Katanya, move on harus dimulai dari mencari pengganti sang kekasih. Pernyataan ini tak seutuhnya benar. Meski tidak juga disalahkan.
Move on bukan tentang melupakan. Yakni tentang penerimaan. Sebuah penerimaan terhadap apa yang Tuhan kehendaki. Ubah cara berpikirmu. Jangan lagi berpikir bahwa kau tak akan hidup jika tanpanya atau kau akan minus jika tanpanya. Benar, memang keseharianmu akan berubah setelah ia pergi. Kau hanya butuh waktu untuk terbiasa. Semuanya akan kembali normal.
Melangkahlah.
Yakinkan dirimu bahwa kepergiannya adalah jalan Tuhan mempertemukanmu dengan dia yang lebih baik. Tuhan tak hanya menciptakan satu perempuan baik yang layak kau nikahi. Sekali lagi, ubah anggapanmu. Buka mata dan hatimu. Ikhlaslah. Bukankah kau percaya bahwa Tuhan Maha Tahu apa yang terbaik untukmu? Jika hari ini dia memilih pergi, barangkali inilah cara Tuhan memberitahumu bahwa ia tak cukup baik untukmu.Atau barangkali kesalahan ada pada dirimu. Kau yang membuatnya tampak tak baik di hadapan Dia. Mengertilah, setiap kebahagiaan Tuhan berikan agar Dia tahu bagaimana caramu bersyukur pada-Nya. Seringkali manusia lupa. Dihadapkan dengan kebahagiaan justru menjadikannya sombong dan enggan menyadari bahwa kebahagiaan perlu disyukuri.
Sekarang, tak perlu kau ratapi. Bangkitlah. Memintalah kepada-Nya agar kau dipertemukan dengan yang terbaik. Jika memang yang terbaik adalah (mantan) kekasihmu, kelak kau akan dipertemukan dengannya kembali saat telah sama-sama baik.
Kuncinya hanya satu; ikhlas. Percayalah!

KAMU SEDANG MEMBACA
NOVEMBER (Prosa)
RomantizmSebab waktu di sepanjang November yang basah, menggeliatkan rindu yang resah. Dan hujan adalah lorong waktu bagi para penjelajah amygdala.