✓INI MALMING?

30.8K 1.6K 13
                                        

🍁-Happy Reading-🍁

Bintang bertebaran di langit biru, bulan sabit berwarna terang memperindah langit di malam hari. Malam Minggu yang sangat ditunggu-tunggu oleh para remaja yang sedang di mabuk asmara.

"Reyvan, malem minggu gini kamu nggak mau ngajakin istri kamu jalan-jalan apa?" tanya Heri yang baru saja mendudukkan bokongnya di sofa.

Yang ditanya hanya menggeleng, Rey lebih fokus pada layar dan stick PS di genggamannya.

"Reyvan! Ayah sedang berbicara dengan kamu," gertak Heri.

"Iya tau," jari-jemari Rey bergerak lincah. Heri yang geram melihat tingkah tak acuh putranya merampas stick PS itu.

Rey mendengus, memohon lewat matanya agar ayahnya mengembalikan stick PS di genggamannya.

"Kamu ini, ayah sedang bicara kamu cuekin. Mau semua fasilitas yang ayah kasih di sita?" ancam Heri.

Seketika Rey terbelalak, ancaman yang sangat mengerikan. Bisa jadi gembel kalau sampai semua fasilitasnya benar-benar disita.

"Yah, nggak bisa gitu. Jangan sita semua fasilitas punya aku,"

Heri terkekeh, mengacak rambut legam putranya. "Punya kamu? Itu masih punya ayah. Kalau kamu beli semuanya pakai jerih payah kamu, itu baru punya kamu. Ngerti?" tanyanya.

Dehaman singkat yang menjadi jawaban atas pertanyaan ayahnya. Begini kalau sudah berdebat dengan ayahnya, Rey sebagai anak akan terus di posisi mengalah.

"Ajak Rachel malmingan sekali-kali. Lagian kamu emang nggak merasa jenuh di rumah terus?"

Karena takut ancaman tadi benar-benar terjadinya, dan tidak mau dianggap anak  durhaka Rey menolehkan kepalanya. Perkataan ayahnya ada benarnya juga, tidak salahkan kalau ia pergi malam mingguan dengan istrinya.

"Rey nggak tau tujuannya,"

"Nah, mending kamu pergi malam mingguan ke swalayan ya beliin persediaan makanan sama buah-buahan untuk di rumah. Nanti bunda tulis di kertas apa aja yang diperlukan, kamu sama Rachel yang beli." Riana, ibundanya yang tiba-tiba muncul hampir saja membuat kedua laki-laki itu terkejut.

Wanita itu melangkah mendekati suami dan putranya, berdiri di ujung sofa.

Mendengar usulan dari bundanya Rey langsung menggeleng. Apa-apaan ini laki-laki di suruh belanja, kalau tiba-tiba bertemu dengan sahabat-sahabatnya mau di taruh dimana wajah tampannya.

"Rey nggak mau bun. Masa anak ganteng gini suruh belanja, mau di taruh dimana muka tampan ini?" ucapnya dengan kepedeaan tingkat tinggi.

Kedua bola mata Riana memicing, "Kepedeaan banget kamu. Dengerin bunda ya Reyvan anak tampan, kalau kamu pergi ke swalayan sekalian dapet pahala bantuin bunda, kamu juga bisa romantis-romantisan sama Rachel. Tuh baguskan ide bunda," jelasnya, yang mendapat anggukan setuju dari suaminya.

Benar juga, tetapi Rey masih bingung cara apa yang bisa dia lakukan agar tercipta suasana romantis di swalayan nanti.

"Enggak ah Bun, lagian aku nggak tau dimana letak-letak barang yang bunda cari."

"Kan ada Rachel sih, kamu juga bisa___" belum sempat Riana melanjutkan perkataannya, menantu kesayangannya terlihat menuruni tangga.

Rachel menyernyitkan dahinya. "Ada apa bun? Tadi Rachel nggak sengaja denger dari atas rame-rame gitu," tanyanya polos.

Dewa fortuna sekarang sedang berpihak kepada Riana, untungnya Rachel datang tepat waktu. Kalau sudah begini mana mungkin menantunya ini akan menolak perintahnya dan pasti putranya juga akan menuruti tanpa kalimat-kalimat bantahan tak masuk akal.

REYRA🍁 [TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang