bab 1

10.5K 407 29
                                    

"Pokoknya aku nggak mau tahu ya mas, mulai besok kamu harus cari kerja lagi !! Aku lelah jika harus selalu aku yang dipusingkan dengan segala kebutuhan kita."

"Iya, ini aku juga berusaha tanya sana sini , berusaha cari info lowongan."

"Nggak usah pilih-pilih kerjaan lah mas !! Yang penting halal , nggak harus kerja kantoran."

"Aku sarjana, malu lah kalau harus kerja asal-asalan .."

"Lebih malu mana dengan nganggur 6 bulan lebih dan hidup tergantung dari pemasukan istri ??"

Nada suaraku mulai meninggi. Niat awal untuk bicara baik-baik lenyap sudah dimakan emosi.

"Jadi kamu nggak ikhlas punya penghasilan untuk mencukupi kebutuhan kita? Sekarang kamu mulai perhitungan ya Tha,"

"Astaga siapa yang hitung-hitungan si mas .. aku cuma pengen kamu kerja lagi,
Ah sudah lah .. percuma ngomong sama kamu."

"Iya iya .. !!"

BRAKK !!!

Bantingan pintu lagi. Selalu begitu .. selama 3 bulan terakhir ini pertengkaran selalu mewarnai hari-hari pernikahan kami, lelah jangan ditanya, aku lelah lahir batin. Semenjak Mas Adit di PHK dari kantornya yang otomatis semua kebutuhan rumah tangga ini harus ditanggung dari penghasilanku yang tidak seberapa.

Awal terkena PHK aku masih berusaha mengerti, memang jaman sekarang sangat susah untuk mencari pekerjaan baru.
Setelah 3 bulan menganggur keletihan itu mulai terasa. Aku harus memutar otak setiap hari agar  penghasilanku cukup untuk kebutuhan kami. Jangan sampai berhutang. Itu prinsipku.

Dan sekarang Mas Adit sudah menganggur lebih dari 6 bulan. Bukan aku tak ikhlas, penghasilan sebagai karyawan administrasi sebuah pabrik tak cukup besar untuk semua kebutuhan kami. Cicilan Rumah , biaya listrik , PDAM , makan sehari-hari kami dan masih banyak kebutuhan lain yang pasti semua emak - emak di dunia tahu gimana pusingnya mengatur keuangan ketika tanggal yang katanya muda itu datang .Tanggal yang mengartikan penghasilan masuk diiringi rentetan tagihan-tagihan lain yang mengikutinya.

Untung kami belum dikaruniai anak. Hah !! Untung ?? Sungguh ironis sekali .. disaat diluar sana banyak sekali pasangan menikah yang mendambakan segera dikaruniai momongan, aku malah bersyukur karena belum mendapatkannya.

Bukan aku tak ingin, hanya saja rasanya aku tak siap saat kondisi keuangan kami seperti ini jika harus mengandung atau punya anak.
Keuangan morat marit, kadang bahkan aku cukup makan 1x sehari di pabrik. Jatah makan yang memang di dapatkan semua karyawan. Pagi dan malam cukup air putih atau roti atau apapun yang penting bisa mengganjal perut. Jika ada yang bertanya kenapa aku kurusan, akan ku jawab DIET. Diet yang terpaksa lanjutku dalam hati.

Jika ada penceramah yang tahu isi hatiku ini mungkin aku akan di ceramahi tujuh hari tujuh malam tentang anak yang adalah rejeki, bla bla bla ...

Hahahaha ,, mereka tak tahu saja bagaimana rasanya menjadi aku.
Punya suami sarjana yang gengsinya setinggi langit di angkasa.
Mas Adit harusnya sudah bekerja kembali andai saja dia menerima tawaran pekerjaan apapun yang masuk.

Sarjana pemilih itu selalu saja ada alasan untuk tak mengambil kesempatan yang di dapatkannya.
Yang gajinya terlalu kecil lah, yang kantornya terlalu jauh lah, yang kantornya kurang bonafid lah, dan segunung alasan - alasan lain yang kadang malah membuatku semakin tak berselera makan.

Pernah aku menawarkan padanya untuk ngojol (ngojek online) sambil menunggu pekerjaan yang cocok, lalu apa yang aku dapatkan ?? Bantingan gelas !!
Yahh .. gelas kopi yang aku hidangkan pagi itu pecah di lantai. Malang sekali nasib gelas itu ..
Mungkin besok - besok cukup kusediakan kopi dalam gelas plastik untuk berjaga - jaga seandainya kami bertengkar dan Mas Adit kehilangan kendali emosinya lalu membanting gelas lagi. Sayangkan kalau harus keluar uang untuk membeli gelas baru ??
Duh, sepertinya jiwa perhitunganku sudah level akut. Terlalu lama berhemat membuat kalkulator dalam otakku selalu berhitung untung dan rugi.

