Sepuluh

25 4 0
                                        

Kelas terakhir hari itu Cira dan Janu tidak duduk di kelas yang sama. Karena Cira harus mengulang matakuliah yang nilai-nilainya belum cukup bagus. Saat Cira sedang fokus dengan dosen di kelasnya itu, ada pesan masuk di handphonenya. Benda itu bergetar di dalam saku celananya. Cira mengeluarkan benda kecil itu dan melihat pesan yang menghancurkan fokusnya tadi.

Aku tunggu kamu di kantin setelah kelas.

Cira memang tidak pernah menyimpan nomor Janu. Namun ia sangat tau itu pesan dari Janu. Ia berpikir untuk apa Janu ingin bertemu dengannya. Cira tidak mengiyakan pesan tersebur karena sebenarnya ia sudah berjanji kepada Bintang untuk menggantikan shiftnya hari ini di kedia kopinya.

Karena Cira tidak membalas pesan yang Janu kirim, Janu akhirnya menghampiri kelas Cira dan menunggu di depannya. Sepanjang koridor di kampus Cira dan Janu memang tidak disediakan tempat duduk, oleh karena itu Janu duduk di lantai di sebelah pintu kelas Cira.

Saat dosen keluar dari kelas tersebut, menandakan kelas yang Cira ikuti telah berakhir. Janu langsung bangkit dari duduknya, ia berdiri sambil memperhatikan orang-orang yang keluar dari pintu kelas tersebut. Sembari menunggu, Janu mengambil sebatang coklat dari saku celananya. Ia membukakan bungkusnya dan mengeluarkan seperempat bagian coklat yang sudah ia kantongi sedari tadi.

Cira keluar paling akhir dari kelasnya. Saat ia keluar, ia langsung melihat keberadaan Janu karena Janu berdiri tempat di sebelah pintu kelas tersebut.
"Loh lu ngap..."
Sebelum Cira menyelesaikan kata-katanya Janu sudah memasukkan coklat yang ia buka tadi ke dalam mulut Cira.

"Jangan marah-marah terus, nih makan yang manis-manis biar makin manis."
Cira kaget dengan hal yang dilakukan Janu. Ia menggigit coklat itu dan mengunyahnya.

"Apa-apaan sih Nu. Gue lagi ngomong juga."
"Haha protes tapi kamu makan juga."
"Yaudah nih gue balikin." Kata Cira sambil menyodorkan coklat yang sedang ia pegang.
"Udah digigit gitu. Udah abisin aja."
"Makasih."
"Apa Ra? Nggak denger." Janu memang jarang mendengar Cira mengucapkan kata terimakasih, oleh karena itu ia berpura-pura tidak mendengarnya.

"Tauk ah basi." Jawab Cira kesal karena ia tau bahwa Janu tidak bener-benar tidak mendengar ucapannya.
"Haha marah-marah terus, entar cepet tua."
"Lu ke sini cuman mau bikin gue marah-marah terus ya?"
"Eh nggak Ra. Aku mau ajak kamu beli sepatu."
"Nggak bisa gue Nu. Udah ada janji sama temen."
"Janji apa? aku boleh ikut?"
"Kalo gue jawab nggak boleh gimana?"
"Harus jawab boleh."

Cira hanya diam dan menghembuskan nafas berat. Karena ia tau menjauh dari Janu merupakan hal yang tersulit. Dan ia juga tau, menjawab semua kata-kata Janu merupakan hal yang sia-sia. Cira langsung keluar dari gedung, ia menuju sepedanya di tempat terakhir ia tinggalkan sambil memakan coklat pemberian Janu.

Cira menemukan sepedanya masih terparkir manis dengan rantai pengaman yang ia kaitkan. Saat Cira ingin membuka rantai pengaman sepedanya, ia melihat bahwa ban sepedanya kempes.
"Kamu mending nggak usah ikut Nu."
"Kenapa?"
"Sepeda gue bannya bocor."
"Yaudah naik motor aja Ra bareng aku."
"Nggak mau Nu."

Kesendirian sudah menjadi teman baikku. Ada atau tidak ada Janu tidak berpengaruh apapun di hidupku.

"Kenapa Ra?"
"Gue nggak mau bergantung sama orang lain terus, nggak mau ninggalin sepeda gue lebih lama lagi."
"Yaudah kalo nggak mau naik motor bareng aku, aku ngikutin kamu maunya apa."
"Kalo gue larang lu buat ikutin gue?"
"Aku tetep ikut."

Cira terdiam. Ia sangat bingung bagaimana caranya agar Janu bisa pergi menjauh darinya.
"Terserah lu deh. Kalo capek jangan ngeluh ke gue." setelah Cira melepaskan rantai pengaman sepedanya, ia tuntun sepedanya sambil berjalan perlahan-lahan keluar dari area kampusnya.

"Sini Ra aku aja yang tuntun sepeda kamu." Ucap Janu merasa kasihan dan merasa bersalah karena membuat ban sepeda Cira bocor.
"Nggak usah, gue bisa sendiri."

Janu sangat mengerti, Cira akan selalu mengucapkan kata tidak untuk semua hal yang ia ingin lakukan. Lalu janu mengambil tas milik Cira dari bahu kanannya, Cira memang biasanya membawa tasnya yang hanya ia gantungkan di salah satu bahunya. Cira kaget saat mengetahui tasnya diambil alih oleh Janu.

"Ngapain sih Nu?"
"Biar kamu nggak bisa kabur dari aku Ra, jadi tasnya aku sandera dulu ya."
Cira hanya pasrah melihat tasnya diambil alih oleh Janu. Janu menggendong tas Cira dengan menggantungkan tali tas tersebut, menempel pada badan bagian depannya, karena punggung Janu sudah menggendong tasnya sendiri.

Cira terdiam sambil menuntun sepedanya. Janu juga hanya diam sambil mengikuti Cira dari samping sepeda yang sedang Cira tuntun. Lalu tiba-tiba Janu memulai percakapan.
"Ra. Kamu pernah merasakan kehilangan nggak sih?"

Cira sangat kaget dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Janu. Karena dari pertanyaan itu membuat ia teringat dengan obrolannya bersama dengan seseorang yang sangat berarti untuknya.

SUN AND MOONTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang