anggukan Ranum membuat bibir Daniel tersenyum lebar. Tidak ada keraguan lagi dalam hatinya. Dia pun memakai helm dan melajukannya sesudah memberi klakson perpisahan.

Ranum tersenyum melihat punggung laki-laki yang sangat,sangat,sangat baik itu. Kemudian Ranum berjalan dgn tegap menuju kelasnya. Sesekali Ranum menunduk dan menengadah keatas-memikirkan kehidupannya yang sangat sulit.

"Hei"Sapa seseorang yang berhenti dihadapan Ranum. Sontak Ranum pun juga berhenti melangkah. Dia mengernyitkan alisnya bingung dan kesal.

"Mau apa lo? Awas! Gue gak ada urusan sama lo!"sentak Ranum mendorong cowok tengil dihadapannya. Tapi,cowok itu menahan pergelangan tangan Ranum.

"Num,kamu masih banyak urusan sama aku"Ucap Cowok itu halus. Tatapannya juga memelas. Tapi dgn segera Ranum menangkis tangan cowok dihadapannya.

"Gas. Lo harus ngerti. Lo juga harus inget status gue sekarang. Gue udah punya pacar"Ucap Ranum menatap tajam teman seangkatannya dgn tatapan marah.

"Oke. Whatever. Tapi gua bakalan merjuangin cinta gua sama lo. Sampai lo jadi milik gua. Inget itu!"Ucap cowok itu penuh penekanan. Dengan tangannya yang kekar,dia meremas kasar lengan Ranum. Berharap Ranum akan takut.

"Bagas, sakiit! Jaga etika lo. Lepas!"Ucap Ranum meruntu kesakitan. Tapi Bagas tidak mendengarkan atau kasihan pada gadis impiannya itu. Dia malah tersenyum miring melihat gadisnya ketakutan.

"Bagas Mitchell kelas 11 Ipa 2. Salah satu anak gym kesayangan Kak David Giolyan. Jangan sentuh cewek itu, lepasin dia"Ucapan Ardan yang santai tapi penuh penekanan dan ancaman membuat Bagas melonggarkan genggamannya. Ranum dan Bagas terfokus dgn kedatangan Ardan yang entah darimana datangnya.

Bagas melepas genggamannya. "Hati-hati sama hati lo. Jangan gunain kecantikan lo buat ngerayu semua cowok!" Bagas pun tersenyum miring pada Ranum sebelum pergi meninggalkan Ranum dan Ardan.

"Sebentar lagi masuk-kan?. Mending kalian siap-siap sana. Gak usah ngeliatin kita"Ucap Ardan menyindir mereka yang memperhatikan dan menggosipinya dari tadi. Siswa-siswa itu pun pergi ke berbagai arah.

Battle Symphony(21+)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang