Aku berada diantara kenangan indah yang telah dibuat. Ditepi danau ini, Kinanti menyanyikan lagu kesukaanku.
Ah.. kenapa aku tidak hubungi dia, pikirku.
Ada sedikit rasa ragu untuk mengabari. Takut akan kabar buruk yang justru menimpa. Tapi aku percaya, jodoh tak akan kemana. Ya... hanya saingannya saja dimana-mana.
Hari ini Kinanti berulang tahun. Aku sudah merencanakan pesta kecil untuknya. Semoga saja dia suka.
Sedikit rasa canggung, kuberanikan diri untuk menelponnya.
Ayo angkat Kin...
Angkat...
Ah... Diangkat
"Assalamualaikum Kin? Selamat ulang tahun"
Hatiku sungguh berdegup kencang. Tak sabar untuk berjumpa dengannya.
"Pawas? Itukah kamu?"
Masih ku ingat suara Kinanti. Dan ah... Aku sungguh rindu.
"Haha, iya. Maaf aku baru pulang dari Amerika"
Hening
Hening
Terdengar Isak tangis.
"Pawas! kemana saja kau?!"
"Kenapa Kin? Kau menangis?"
Tak ada jawaban atas pertanyaanku. Aku sangat khawatir.
"Jawab aku!"
Apa? Kenapa dia membentak ku? Tapi ya.. aku memang bersalah karena pergi darinya tanpa pamit.
"Aku minta maaf, aku bekerja di Amerika"
"Lalu!?"
"Lalu?, Apa maksudmu? Apa kau baik-baik saja?"
"Apa kau pikir aku baik-baik saja?"
"Kin, hey... Kamu kenapa? Kau menangis? Cerita padaku."
"Ya! Aku menangis! Jika aku cerita padamu kau akan melakukannya!?"
"Melakukan apa?"
"Bisakah kau membawaku lari dari rumah?"
"Apa?? Kau kenapa?"
" Pawas.. aku dijodohkan!!"
"Apa katamu?"
"Aku di jodohkan!!"
Dijodohkan?? Kinanti kau dijodohkan? Apakah aku terlambat datang kemari? Apa ini nyata? Apakah aku sedang bermimpi?
Belum sempat aku berkata, telpon dimatikan. Dijodohkan?
Dijodohkan?
Dijodohkan?
Kata itu terus terngiang dalam pikiranku. Entah sejak kapan aku merasa sesak. Lemas. Terjatuh.
Kupandangi danau ini. Sunyi... Hanya embusan angin yang menyesakkan. Telpon! Ya! Harus! Ku telpon kembali Kinanti tapi kali ini bukan Kinanti yang menjawab teleponku melainkan mbak-mbak operator.
Maaf nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan....
Tut...
Tut...
Mati.
Perjalanan menuju rumah tak secerah langit yang menerangi. Terasa kelabu dan basah...
Kinanti, haruskah ku ucapkan selamat padamu? Selamat tinggal dan selamat menempuh hidup baru, tanpa diriku...
Mobil melaju dengan cepat. Diantara air mata dan kekacauan harapan seseorang dari sana menelpon.
Berdering.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam"
"Apa ini Pawas?"
"Ya..."
Seorang wanita? Tapi siapa? Ah... Aku sempat kecewa. Aku berharap Kinanti yang menelpon, tapi ternyata orang lain. Seorang wanita yang nampaknya tidak lancar berbahasa Indonesia.
"Siapa?"
"I'm Laikha!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Terlalu Kias
RomanceAku menikah dengan yang lain, pria yang di jodohkan denganku, tepat di ulang tahun mantan pacarku. Januari lalu. Kini aku hidup bersama pria 17 tahun lebih tua dariku. Akankah aku bisa melupakan dia dan memulai hidupku yang baru?
