chapter 17

353 48 2
                                        

Jihyo menatap wanita di hadapannya, gadis itu harus rela meninggalkan kasurnya. Susah-susah Jihyo ke sini. Jangan tanya bagaimana pengorbanannya, dia harus berjalan dengan tiga kaki.

"Aku sibuk jadi langsung saja katakan apa mau mu."

Wanita itu masih diam dengan senyumnya dan tatapannya. Jihyo benar-benar benci tatapan itu. Jadi gadis itu mengalihkan atensinya, tidak mau bertemu pandang dengan wanita dihadapannya.

"Aku kasian kepadamu." Wanita itu memandangi Jihyo dengan senyum mengejek. Jihyo benar-benar merasa dihina sekarang, tapi dia harus bersabar bukan. "Kau tidak perlu mengasihani ku!" geram Jihyo menggenggam erat tongkatnya.

"Kau terlalu emosional ya," ucap wanita itu menendang tongkat Jihyo. Senyum wanita itu semakin mengembang saat Jihyo terjatuh. "Kalau sudah cacat lebih baik diam saja dirumah," ejek wanita itu meninggal Jihyo yang merangkak untuk meraih tongkatnya.

Dah detik berikutnya Jihyo berhasil bangkit, gadis itu pergi dengan mata berkaca-kaca. Semua orang pasti merasa sakit hati jika mendapat ejekan seperti itu, bersyukur Jihyo masih memiliki kewarasan untuk tidak membunuh wanita itu.

"Are you okay?" Tanya gadis berambut pirang kepada Jihyo. Jihyo hanya diam lalu masuk kedalam mobil. "Ingin kemana?" Tanya gadis berambut pirang.

"Rose, bawa aku ke taman."

"Kau baik-baik saja?" Tanya Rose menatap serius Jihyo. Tapi Jihyo hanya menampilkan senyumnya, tidak berniat menjawab pertanyaan itu. "Sedang dalam suasana hati yang buruk ya?" Rose tersenyum tipis.

Gadis itu mencari sesuatu dalam tasnya. "Ini makanlah," ucap Rose menyodorkan sebuah coklat.

"Untuk ku?"

Rose mengangguk membiarkan Jihyo menerimanya. Dan Rose tersentak saat Jihyo menangis, gadis itu memakan coklat sambil terus menangis. Rose jadi panik sendiri melihat Jihyo menangis.

"Kaki mu sakit?" Tanya Rose dengan paniknya. Sedangkan Jihyo masih setia dengan tangisannya. "Coklatnya enak," ucap Jihyo tersenyum tipis.

Rose mendesah lega lalu melajukan mobilnya. Jihyo hanya menatap jalanan, rasanya sudah lama dia takut keluar jika tidak ada Chanyeol atau Sehun.

"Ini kantor bukan taman," ucap Jihyo menatap gedung di hadapannya. Rose mengangguk membenarkan, karena dia memang tidak membawa Jihyo ke taman. "Ini kantor Sehun," ucap Rose keluar dari mobilnya.

Jihyo hanya mengikuti kemana Rose melangkah. Hingga mereka berhenti didepan sebuah ruangan, Jihyo hanya menatap Rose dengan tatapan bertanya-tanya.

"Masuklah aku tunggu disini."

Jihyo hanya menurut, dia masuk mendapati Sehun duduk di kursi ke bangganya itu. Jihyo bisa melihat jelas 'Direktur utama Oh Sehun'.

"Kenapa menyuruhku kesini?" Tanya Jihyo langsung. Dia benar-benar tidak mau membuang-buang waktunya, Sehun hanya menghela nafas lalu bangkit dari duduknya. "Kembali kuliah," ucap Sehun dengan penuh penekanan.

"Apa hak mu menyuruhku?" Sinis Jihyo.

Sehun hanya menghela nafas panjang, ketara sekali sedang menahan amarahnya. "Jika kau tidak kuliah kau akan terus menemui wanita itu," ucap Sehun dengan tatapan dinginnya.

My Sweet Dosen Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang