Hidup perlu sejenak beristirahat dari segala rutinitas yang membuat penat. Terlebih dari rasa-rasa yang membuat pikiran terasa berat. Namun sekadar melakukan hal yang tak ada dalam rutinitas.
Sesekali kita perlu bertualang. Sekadar melihat pohon-pohon di pinggir jalan seolah berjalan mengikuti. Atau bukit-bukit nan hijau yang masih setia dengan senyumnya. Dan meninggalkan gedung-gedung serta kemacetan kota dengan suara klakson yang memekakkan.
Tak mesti ke gunung agar bisa dianggap penakluk gunung. Sebab sama seperti perempuan, gunung tidak diciptakan untuk ditaklukkan. Tak jua mesti ke pantai agar dianggap traveler. Atau berjam-jam di dalam Kafe agar tampak kekinian. Padahal yang dibeli hanya segelas kopi dan camilan ringan yang habis dalam beberapa menit. Sisanya hanya menumpang Wi-Fi gratisan. Atau ke bioskop agar tak ketinggalan zaman.
Setiap orang memiliki cara untuk melepas penatnya. Dan setiap orang tidak berhak menghakimi pilihan orang lain.
Jeda adalah berhenti sejenak. Berhenti dari hal-hal yang penat. Barangkali dalam hal ini pelesiran menjadi pilihan. Namun yang perlu diingat, jeda dengan pelesiran bukan ajang membuat foto terbaik. Sebab, terlalu sibuk memotret hanya akan membuat kita kehilangan makna pelesiran itu. Bukan mendapat ketenangan malah sibuk memikirkan cara untuk nge-hits.
Berhentilah!
Jangan melakukan sesuatu hanya untuk mengubah pikiran orang lain mengenai ketidakmungkinan atas dirimu. Karena tingkat kepuasan hanya sampai pada pengakuan orang lain tentang kemungkinan yang telah kau menangkan. Lakukanlah apapun demi kau (dan orang-orang yang tersayang). Kelak, tak akan mudah bagimu berpuas diri akan hasil yang telah diraih. Dan kau akan terus berkembang, tidak stuck pada tahap awal. Sungguh, sejatinya hidup tidak untuk mencari dan mendapatkan pengakuan dari orang lain.

KAMU SEDANG MEMBACA
NOVEMBER (Prosa)
RomanceSebab waktu di sepanjang November yang basah, menggeliatkan rindu yang resah. Dan hujan adalah lorong waktu bagi para penjelajah amygdala.