Setelah pertengkaran yang akhir-akhir ini seperti menjadi rutinitas kami, dia langsung keluar kamar. Paling - paling ngerokok di teras samping seperti kebiasaan nya selama ini.
Yang bahkan rokok itupun dibeli dari memotong jatah uang makan kami.
Huffhttt...
Semenjak mengganggur Mas Adit jadi perokok. Jika dulu rokok hanya untuk selingan biar nggak malu kalau sedang berkumpul dengan teman-temannya, sekarang sebungkus rokok selalu habis setiap hari.

Ahh embuhlah.. lebih baik aku menelpon ibu. Biasanya disaat hatiku kacau hanya suara lembut ibu yang bisa meredamnya.
Kuambil ponselku yang masih tersimpan di bawah bantal.

"Halo Assalamualaikum ..."

Suara lembut ibu terdengar setelah dering ketiga.

"Wa'alaikumsalam Bu.."

"Kenapa nduk ? Sehat - sehat saja kan ?"

"Alhamdulillah, Pitha sehat Bu, ibu sama bapak sehat?"

"Alhamdulillah bapak sama ibu sehat sehat juga nduk. Bapak lagi dikolam ngelihat lele , katanya mau ada pembeli yang datang. Kok belum berangkat kerja kamu nduk ? Biasanya jam segini kamu dah berangkat tho.."

"Hari ini Pitha berangkat agak siang Bu, mau ke bank, ada yang mau di urus.
Firman sekolah nya gimana Bu ? Maaf ya Bu, Pitha belum bisa kirim uang buat bantu sekolah Firman."

Dulu saat Mas Adit masih bekerja, setiap bulan aku masih bisa kirim uang untuk membantu sekolah adikku, Firman.

"Halah, ngomong apa to kamu nduk .. bapak sama ibu kan sudah bilang, kamu nggak usah mikirin sekolah nya Firman. Bapak sama ibu masih sanggup. Kemarin adikmu itu malah dapet beasiswa lagi. Wes, kamu nggak usah mikirin itu lagi. Bapak sama ibu masih sanggup nyekolahin Firman. Wong ini Alhamdulillah usaha lele bapak lancar terus, warung kecil ibu yo Alhamdulillah rame.
Lha ini mas mu Adit kemana ? Opo dah kerja lagi ??"

"Alhamdulillah Pitha seneng dengernya Bu,, Mas Adit lagi keluar bu. Mungkin lagi nyari info kerjaan ke temennya". (Bohong untuk kebaikan nggak dosa kan ?!)

"Ibu do'akan semoga Adit segera dapet kerjaan, terus kalian yo segera punya momongan. Sudah setahun lebih lho nduk kalian nikah, ibu dah pengen nggendong cucu. Kemarin ibu main ke rumah bulek Ning, Watik dah lahiran. Ngelihatnya bayi itu kok ibu yoo kepengen.."

"Nggeh Bu, selalu do'akan Pitha sama Mas Adit ya Bu ..
Bu, sudah jam setengah delapan, Pitha mau siap - siap dulu."

Terpaksa aku hentikan cerita ibu, aku nggak sanggup seandainya ibu tahu kalau aku belum siap punya anak dalam waktu dekat ini.

"Iya nduk , ibu selalu mendo'akan yang terbaik buat kalian. Jangan lupa sholat nya di jaga. Kerja nya juga hati - hati.."

" Nggeh Bu, salam buat Bapak sama Firman. Pitha tutup nggeh Bu,
Assalamualaikum.."

"Wa'alaikumsalam.."

Suara ibu yang lemah lembut selalu bisa menyejukkan hatiku .. itulah kenapa setiap aku kacau aku selalu menelepon ibu.
Yang meskipun aku tak bisa berbicara lama karena aku takut ibu tahu kegundahan hatiku.

Meski sering menelpon beliau, tapi tak pernah ku ceritakan masalahku dengan Mas Adit. Aku nggak mau kalau beliau jadi cemas dan ikut kepikiran.

Mungkin sebenarnya ibu menyadari kacaunya perasaanku, tapi ibu memilih untuk tidak bertanya, beliau sangat bijaksana untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga anaknya.

Kuletakkan ponselku di nakas dekat ranjang. Aku harus segera mandi dan bersiap-siap. Lebih cepat berangkat lebih baik. Sumpek juga lama-lama di rumah.

Tbc.

Ini cerita pertamaku. Sebelum ini aku belum pernah sama sekali menulis . Jadi untuk EYD , plot hole dan lain lain yang seharusnya di perhatikan dalam penulisan aku tidak paham sama sekali.
Tulisan acak kadul ini untuk memeriahkan anniversary GWT yg ke 2
Grup Watty Titi (GWT) adalah grup WhatsApp buat penggemar tulisan otor menjelang pemes sanarialasau
Bahagia bisa bergabung di grup itu . Bisa mengenal teman dari berbagai kota di Indonesia ..
GWTers... Aku sayang kalian 😘😘

BAHTERA !!! (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang