Ferdin berlari sekencang-kencangnya menghindari semua gadis di sekolah barunya yang mayoritas kebanyakn fans-nya. Matanya menyapu sekeliling sekolah mencari suatu tempat untuk memuat dirinya agar bisa bersembunyi. Setelah sekian menit mencari, mata Ferdin tertuju pada suatu lorong yang menembus entah kemana. Dilangkahkan kakinya itu ke lorong tersebut, bersembunyi di bagian dalamnya, yang ternyata pelataran parkir sekolah barunya.
Ferdin bersembunyi di sisi kiri. Dia meluruskan kakinya yang terasa capek akibat lari barusan. Nafasnya pun berusaha ia kontrol agar bisa normal kembali. Ferdin mengambil hp di saku celananya. Menekan tombol dial up pada suatu nomor. Setelahnya di tempelkan hp-nya itu di telinga kirinya. Beberapa detik menunggu sambungan, seseorang yang di teleponnya pun menjawab.
"Beno, cepat lo jemput gue di sekolah baru gue! Sekarang!" perintah Ferdin tanpa basa-basi lagi. Setelah diakhiri panggilan, Ferdin kembali memasukkan hp-nya.
Ferdin kembali menyapu sekelilingnya. Kali saja ada yang berhasil mengetahui persembunyiannya.
Di sisi sana, seorang gadis melangkahkan kakinya yang mulai tercapek akibat lari tadi dengan langkah yang gontai. Dia mengatur nafasnya sejenak. Matanya menjelajah ke sekitar lorong yang terhubung dengan pelataran parkir, tempat di mana motor matic-nya diparkir. Tiba-tiba mata gadis menemukan sepasang kaki melurus dengan jenjangnya. Mengingatkan dirinya dengan celana yang membaluti kaki orang tersebut.
"Hyaaaa.. Ketauan nih ya lagi ngunpeeeet.." ledek gadis itu seraya dengan sebuah cengiran terlukis di wajahnya.
Ferdin membulatkan matanya dan berbalik tubuh menghadap gadia itu. "Ngapain lo ke sini?" tanya Ferdin pada gadis itu. Ferdin melihat name tag yang terbordir di baju bagian dada sebelah kanannya.
"Huahahaha..." Ferdin tertawa ngakak melihat tulisan itu membuat gadis itu mengernyit dahi.
"Nama lo bener Estelleria Manisya?" tanya Ferdin membaca nama gadis itu masih tetap setia dengan tawanya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya mendengar namanya seperti diejek.
"Panggil aja Estell.." seru gadis itu menyebut nama panggilannya.
"Kenapa gak di panggil esteller aja? Atau gak teller nya doang juga gak apa-apa?" ledek Ferdin lagi semakin membuat bibir gadis itu mengerucut.
"Udah ah jangan ngeledein mulu. Mau gue panggilin para fans lo apa hmm?" ancam Estell menghentikan tawa Ferdin yang dari tadi terus terdengar. Estell pun tersenyum penuh kemenangan.
"Eh gue nanya, ngapain lo di sini?" tanya Ferdin ingat akan pertanyaannya tadi yang belum terjawab.
Estell menyengir, membuat Ferdin mencibir kesal melihat senyuman jeleknya itu.
"Eh Fer, sini deh." seru Estell yang lagi-lagi mengabaikan pertanyaan Ferdin. Ferdin menaikan sebelah alisnya.
Estell memberikan isyarat pada Fersin untuk melangkahkan kakinya mendekat ke arahnya. Tak tau kesambet dari mana, Ferdin langsung mengikuti intrupsi Estell.
Plakk!!
Tamparan keras berhasil mendarat mulus di permukaan wajah Ferdin. Ferdin meringis memegangi pipinya yang mulai memerah. Matanya melotot ke arah Estell yang hanya membalas dengan tatapan datar. Bahkan tak merasa bersalah sedikit pun.
"Sakit gak?" tanya Estell masih setia dengan muka datarnya.
Ferdin semakin melototi Estell dalam, merasa sebal dengan pertanyaan Estell yang terdengar bodoh. Udah tau ditampar, ya pasti sakitlah. Dasar cewek edan.
"Lo pake nanya sakit apa nggak?!" bentak Ferdin.
"Ya kalau sakit berarti gue lagi gak mimpi." sahut Estell datar.

KAMU SEDANG MEMBACA
Actor in My School
Teen FictionEstell itu cewek gila! heboh! dan juga gak tau malu! hari pertamaku di sekolah baruku saja berkesan dengan memalukan karena kecerobohannya. Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi. Tapi ternyata takdir berkata lain. Aku harus akan terus bersamanya...