Waktu sudah menunjukkan pukul 00.56 WIB, namun Eliza masih belum bisa untuk memejamkan matanya.
Ia hanya bisa menatap kosong pada langit-langit kamar tidurnya.
Masalah yang terjadi belakangan ini mulai memenuhi pikiran Eliza.
Bahkan, perkataan dari pendeta tadi masih terbayang olehnya.
Entah sekarang ia berpikir apakah ia masih bisa hidup di kemudian hari, atau mungkin..
akan mati.
Eliza pun bangkit dari tempat tidurnya, tubuhnya mulai gemetar dan kepalanya terasa sakit.
Ketakutan yang Eliza pendam kini terasa menyelimuti dirinya. Ia mulai membuka laci meja yang ada di sebelahnya dan mengambil sebuah kotak.
Di dalam kotak itu terdapat obat penenang yang Eliza sembunyikan dari ibunya selama ini.
Dia selalu meminum obat tersebut ketika merasa tertekan terhadap kejadian yang menimpanya.
Ketika mengambil 1 pil obat, Eliza termenung.
Mungkin 5 atau 6 akan menyelesaikan semuanya.
Entah apa yang di pikirkan Eliza itu sudah di luar kendalinya.
Jantungnya mulai berdebar dan keringat mulai membasahi wajahnya.
Seketika Eliza ingin memasukan semua pil penenang tersebut ke dalam mulutnya..
Ia melihat sosok hantu bermata bolong itu sedang mengintip di jendela kamarnya dengan mulut menyeringai.
Sontak Eliza terkejut dan menjatuhkan semua pil tersebut. Ia segera berdiri dan melihat lagi dengan jelas jendela kamarnya.
Namun sosok hantu itu tiba-tiba hilang. Eliza mulai melihat ke sekeliling kamarnya. Ia takut hantu itu bisa muncul kapan saja secara tiba-tiba.
"Nggak ada. Kemana hantu itu."
Hampir beberapa waktu Eliza siap siaga di dalam kamarnya. Nyatanya hantu itu tidak muncul.
Jantung Eliza yang tadinya berdegub kencang, mulai sedikit merasa lega.
Ia melihat obatnya yang terjatuh di lantai tadi dan memungutnya kembali.
Eliza memasukan kembali obat penenang itu kedalam botol dan hanya meminum 1 pil tersebut.
Dia membanting tubuhnya ke ranjang, dan mendekap erat bantal guling di sebelahnya.
Ahh.. Aku benar-benar sudah gila. Batinnya.
Waktu berlalu cepat, karena tadi malam Eliza sulit tidur dan terganggu
oleh hantu sial itu, sekarang ia harus terburu-buru berangkat kesekolah.
Ketika sampai ke depan gerbang sekolah. Satpam sekolah pun sudah menutup rapat gerbangnya.
Eliza ingat hari ini sekolahnya masuk 10 menit lebih awal dari hari sebelumnya. Tapi dia yakin walau gerbang sudah di tutup guru-guru pasti masih belum memasuki kelas.
Sial. Padahal gue cuman telat 2 menit. Gerutuh Eliza dalam hati.
Eliza bingung apakah ia harus masuk saja dan melapor pada guru piket atas keterlambatannya, atau lebih baik pulang ke rumah dan kembali beristirahat dirumah.
Jujur saja ia merasa sangat lemas dan mengantuk hari ini. Eliza masih merasakan efek dari obat penenang yang kemarin malam ia minum.
Tapi, Eliza juga tidak mau mencoreng reputasinya sebagai murid teladan yang tidak pernah absen dari kelasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Indigo
HorrorApakah kalian tahu rasanya menjadi berbeda diantara yang lain? Apalagi perbedaan itu bukan perbedaan biasa yang bisa semua orang miliki. Hal itulah yang dirasakan Eliza. Seorang gadis keturunan Inggris yang terlahir sebagai anak yang memiliki kemamp...
