sudah hampir pukul tujuh pagi, tapi renjun masih belum keluar juga dari kamar. hal itu membuat ayahnya sedikit khawatir, lantas ayahnya bergegas menuju kamar anak semata wayangnya itu. begitu ingin mengetuk, pintu kamar itu terlebih dulu terbuka. ayahnya tersenyum lega melihat anaknya yang tidak kenapa-napa, lain halnya dengan renjun yang menatap malas ayahnya.
renjun melengos pergi tanpa memperdulikan ayahnya dihadapannya.
“sarapan dulu, nak!” panggil papahnya saat melihat renjun melewatinya.
lagi-lagi, renjun tidak memperdulikan suami ayahnya yang memanggilnya. ah, bukankah sedikit bingung untuk memanggilnya?
ini sudah terhitung tiga hari berturut-turut, renjun tidak pernah makan dengan keluarganya di rumah. ia selalu kabur saat waktunya makan, entah itu sarapan, ataupun makan malam. ia lebih memilih makan di luar sendirian.
sesampainya di sekolah, renjun tidak langsung memasuki kelasnya. ia malah pergi ke tempat tongkrongannya di gudang belakang.
keringat dingin mengucur ke seluruh tubuhnya. telapak tangannya benar-benar dingin. ini menyiksa. harus sampai kapan renjun merasa tegang dan cemas karna takut ada yang mengurusi masalah keluarganya?
mereka gak akan pernah tahu gimana rasanya menjadi seperti renjun saat ini.
🍁🍁🍁
orlyn menggigiti kukunya, daritadi ia hanya berjalan bolak-balik di depan kelas sebelas ips dua. ia mendapat info dari salah satu teman kelasnya mengenai orang yang duduk dengannya di kantin kemarin. renjun, salah satu nama yang di beritahu temannya. dan di sinilah kelas mereka.
tok tok
setelah mengetuk pintu kelas itu, orlyn memberanikan nanya ke ketua kelas mengenai ketiga orang itu. sialnya, ketua kelasnya bilang ketiga orang itu sudah tidak ada dikelas sejak pelajaran kedua hingga saat pulang ini.
dengan wajah murung, orlyn keluar dari kelas itu.
“eh, kenapa gue gak coba liat handphonenya? 'kan kalo gak dikunci pake kata sandi segala gue bisa hubungi dia.” orlyn berbicara sendiri sembari menepuk dahinya pelan.
keberuntungan untuk orlyn, ponselnya sama sekali tidak terkunci. dengan segera orlyn menyantumkan nomor ponselnya di ponsel yang ia yakini itu milik yang namanya renjun, lalu menyimpannya. setelah itu, orlyn langsung menelepon ke nomor ponselnya.
cukup lama tidak ada yang mengangkat sambungan teleponnya, orlyn pun mengakhiri panggilan itu. kecemasannya bertambah begitu melihat jam sudah menunjukkan pukul lima sore, lantas ia mencoba menghubungi nomornya kembali.
sambungan teleponnya kini sudah tersambung, itu berarti ada yang mengangkatnya.
“HANDPHONE GUEEEE!” orlyn merengek seperti anak kecil pada si penerima telepon.
ia sedikit lupa bahwa yang sedang memegang ponselnya itu adalah lawan jenisnya.
lama tak ada yang menyahuti, membuat orlyn bertambah kesal karna orang itu ―renjun,
sudah membuang waktunya.
“ck, lo dimana? handphone kita ketukar.”
setelah tahu dimana renjun, orlyn langsung bergegas ke tempat itu. bahkan, motor yang biasa ia pakai ke sekolah, ia titipkan ke satpam sekolah.
orlyn sengaja berjalan kaki untuk menemui renjun, lagi pula, tempat yang ditujunya gak terlalu jauh dari sekolah. berjalan di sore hari seperti ini adalah salah satu hal yang disukai orlyn, rasanya tenang begitu melihat langit yang mulai berwarna jingga itu.
“gila ya, ngapain coba sore-sore gini ada di jembatan tinggi gini?” orlyn menggelengkan kepalanya begitu melihat orang yang kemarin duduk disebelahnya yaitu renjun, sedang berdiri di sisi bagian pegangan jembatan.
“mana handphone gue?” pinta orlyn begitu sampai.
renjun menyodori ponsel milik orlyn, yang langsung di ambil orlyn.
“nih punya―
“gak usah, gak akan kebawa mati juga.” potongnya.
perkataan renjun sukses membuat orlyn melongo.
orlyn terdiam ditempatnya.
begitu atensinya ke arah renjun, ia terkejut setengah mati melihat renjun yang sudah berdiri di atas dinding pegangan jembatan yang mengarah ke jalan besar itu.
“udah 'kan? dah.” renjun melambaikan tangannya, setelah itu ia menjatuhkan tubuhnya dari atas jembatan.
bruk
“LO GILA YA?!”
to be continued.
KAMU SEDANG MEMBACA
Retak
Fanfiction[15+] Dua orang remaja yang memiliki jalan hidup berliku ini dipertemukan. Seperti sudah menjadi takdir untuk Renjun, bahwa ia dikirimkan perempuan bernama Orlyn untuk menjaganya dan dijaganya. Ketika Orlyn berhasil menjaganya untuk tetap hidup, a...
