Seperti Bintang (2)

37 4 4
                                        


Kala malam menyelimuti bumi, memperlihatkan kembali bintang-bintang dan bulan purnama yang begitut elok untuk dipandang. Membangunkan kembali jangkrik-jangkrik untuk bersuara riuh. Angin malam begitu dingin setiap hembusnya menyapukan sembarang rambut Ayrin yang sedang duduk diteras, tetapi itu tidak membuat Ayrin merasa tergangu. Ia terus saja termenung entah apa yang sedang di pikirkannya saat ini.

Ayrin terus diam membisu didalam kegelapan malam di temani suara jangkrik dan katak yang seperti sedang beradu suara. Pandangannya begitu kosong, tetapi ada ksedihan mendalam di matanya. Tanpa ia sadari air matanya mengalir.

“Ayrin!” panggil Jane, dan duduk di sebelah Ayrin.

Mendengar Jane memanggil namanya, Ayrin langsung menghapus air matanya agar Jane tidak melihat kalau ia sedang sedih. Tapi, tetap saja sebuah kesedihan pasti akan memiliki bekas walaupun sudah dihapus.

“Hey!! kamu kenapa?.” Tanya Jane kepada adiknya dengan lembut. Jane kalau melihat adiknya sedang sedih ia akan sangat khawatir dan akan berubah menjadi kakak yang sangat lembut dan cara bicarnya terhadap Ayrin juga akan berubah.

“Ayrin gak kenapa-kenapa kok.” Jawabnya sambil tersenyum kepada Jane.

“Kamu jangan bohong, kakak tau kalau kamu lagi sedih. Kamu cerita dong sama kakak jangan di pendam sendiri, kamu punya kakak untuk menceritakan semua kesedihan kamu.” Ucap Jane.

“Apa kamu sedang sedih karena Alex?” tebak Jane, dan tentu saja tebakannya benar.

Seketika Ayrin langsung mengeluarkan tangisannya. Jane langsung memeluk Ayrin dan mengelus-elus rambutnya, Jane tidak ingin adiknya merasa tidak memilki siapa-siapa disaat sedang sedih soal masalah cinta.karena Ayrin bukan tipe orang yang suka bercerita kepada orang tua prihal cinta. Ayrin lebih terbuka terhadap Jane, Randy dan sahabat-sahabatnya.

“Sudah kamu jangan sedih lagi. Cerita pelan-pelan ada masalah apa kamu dengan Alex sehingga membuat kamu sampai sedih begini?” Tanya Jane.

Awalnya Ayrin tidak mau untuk menceritakannya kepada Jane. Tapi, pada akhirnya Ayrin menceritakan semuanya kepada Jane.

“Dan Alex pasti sudah pulang ke Bandung.” Katanya sambil terisak.

“Kamu kenapa gak bilang?. Kalau bilangkan kamu bisa tinggal dan bertemu dengan Alex, dan gak bakal jadi sedih seperti ini.” Ucap Jane.

“Ayrin gak mau. Kalau Ayrin milih tinggal dan bertemu dengan Alex entar Ayrin gak bisa ngantar kak Jane dan kita pun nanti bakal jarang untuk bertemu. Sedangkan Alex belum tentu juga kan kalau Ayrin memilih tinggal kami akan bertemu.” Kata Ayrin.

“Tapi kan kita nanti pasti akan bertemu sedangkan dengan Alex belum tentu kamu akan medapatkan kesempatan untuk bertemu lagi dengannya.”

“Biarlah kak, yang terjadi biarlah terjadi mungkin ini sudah menjadi takdir yang tuhan berikan. Jika memang kami di takdirkan untuk bersama pasti ada jalannya dan seperti sebaliknya kalau kami bukan lah takdir pasti ada saja rintangan tuhan untuk memisahkan. Sekuat apapun aku berjuang mempertahankannya jika ia tidak mengetahuinya apalah guna semua perjuanganku selama betahun-tahun menunggu dirinya seperti apa yang telah aku janjikan kepadanya untuk setia menunggu dan menantinya. Tapi, mungkin ia sudah melupakan semua itu makanyaa dia tidak datang waktu itu.” Dengan lancarnya Ayrin berkata panjang lebarnya seperti diksi yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

“Dan aku selalu menganggap Alex seperti bintang yang kelak pasti dapat ku raih dengan perjuangan dan usahaku sejauh apapun itu. Tetapi, semua itu hanya ilusi saja namanya sebuah bintang tidak akan dapatku raih sekeras apapun itu. Bodohnya aku mempercayai kalau suatu hari nanti bintang itu akan dapat kuraih dan ku genggam.”

Endless Waiting Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang