Yang Irene tahu hari itu, ia hanya akan berjibaku dengan padatnya jalanan pulang kantor rute Jakarta-Bogor bersama jutaan karyawan lainnya. Maybe having a little dinner with her annoying little brother or sister. Mandi lalu tidur. Pokoknya rutinitas karyawati single biasa pada umumnya lah. Jadi ketika Ibu menelpon Irene hari itu untuk pulang lebih cepat jelas saja Irene sedikit bertanya-tanya.
Ia bahkan sempat memiliki pemikiran buruk, kalau hal buruk tengah terjadi di rumahnya. Tapi balik lagi, ia coba tepiskan hal-hal buruk di dalam kepalanya dan mulai meminta ijin kepada Kanjeng Boss. Iya, Irene memang hobby manggil boss di kantornya dengan sebutan 'Kanjeng' karena buat Irene, tingkah bossnya itu ya the real definition of seorang Kanjeng.
Nih ya kemana-mana diantar ajudan. Buka pintu di bukain security kantor. OB aja punya satu khusus buat beliau aja, belum lagi sekretaris yang totalnya ada tiga orang. Dan itu masih ditambah tingkah beliau yang hobby banget assigned satu staf di setiap divisi di bawah Kanjeng Boss untuk jadi L.O beliau.
See? Gimana Irene gak manggil dia Kanjeng Boss. Ya walaupun harus Irene akui sih dengan tittle si Kanjeng Boss yang memang pejabat pemerintah, semua perlakuan itu wajar. Plus Irene harus mengakui despite tingkah yang begitu, Kanjeng Boss tuh ya boss yang baik.
Tok..tok..
"Masuk." Suara Kanjeng Boss membuat Irene berani membuka pintu dan perlahan masuk.
"Duduk. Ada apa Irene?"
"Saya mau ijin untuk pulang cepat hari ini Bu."
"Kenapa?"
"Ada acara keluarga Bu." Jawab Irene sopan.
"Oh saya kira kamu mau pacaran." Seloroh Kanjeng Boss. Di kantornya memang sudah menjadi rahasia umum kalau Irene selaku most wanted woman dari department of strategic and communication mereka memang jomblo. Padahal yang mau banyak belum lagi Irene nya sendiri juga cantik, cerdas, dan baik. Makanya Kanjeng Boss nya sendiri sampai hobby menggoda Irene. Kalau gak inget anak cowoknya Kanjeng Boss masih SMP aja rasanya, beliau mau kok jodohin sama Irene.
"Saya kan jomblo Bu."
"Cari pacar makanya. Jangan kerja terus." Irene hanya bisa tersenyum masam, bukannya apa yang suka ngasih kerjaan Irene sampai lembur-lembur kan ya si Kanjeng Boss sendiri.
"Yasudah meeting sore ini tentang Australian Market kamu cari pengganti ya. Dan harus yang paham."
"Baik Bu, terima kasih." See? Irene benar kan? Walaupun si Kanjeng Boss tingkahnya bak puteri keraton, tapi ya beliau ini baik dan pengertian. Makanya Irene betah walaupun harus kerja keras bagai kuli.
💐💐💐
"Irene udah dimana?"
"Udah di jalan ini Bu. Bentar lagi sampe di stasiun terus naik gojek ya."
"Buruan ya."
"Iya buuu."
Irene memutus panggilan dari Ibu nya. Sumpah ada apaan sih? Ibu nya setiap tiga puluh menit sekali telepon. Belum lagi group keluarganya yang bawel banget dari tadi nyuruh dia buru-buru. Irene sampe kesel sendiri.
Ia buka lagi smartphone nya dan mulai menghubungi salah satu adiknya.
"Halo."
"Cen jemput mbak di stasiun."
"Ih Mbak mal.."
"Apa mau bilang males? Di group keluarga siapa ya yang bawel banget nyuruh Mbak cepet pulang hah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
S U A M I
Fiksi PenggemarThere is no happily ever after. Yet, You could find a little happiness between the before ever after. Irene tahu keputusannya menerima perjodohan dengan Kyungsoo tidak akan berjalan semulus jalan tol cipali. Irene itu lebih tua, bawel, cerewet apala...
