2. Cowok Narsis

54 11 0
                                        

Untung saja, pelajaran setelah Pak Rudy jam kosong. Gurunya tidak masuk, nggak tau karena apa. Yang pasti murid kelas X jurusan bahasa sangat senang mengetahui. Jadi bisa bebas deh! Toh juga belum ada pemilihan ketua, wakil, dan lain lain.

Wali kelasnya saja belum menyambangi kelasnya, bagaimana bisa ada pemilihan ketua?

_________

Raina sekarang tengah bosan di kelas, coba saja ada Sakti pasti seru. Lagi pula kemana sih dia? Baru hari pertama kok udah nggak masuk aja? Jadi dengan terpaksa deh, Raina melewati hari pertama sekolahnya tanpa ada Sakti. Menyebalkan!

Sampai tak dirasa bel pulang sekolah berbunyi tepat pukul 15.30. Semua murid sudah dari tadi cepat cepat meninggalkan sekolah dan ingin sampai ke rumah!

Berbeda lagi dengan Rain, sekarang saja wajahnya sudah di tekuk habis habisan. Sudah setengah jam dia menunggu dan sampai sekarang belum juga ada yang jemput. Dari arah belakang terdengar suara motor yang berhenti disamping Rain.

"Belum dijemput?"

"Eh lo, iya belum,"

"Mau ikut?"

"Kesambet apaan lo tiba tiba ngajak gue pulang bareng"

"Yeee.. Udah ditawarin juga, mau nggak?"

"Kok-"

"Aah lama, mau nggak? Keburu malem nih." belum saja Raina selesai bicara, sudah main potong potong aja. Siapa lagi yang menyebalkan seperti itu selain Reyhan? Iya, itu Reyhan. Aneh bukan? Tak ada angin tak ada hujan, tiba tiba dia mengajak Raina untuk pulang bareng. Hemmmm....

"Iya iya, bawel banget! Terpaksa nih gue, dari pada nggak pulang pulang." jawab Raina, rada gengsi ya gaisss..

Raina menerima tawaran Reyhan untuk pulang bareng. Ya.. karena terpaksa! Catet! Sekali ini aja udah! Besok besok nggak lagi!

"Nggak ada helm?" tanya Rain saat sudah menaiki motor Reyhan.

"Nggak ada, gue nggak bawa!"

"Yaudah,"

Saat motor sudah berjalan Raina berpikir, kalau semenyebalkannya Reyhan ternyata ada sisi baiknya juga. Raina sedikit merasa bersalah mengingat tadi dia sudah bersikap kasar kepada Reyhan.

Tapi ternyata, Reyhan tak mengizinkan Raina untuk berpikiran seperti itu. Dalam sekejap Reyhan sudah mengegas motornya secara mendadak. Membuat Raina hampir kejengkang karenanya. Tak mau lama lama, Raina sudah menggeplak dan menoyor helm yang dipakai Reyhan.

"LO NGGAK BISA BAWA MOTOR? HA?!" teriak Raina setelah puas menggeplak kepala Reyhan.

Pikiran pikiran baik tentang Reyhan langsung dia tepis lagi. Dia buang jauh jauh. Udah, nggak ada ceritanya Reyhan jadi baik. Nggak ada!

"MAKANNYA PEGANGAN!" teriak Reyhan yang kini sedang mentertawakan raut muka kesal Raina.

"NAJISSS!!"

"MAU GUE HALALIN?"

"BODO AMAT!"

Perdebatan kembali dimulai, mereka saling menyahuti dengan berteriak sekencang kencangnya. Maklum, kalo naik motor ngomongnya nggak teriak, nanti debatnyaa jadi nggak nyambung.

Reyhan hanya tertawa mendengar jawaban jawaban yang dilontarkan Raina. Sedangkan Raina sudah mengumpati cowok tengil di depannya ini.

Tak lama setelah itu, mereka sudah sampai di depan rumah Raina. Raina sudah turun dari motor Reyhan beberapa detik yang lalu.

"Udah, sono lo balik!" ucap Raina setelah turun.

"Nggak ada terima kasih terima kasihnya jadi orang!" jawab Reyhan sambil membuka helmnya.

Raina memajukan wajahnya, membuat Reyhan terkejut. Apa yang akan dilakukan cewek mulut kaleng ronbeng ini? "MAKASIIHHH!!" teriak Raina tepat di kuping Reyhan.

"Eh anj! Sakit bego telinga gue!" ucap Reyhan mengusap usap telinga malangnya.

