Buku
Hari ini tidak ada yang spesial. Yang pergi tetap pergi, yang meninggalkan tetap tidak menghampiri.
Hari ini biasa saja. Semesta tidak mau mengerti apa yang sudah terjadi. Bumi serasa seperti planet lain, manusia seperti alien yang sangat asing. Aku tidak mengharapkan pelangi, tapi jangan selalu membiarkan hujan jatuh di pipi.
Buku, kapan hari yang tepat untuk membuka topeng ini?
Apa hanya buku yang bisa mendengar cerita aku ini?
Manusia sudah tidak ada yang bisa mendengar lagi ya?
Buku, kamu jangan sampai diambil oleh semesta ya. Temani aku melawan hujan hari ini.
🌞🌙
Keesokan harinya, Cira harus mengulang kegiatan yang sama. Pagi-pagi ia sudah ada di kampusnya. Bedanya pagi ini ia tidak dikeluarkan lagi dari kelasnya. Pada saat kelas berlangsung, Janu melemparkan kertas berwarna krem dengan garis biru dan oren berselang-seling. Dalam kertas tersebut Janu menuliskan sebuah perintah.
Selesai kelas, ketemu Bu Anna bareng gue.
Cira membaca kertas yang dilemparkan oleh Janu. Ia bingung dengan perintah yang diberikan oleh Janu. Cira tidak menanyakan lebih lanjut mengenai perintah yang tertulis di kertas tersebut, karena ia merasa pada akhirnya ia juga mengerti alasannya.
Seusai kelas Cira dan Janu ke ruangan dosen dan langsung menemui dosen tersebut. Ketika Bu Anna melihat kedatangan Cira dan Janu, ia berhenti melakukan kegiatannya di meja kerjanya.
"Oh kalian. Sudah selesai kelasnya?"
"Sudah Bu. Jadi, ada hal apa ya Bu sampai kami berdua dipanggil?" Kata Janu. Cira hanya diam memperhatikan.
"Jadi gini Nu. Ibu ingin meminta bantuan kamu untuk menjadi teman belajar untuk Cira, karena yang Ibu lihat, nilai Cira semakin lama semakin menurun."
Cira sangat kaget dengan permintaan yang diutarakan oleh Bu Anna kepada Janu.
"Tapi saya bisa kok Bu belajar sendiri." kata Cira untuk menggagalkan permintaan tersebut.
"Lebih baik dibimbing dulu Cira, sampai semua nilai kamu mulai membaik. Bagaimana Janu?"
"Saya tidak keberatan Bu."
Cira hanya menunduk ketika Janu menyanggupi permintaan Bu Anna.
Semesta, aku hanya tidak ingin ada seseorang yang masuk ke dalam hidupku lagi.
"Kalau begitu, Ibu percayakan Cira pada kamu ya Janu. Sekarang kalian boleh melanjutkan kelas lagi."
"Terimakasih Bu. Kami kembali ke kelas lagi." Kata Janu berpamitan dan mencium tangan Bu Anna, diikuti oleh Cira.
Cira keluar paling akhir dari ruang dosen, mengejutkannya Janu menunggui Cira agar mereka bisa berjalan bersama ke ruangan kelas selanjutnya. Sambil berjalan Janu berbicara dengan Cira
"Udah denger kan Bu Anna bilang apa." Memang itu bukan pertanyaan, tapi pernyataan untuk Cira.
"Iya. Gue nggak budek kali."
"Idih galak banget. Gue cuma pengen tau kapan kita mau mulai."
"Nggak usah dimulai aja bisa?"
"Nggak mungkin Cira, gue kan udah nyanggupin ke Bu Anna."
"Besok. Di rumah gue." Kata Cira cepat, lalu pergi meninggalkan Janu. Janu hanya terdiam dan melihat ke arah Cira.
Singkat cerita, kelas berakhir dan Cira langsung keluar kelas dan menuju sepedanya. Saat sudah siap mengayuh sepedanya, Janu menarik rem sepeda itu.
"Janu! Lu bikin gue kaget aja sih."
"Ya lu nyuruh-nyuruh orang buat ke rumah tapi nggak ngasih tau rumahnya dimana."
"Oiya, mana sini kertas sama pulpen."
Janu langsung mencari kertas dan pulpen di tasnya, dan memberikannya pada Cira. Lalu Cira menuliskan alamat rumahnya.
"Nih, jangan sampe hilang."
Kata Cira sambil memberikan kertas yang berisikan alamatnya.
Lalu Cira mengayuh sepedanya menuju kedai kopi milik Bintang. Sesampainya ia di kedai kopi, ia langsung duduk di bar.
"Tang, cafe latte dong, pake es yang banyak."
"Waduh, haha lagi kenapa kamu Ra?" Respon Bintang melihat sahabatnya itu terlihat kesal. Akhirnya Cira menceritakan semua yang terjadi di kampusnya mengenai Bu Anna yang menyuruh Janu untuk menjadi teman belajarnya. Di tengah-tengah cerita tersebut cafe latte yang Cira tunggu-tunggu dapat dinikmatinya sambil bercerita. Di akhir cerita Cira terdiam lalu mengeluarkan apa yang ada di pikirannya semenjak Bu Anna meminta tolong kepada Janu.
"Aku cuman udah capek aja Tang sama hal-hal yang kayak gini."
"Tau ngga sih Ra? Kamu tuh cuman bisa bawel sama orang-orang yang deket sama kamu. Coba deh jangan kalah sebelum perang dulu, dicoba dulu. Mungkin si Janu Janu ini tuh nggak kayak apa yang kamu pikir."
"Ya tapi percobaan itu pasti nggak selalu langsung berhasil Tang."
"Emang Ra, tapi yang bikin kamu terus belajar tuh bukan hanya keberhasilan aja."
"...." Cira terdiam, karena ia tidak bisa melawan kata-kata yang diberitahukan oleh sahabatnya itu.
"Cobalah Ra. Jangan takut, kamu kan tau aku selalu ada buat kamu Ra. Cerita kalo ada apa-apa." Kata Bintang menenangkan pikiran Cira sambil mengelus-elus telapak tangan Cira. Lalu Cira terdiam dan hanya melihat sahabatnya itu, menghembuskan nafas dengan berat seolah beban berat terjatuh di pundaknya.
"Aku nggak janji Tang, nggak bisa secepat ini juga bisa nerima orang baru lagi."
"Yaudah pelan-pelan Ra, nggak ada yang ngeburu-buruin kok."
"Iya iya, udah ah. Aku mau nulis di meja biasa deh ya."
Cira membawa tas dan minumannya ke meja yang biasa ia duduki jika mengunjungi kedai sahabatnya itu. Ia selalu duduk di pojok ruangan kedai dan duduk di dekat jendela. Setelah Cira sudah duduk dengan nyaman, ia mengeluarkan buku jurnal dan pulpen, memasang earphone dengan lagu-lagu yang pas dengan suasana hatinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SUN AND MOON
Romance[PENDING] Matahari dan Bulan memang benda langit yang tidak akan pernah bisa bersatu. Lalu jika Matahari dan Bulan saling jatuh cinta, apakah semesta akan berkorban untuk mempersatukan mereka? Atau Bulan dapat tergantikan dengan benda langit yang la...
