Mey, bisa dibilang melompat ketika membuka mata dan melihat sebuah tangan di perutnya. Napasnya dalam sekejap berkejar-kejaran dengan jantungnya yang berdegub kenjang. Secara refleks ia menghempas tangan besar itu, beringsut sejauh yang dia bisa. Tetapi erangan suara berat yang dikenalnya membuat Mey berpaling cepat, secepat datangnya ketakutan tadi secepat itu pula kelegaan dirasakannya.
"Ya Tuhan, Eben," serunya penuh syukur. "Kamu membuatku terkejut.''
Eben, belum sepenuhnya sadar, menatap Mey. "Kau melompat?"
"Kupikir kamu orang asing, Ben. Kamu nggak bilang akan pulang. Kemarin kamu bilang baru bisa pulang dua minggu lagi. Aku terbangun dan melihat tangan di perutku, jantungku nyaris berhenti."
Eben tersenyum tanpa rasa bersalah, ia membenamkan wajahnya beberapa detik di bantal---menghirup aroma minyak angin Mey---sebelum kemudian memandang gadis itu lagi. "Aku tidak tahan menunggu selama itu," Eben mengulurkan tangannya menarik kaki Mey. "Kembalilah, sayang. Hari masih pagi."
Sentuhan jemari Eben di kakinya menggelitik Mey. Mey kembali berbaring, dengan tegang dan...gugup. Eben sedang berbaring, tanpa baju, bagian pinggulnya ditutupi selimut...apakah?? Pikiran Mey mengarah ke segala sisi. Matanya melirik ke sana dengan wajah yang memperlihkatkan dengan jelas apa isi pikirannya.
Eben terkekeh. "Aku tidak telanjang, Mey. Jangan seperti batu, aku masih ingin memelukmu. Tadi malam kau terasa seperti jelly, lembut dan enak dipeluk, kenapa sekarang berubah seperti papan?"
Itu kan karena Mey tidak sadar. Mey pikir ia tengah bermimpi. Dengan dada telanjang, aroma Eben yang harum, lengan pria itu yang meraihnya, bagaimana mungkin Mey tidak gugup. "Tapi kamu nggak pakai baju." Mey berusaha tenang, yang ternyata tidak sulit.
"Kamu belum pernah melihat laki-laki telanjang dada?" Eben bertopang pada siku, dengan santai menarik pinggang Mey semakin rapat padanya.
''Aku nggak bisa napas," Mey beralasan, padahal ia hanya ingin menghindar dari topik tersebut. Ia meletakkan tangannya di dada Eben, merasakan kekuatannya. Eben memiliki dada yang bidang.
Eben bergerak ke atasnya, memaku wajah Mey dengan kedua tangan di setiap sisinya. "Sekarang?"
Mey semakin tidak bisa bernapas, namun dalam artian yang baik. Mey melirik bibir Eben, kemudian naik wajah tampan pemiliknya. Mey merasa seperti sedang bermimpi, masih tidak percaya memiliki Eben sebagai kekasihnya. Mey memberanikan diri menyentuh wajah Eben, menelusuri kulit kecoklatan tersebut. Eben sangat tampan, pria tertampan yang pernah ditemuinya. Eben memiliki rahang yang kokoh, memberikan kesan kasar namun ada kebaikan tersirat dalam tatapannya. Eben bertubuh kokoh, memiliki tinggi nyaris 190 tapi Mey merasakan kedamaian bersama dengannya. Eben berhasil membuatnya semakin terpesona hingga tampak tidak nyata.
"Kau menyukai apa yang kau sentuh?" Eben menelengkan kepala, mencium tangan Mey.
"Sangat," seru Mey pelan. "Kamu sangat tampan."
"Oh, ya?" Eben jelas tahu dirinya tampan. Namun saat Mey yang mengatakannya, hatinya dipenuhi perasaan aneh yang terasa asing sekaligus menyenangkan.
"Hhmm," Mey mengangguk. "Sangat tampan. Pasti banyak yang menyukaimu, kan."
''Asal kau menyukaiku, itu sudah cukup."
Mey merona. Eben sedang merayunya, dan Mey belum kebal terhadap kata-kata seperti itu.
"Pipimu merah," Eben tertawa.
"Kamu merayuku."
"Apa salahnya? Aku merayu pacarku sendiri, tidak ada yang melarang."
Mey semakin merona. "Ben, aku harus bangun. Aku perlu membuat sarapan---"
"---tapi aku masih memerlukanmu," Eben menahan Mey tetap di bawahnya. "Sarapan bisa menunggu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Mine (Play Store)
RomanceNovel dewasa Everything about love... Meylan & Eben Diranta Love Story