"Lebay banget, katanya suruh bilang makasih. Ini gue udah bilang makasih malah lo marah marah!" jawab Raina yanh sedang cekikikan di dalam hati.

"Bodo amat! Gue cabut," Reyhan memakai helm nya kembali.

Baru saja Reyhan ingin menyalakan motornya, tapi gerakannya terhenti karena suara Raina yang memanggilnya.

"Apa lagi?" Reyhan menoleh ke arah Raina.

"Yaelah masih marah aja! Makasih!" ucap Raina dengan tertawa, kali ini dia tulus kok ngucapin makasihnya. Beneran deh.

Reyhan awalnya terkejut, tetapi sedetik kemudian dia sudah menormalkan ekspresinya kembali. Dia kemudian menganggukkan kepala mengiyakan ucapan terima kasih dari Reyhan.

"Hati hati!" teriak Raina setelah Reyhan sudah perlahan meninggalkan rumah Raina.

Reyhan dapat melihatnya dari kaca spion, dia kemudian tersenyum. Entah karena apa.

Setelah kepergian Reyhan, Raina langsung memasuki rumahnya, "Assalamualaikum,"

"Waalikumsalam," teriakan itu memunculkan sosok wanita paruh baya yang baru keluar dari dapur, ibu Raina.

"Kok tadi Raina nggak ada yang jemput, Bu?" tanya Raina sambil mencium tangan ibunya.

"Iya, itu abang kamu katanya masih repot sama kerjaannya di kantor. Jadi nggak bisa juga ngabarin kamu," jelas ibunya membuat Raina mengangguk paham.

"Kamu bersih bersih dulu, terus makan! Kayaknya abang kamu habis ini pulang." ucap ibu Raina sambil mengusap Rambut putrinya.

Raina menurut dan langsung bergegas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tak lama kemudian dia kembali ke meja makan untuk makan. Di meja makan sudah ada Ibunya dan abangnya.

"Bang Dani tadi kenala kok nggak ngabarin sih kalo nggak jadi jemput Raina?" ucap Raina yang sudah duduk di meja makan.

"Iyaa maaf banget ya cantik.. Abang tadi sibuk banget, jadi nggak sempet kabarin kamu.." jawab abangnya sedikit membujuk.

"Hemmm iyahhh.."

Raina memang terlihat manja kalau sudah bersama abangnya, nggak tau kenapa.

"Gimana tadi hari pertama masuk sekolah?" tanya Bang Dani mengalihkan pembicaraan, bersamaan dengan ibunya Raina yang sudah ikut duduk di meja makan.

"Mmm not bad lah, tapi tadi Sakti nggak masuk, jadi nggak seru!" keluh Raina.

"Kenapa nggak masuk?" tanya ibu Raina yang ikut larut dalam pembicaraan.

"Nggak tau, nggak ada surat. Nanti aja aku samperin ke rumahnya."

"Yaudah, sekarang makan dulu.." ucap ibunya yang kini sudah mengambilkan piring dan nasi untuk kedua anaknya.

"Iyaa.." jawab Raina dan Dani bersamaan.

Selesai makan dan urusan lainnya, dia bergegas mengunjungi rumah sahabatnya, Sakti. Rumah mereka tdiak jauh, hanya berjarak 3 rumah ke samping kanan dari rumah Raina.

Sampainya di runah Sakti, Raina disambut oleh mamanya Sakti, Mama Indah.

"Tanteee.. Saktinya tadi kenapa nggak masuk sekolah?" tanya Raina yang sudah digiring masuk oleh mama Indah.

"Eh Rainaa, Sakti lagi sakit sayang. Kemarin pas ke dokter Sakti disuruh istirahat beberapa hari ke depan. Jadi nggak bisa masuk sekolah dulu deh," jelas Mama Indah mempersilahkan Raina duduk namun ditolak.

"Terus sekarang Saktinya dimana, tan?" Raina celingak celinguk melihat ke lantai atas.

"Lagi di kamar, kamu samperin sana. Siapa tau pas kamu dateng dia langsung sembuh!" ucap Mama Indah seraya terkekeh.

"Wahhh emang, dan itu pasti tan! Liat aja, setelah aku samperin Sakti pasti langsung sembuh! Aku ke atas dulu ya tan!" Raina langsung bergegas menuju ke kamar Sakti yang ada di lantai atas.

"Iya.." jawab Mama Indah sambil menggelengkan kepala bersama sisa tawanya.




Jangan lupa vote ya temen temen! Big love buat kalian ♥

Hujan dan KamuCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang