Jihyo bangun mendapati Sehun duduk di sofa. Semalam pria itu menghabiskan malam menemani dan mendengarkan keluh kesahnya. Sehun yang semalam benar-benar lebih baik. Jihyo merasa lega memiliki teman menangis semalam, pria itu menyuruh Jihyo untuk tidak menangis padahal pria itu juga menangis.
"Kau sudah bangun?" tanya Sehun. Jihyo hanya menganguk untuk menjawab pertanyaan retoris Sehun. Pria itu bangun lalu melipat selimutnya. "Ingin bercerita lagi?" Tanya Sehun
"Aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya."
"Mandilah dulu aku akan menunggumu dibawah."
Sehun keluar dari kamarnya mendapati Rose dengan raut kesalnya. "Kau tidak mengantarkannya pulang?" Tanya Rose.
"Tidak, lagi pula kami hanya sekamar tidak seranjang. Jadi buanglah pikiran buruk mu itu."
"Sehun!"
"Sssttt, kecilkan suara mu jika tidak ingin aku tendang keluar," sinis Sehun.
Rose berdecak sebal berjalan menuju dapur. "Siapa yang menyuruhmu menyentuh dapurku?" Tanya Sehun.
Rose merotasi kan bola matanya jengah. Berbuat baik pada seorang Oh Sehun itu memang sulit, jika bisa ingin rasanya Rose menenggelamkan Sehun. Cara berbicara dan menatap Sehun itu benar-benar mendefinisikan arogansi.
"Aku hanya ingin membuat sarapan untuk Jihyo," ucap Rose dengan santainya.
Sehun tersenyum tipis, "Tidak usah repot-repot. Aku akan sangat senang jika kau diam saja," sinis Sehun.
Rose menatap Sehun tidak percaya. Ayolah pria itu lebih angkuh dari yang ia pikirkan. Sehun memang tidak tahu cara menghormati ya, benar-benar pria yang menyebalkan.
"Ada apa?" Tanya Jihyo yang entah sejak kapan sudah turun.
"Aku hanya datang untuk memastikan manusia ini tidak berbuat cabul pada mu," ujar Rose dengan senyum.
Jihyo menatap Sehun sambil menahan tawanya. Sedangkan Sehun ketara sekali menahan amarahnya. Rose tertawa kecil menyadari hal itu, menjahili Sehun seperti hal mudah.
"Yak! Siapa yang kau bilang cabul?" Kesal Sehun.
"Aku tidak bilang jika itu kau, tapi tampaknya kau merasa begitu."
Jihyo hanya tersenyum lalu menatap Sehun. "Sudahlah kalian seperti anak kecil saja," ucap Jihyo.
"Sehun yang seperti anak kecil," sungut Rose
Jihyo mengangguk mengiyakan ucapan Rose. Sehun tidak protes tangan bergerak mengambil dua lembar roti. Sedangkan Jihyo mengambil alih roti ditangan Sehun, gadis itu mengoleskan selai coklat lalu memberikan pada Sehun.
"Makanlah," ucap Jihyo dengan senyumnya.
"Jihyo aku baru sadar sesuatu," ucap Rose.
Jihyo menoleh dengan sebelah alis yang terangkat. "Kau sudah bisa berjalan?" Tanya Rose memastikan
"Rahasiakan ini," pinta Jihyo.
"Termasuk Chanyeol," lanjut Sehun
Rose mengangguk lalu menggenggam tangan Jihyo. Gadis itu mengelus punggung tangan Jihyo. Jihyo tersenyum tipis lalu menatap Sehun. Pria itu masih sibuk memakan rotinya, Sehun selesai menghabiskan rotinya, pria itu menatap Jihyo dengan tatapan lembut.
"Aku yakin kita bisa mengatasi semuanya," ucap Sehun dengan penuh keyakinan. Jihyo mengangguk setuju begitupun dengan Rose. Mereka hanya perlu saling menyemangati dan saling bersatu. Ponsel berdering membuat atensi mereka tertuju pada Jihyo. Bahkan tatapan mata Sehun seolah bertanya. Tapi Jihyo memilih diam dan menerima panggilan. "Halo, ada apa oppa?" tanya Jihyo.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Sweet Dosen
FanfictionDosen killer tapi bikin nyaman -PJH Murid bodoh dan menjengkelkan ya cuma kamu tapi saya suka -OSH
