Bagian - 6

70.1K 4.6K 400
                                        

"Berangkat ke kantor, Bang?" Rega keluar dari pintu kamar Arfan kemudian menutup pintu di belakangnya. Dia hanya mengenakan bokser hitam tanpa atasan sementara Eben sudah rapi dengan setelan kantornya. Rega menguap sembari memandang abangnya itu. ''Nggak sarapan dulu?"

"Tidak sempat,'' Eben menaikkan lengan kemejanya untuk melihat jam. "Aku pergi dulu." Eben berjalan pergi, namun masih beberapa langkah, dia membalik badan. "Mey sudah bangun?"

"Mana kutahu." Rega menguap lagi. "Aku saja baru keluar dari kamar." Lalu Rega tersenyum cerah. "Harusnya abang check si Mey, udah bangun apa belum."

Tampak jelas Rega menantikan hasil keusilannya tadi malam. "Kau pikir yang kau lakukan itu bagus?" Sergah Eben. "Jangan kau ulangi lagi."

"Berarti abang sudah men-chek si Mey, ya?" Rega menggaruk perut telanjangnya. "Maksudku baik, Bang."

"Membuat seorang gadis nyaris telanjang dengan baju jaring-jaring itu kau bilang bermaksud baik?" Tadi malam Eben memaksa dirinya segera berlalu dari kamar Mey karena takut terjadi hal yang tidak-tidak. Sesampainya di kamar bukannya bisa tidur, Eben terus membayangkan pakaian dalam Mey yang melekat di tubuh gadis itu. "Dan jangan berkeliaran di rumah dengan pakaian seperti itu."

"Kenapa? Biasanya juga aku seperti ini."

"Itu sebelum ada Mey!" Eben menahan nada suaranya tetap datar. "Kau tidak malu bertelanjang dada seperti itu?"

"Baiklah. Baiklah." Rega menyeringai. "Abang sadar nggak setelah ada Mey abang jadi aneh.''

Eben pura-pura melirik jam tangannya lagi. "Aku sudah terlambat."

"Bang?" Rega menahan langkah Eben.

"Apa?"

"Jangan sampai abang jatuh hati sama Mey." Sebelum Eben mendampratnya Rega buru-buru kembali ke kamar dan mengunci pintu.

Eben menggelengkan kepala. Sepanjang perjalanan ke kantor ia memikirkan kata-kata Rega. Apakah dirinya memang jatuh hati pada Mey? Jika keresahan ini berarti demikian, Eben berada dalam masalah. Selama ini Eben tidak terlalu memikirkan asmaranya, pekerjaannya di kantor sudah membuatnya sangat sibuk. Perempuan jarang membuatnya tertarik. Sejauh ini belum ada perempuan yang menarik perhatiannya. Robin, sahabatnya, mengatakan bahwa Eben sudah terbiasa berkencan dengan berkas-berkas kerjasama hingga para gadis membuatnya kehilangan minat. Mey adalah gadis pertama yang mampu mengusik pikiran Eben sejak....Eben lupa sejak kapan. Sudah sangat lama terakhir kali ia terlibat dalam hubungan percintaan.

Mey datang ke pikirannya tanpa diundang, dan masalahnya Eben tidak bisa mengusirnya. Wajah Mey, matanya, senyumnya, tubuh moleknya, berputar-putar seperti kaset yang tidak mau berhenti. Mey memenuhi kepalanya, bahkan di tengah-tengah rapat.

"Ada masalah?" Robin melempar bungkus rokok ke meja Eben setelah dia mengambil satu batang untuknya sendiri. "Tidak biasanya kau tidak fokus saat rapat. Apalagi rapat kali ini membahas tender yang besar."

Rapat berjalan lancar, terimakasih pada Robin yang dapat mengambil alih ketika Eben kehilangan fokus. Tiba-tiba dia takut Rega dan si kembar melakukan hal-hal aneh lagi sehingga beberapa kali ia tidak mendengar apa yang dibicarakan.

Eben menggeser bungkus rokok itu. "Seperti biasa.''

"Adikmu?"

"Hhmm. Ada saja yang dia lakukan yang membuatku marah."

"Tapi biasanya kau bisa mengabaikan adikmu sebentar kalau untuk pekerjaan. Jangan berkelit, Ben. Ada masalah lain, kan?"

Eben dan Robin berteman sejak kuliah. Setelah lulus kuliah Eben mengajak Robin bekerja di perusahaannya. Persahabatan mereka dekat, Robin mengenal Eben begitupun sebaliknya.

Mine (Play Store)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang