10-Boys time

219 37 2
                                    

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Sahabat adalah mereka yang mengerti masa lalumu, percaya pada masa depanmu, dan menerima kamu apa adanya.

_o0o_


Sepi. Itulah kata yang menggambarkan keadaan rumah Arka sekarang. Sean, Satya, dan Indra memasuki rumah mewah itu dengan pandangan takjub, pasalnya rumah ini sangat mewah bak istana kerajaan.

 Sean, Satya, dan Indra memasuki rumah mewah itu dengan pandangan takjub, pasalnya rumah ini sangat mewah bak istana kerajaan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Gila Ka. Rumah Lo mewah banget. Gue kalo jadi Lo pasti betah di rumah." Indra bergumam takjub. Sementara Satya dan Sean mengangguk setuju.

"Rumah gue mah gak ada apa-apanya." Balas Satya.

"Percuma rumah besar, mewah. Kalau didalamnya nggak terdapat ketentraman." Sahut Arka sambil menghela nafas panjang.

"Kalau Lo masih punya orang tua, Lo termasuk orang paling beruntung di dunia." Balas Sean. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan saat ia masih kecil. Oleh karena itu, dia tinggal bersama kakek dan neneknya.

"Iya, yan. Lo bener. Nggak seharusnya gue mengeluh."   Keadaan hening seketika.

Suara deru motor dari belakang memecahkan keheningan yang terjadi membuat keempatnya menoleh kebelakang.

"Lagi pada ngomongin apaan sih? Ngomongin gue ya?" Tanya Gema GeEr setelah memarkirkan motornya disebelah mobil milik Indra.

"GeEr bange jadi orang." Balas Satya sengit.

"Udahlah. Yuk, masuk. Haus nih gue." Sean memegang lehernya sembari mengipasi wajahnya menggunakan tangan.

"Ngapa jadi Lo yang nyuruh masuk?" Tanya Indra.

"Terserah gue dong," Balas Sean.

"Nyeyeye,"

"Dasar titisan Naruto," Maki Sean.

"Biarin. Biar gue punya jurus seribu bayangan terus Lo gue tembak pake pisau," Ujar Indra ngelantur.

"Hah?"

FriendshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang