Kandunganku sudah memasuki usia 9 bulan, HPL perkiraan dari dokter 2 minggu lagi. Ahh rasanya nggak sabar menanti kelahiran dedek. Dari hasil pemeriksaan USG jenis kelaminnya perempuan. Jadi kami mempersiapkan pernak pernik bayi yang berwarna ungu, warna favoritku.
Mas Adit lebih antusias membeli perlengkapan bayi dari pada aku, bahkan kalau nggak di larang dia juga mau membeli sepeda mini roda 3 buat dedek. Yang benar saja....
Mas Adit sudah menelpon ibu di Wonogiri untuk datang kesini membantu merawat dedek kalau sudah lahir. Kami berdua minim pengalaman merawat bayi jadi meminta beliau untuk membantu. Rencananya ibu datang 2 hari lagi, bapak sama Firman adikku juga mau ikut.
Usaha Mas Adit berjalan dengan lancar, Alhamdulillah. Meski kami sempat terpuruk juga beberapa bulan lalu karena karyawan yang kami percaya mengambil uang pendapatan secara diam-diam.
Awalnya kami tidak tahu karena dia sangat pintar. Nominal yang dia ambil tidak besar tapi dilakukan setiap hari. Untunglah segera ketahuan saat aku turut membantu mengecek laporan keuangan bulanan yang terasa aneh karena customer ramai tapi kok keuntungan sedikit.
Karyawan itu menangis dan mengakui perbuatannya saat kami mengancam akan membawa kasus ke polisi. Kami memaafkan karena kasihan, karyawan itu anak perantauan. Tapi kami juga memecatnya saat itu juga. Semoga dia benar benar melakukannya karena terpaksa dan tidak mengulangi perbuatannya di tempat kerja yang lain.
Sore ini aku dan Mas Adit sedang bersantai sambil menonton televisi. Menonton pertandingan bola voli Proliga. Sambil menonton televisi tangan Mas Adit tak berhenti menyuapiku dengan potongan buah. Ternyata jadi ibu hamil itu sangat menyenangkan. Dimanja manja, kadang di pijit kadang di suapi semua permintaan juga di turuti.
"Mas, kadang kadang kok aku ngerasa kangen kerja yaa..."
Pasca aku pingsan di Kantor itu Mas Adit memintaku resign, dan aku menurutinya karena aku pikir itu juga untuk kebaikan dedek.
"Kangen kerja apa kangen Diga?" Nyinyirnya.
"Ish nyambungnya kesana lagi kesana lagi,"
"Aku masih ingat Tha waktu malam perpisahan kamu di rumah makan Saraswati itu, disana dia bentar bentar nglirik kamu. Jadi pengen nyongkel matanya."
Kuputar bola mataku, kadang cemburu memang membuat pikiran tidak logis.
"Perasaan situ aja kaleeeekkkk....." Candaku.
Mas Adit berdecak sebal. Lagian cemburu sama Mas Diga kok nggak ada habisnya, heran aku. Semenjak resign aku juga nggak pernah bertemu dengannya. Paling kadang say hai aja di grup chat kantor karena memang aku nggak boleh keluar dari grup chat.
"Eh Mas, kenapa sii hubungan Mas sama Mas Roni itu bisa nggak dekat begitu, kalian kan cuma beda 3 tahun ?" tanyaku mengeluarkan uneg-uneg yang aku rasa janggal selama ini.
"Ya siapa suruh dia nikah sama mantanku,"
Mataku melotot kaget, "MANTAN ??!!"
Mas Adit membekap mulutnya, woowww dia keceplosan ternyata.
"Jadi Mbak Wina itu mantanmu ?"
"Yaaa... Mantan waktu masih SMA, udah lama banget tapi jadinya kalau ketemu rada rikuh makanya jadi jauh,"
"Yakin karena itu ? Bukan karena belum move on ?"
Bibirku merengut tanda sebal. Fakta yang baru aku ketahui ini benar-benar menyebalkan.
"Ya enggak dong sayang, kan sekarang udah punya kamu Tha,"
"Ya tapi... ADUH !! Mas kok perutku sakit yaaa," kataku sambil meringis mengelus elus perut.
"Sakit banget ya Tha, aduh gimana ini aku telpon ibu ya ... apa panggil tetangga ? Apa tanya Wina dulu ya ?" Mas Adit bicara sambil mondar mandir malah membuatku semakin pusing.
"MAS STOP !!! Nyalain mobil aja kita ke Rumah Sakit. Bawa tas yang udah aku siapin," kataku sambil terus mengelus perut.
Seharusnya aku yang panik tapi kenapa malah dia sii.
***
Hahhhaa ... Aku nggak tau yaa kenapa malah nulis ini. Tiba tiba kepikiran ajja tadi 😂😂😂
KAMU SEDANG MEMBACA
BAHTERA !!! (Completed)
Storie d'amoreMenikah dengan cinta tak selamanya berjalan dengan bahagia .. selalu ada jalan terjal dan penuh liku !! ini kisahku... Cerita ini dibuat untuk meramaikan anniversary GWT yang ke 2. Selamat membaca 😊😊
