Ibu, aku merantau
Pada malam pertama
Kupijakan kaki dalam
Ruang putih yang tak terlalu
Besar itu, kurapatkan diriku
Pada dindingnya yang dingin
Sebab terpapar pendingin ruangan
Ingatan akan kampung halaman
Menggelayuti diriku yang pertama
Kalinya angkat kaki dari rumah dalam
Kurung waktu yang cukup lama,
Ataukah aku tak akan kembali
Lagi dan menetap di kota orang?
Masih ku ingat betul di setiap pagiku
Suara merdumu menarikku
Kembali pada dunia nyata setelah
Bergumul dengan imajinasi yang
Tercipta oleh alam bawah sadar,
Kini tergantikan oleh suara ponsel
Bahkan pernah diri ini melewatkan
Serangkaian ritual pagi lamaku
Karena terlalu nekat untuk mengikuti
Rasa kantuk yang sialnya menjelma
Menjadi penggoda selalu membuai
Setiap fajar menyingsing di ufuk timur
Dulu aku selalu mendambakan
Kota orang untuk kujadikan
Tempat bernaung, entah karena
Apa diriku sempat berasumsi
Bahwa jauh dari rumah adalah
Cara terbaik untuk melanjutkan hidup
Namun ketika sang Kuasa mengabulkan
Keinginanku itu, justru rasa ingin menetap Pada rumah semakin menyeruak dan aku Sempat merasa putus asa untuk Menyambung sejuta impian tetapi
Tak ada jalan lain yang dapat ditempuh
Ibu, aku merantau
Di kota orang kini aku bernaung
Menyandarkan harapan dan cita-citaku
Yang selalu kau setujui atau mungkin
Sebenarnya kau sempat memberontak
Dalam hati yang kau simpan sembunyi-Sembunyi, maaf aku tak pernah tahu
Setiap doa yang kau rapalkan dengan
Namaku yang selalu disebut di dalamnya
Tersisip dalam setiap jejak langkahku
Mengantarku pada impian yang entah
Bagaimana dapat terealisasikan di ujung
Hari pembayaran seluruh usahaku
Aku ingin melihat senyum bahagiamu
Kala toga tersampir di atas kepalaku
Dan gelar sarjana tersemat pada akhir
Namaku yang kau buat dengan harapan-
Harapan besar bagi keluarga karena
Aku satu-satunya yang dapat diunggulkan
Ibu, aku merantau
Tunggu aku kembali dengan seluruh
Timbal balik dari tetesan peluhmu
Yang menghiasi wajah untuk menghantarku
Menjadi insan yang berguna bagi sesama
Dan membawa nama keluarga dalam
Kehidupan untuk selanjutnya
ㅡhelindya,
26/10/18
Dalam perantauan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bungkam
ŞiirKarena saya hanya bisa diam. #112 in poetry January, 13 2017 © helindya 2016
