[SEBAGIAN PART DIHAPUS]
"Bisa nggak, sih, lo diem? Sehari aja jangan ganggu gue!"
"Lo mulai duluan. Yang kasih kaos kaki ke mulut gue siapa?"
"Dih, elo yang kemarin matiin lampu kelas waktu gue lagi piket!"
"Lo yang kasih kecoa di sepatu gue!"
"Tapi...
"Dan semakin lama aku semakin yakin kalau ini bukan perasaan yang biasa,"-Rachel Anita Aracella
***
🍁-Happy Reading-🍁
Siang ini, sesuai keinginannya untuk mengajak Rachel jalan. Rey sudah bersiap meski hanya menggunakan jeans hitam, yang dipadukan dengan kaos putih yang melekat ditubuhnya ditambah jaket denim. Dan jangan lupakan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya. Perfect bukan?
Laki-laki itu menyenderkan tubuhnya pada mobil, sesekali melirik jam di pergelangan tangannya. Rachel belum juga bersiap, padahal panas matahari semakin membakar dirinya.
Lama menunggu, akhirnya yang di tunggu datang. Rey menatap gadis dihadapannya kagum. Rachel menrubah penampilannya, gadis yang lebih menyukai memakai celana memilih memakai rok lipat hitam dibawah lutut, dengan kemeja biru muda selengan.
Jangan lupakan rambut sepunggungnya yang di gerai bebas, dengan jepitan rambutnya yang menambahkan kesan manis.
"Sorry lama," ucapnya.
Rey terkejut, lama menikmati pemandangan indah sampai tidak sadar Rachel sudah disampingnya.
"Hah? Iya-iya gue maklumi." Rey mengusap-usap tengkuknya.
Sebelah tangan Rey membuka pintu mobil penumpang, memberi kode agar Rachel masuk kedalam. Setelah gadis itu masuk Rey melebarkan senyumnya, merapatkan doa agar acara jalan hari ini tanpa halangan.
Selesai, Rey memutari mobilnya. Membuka pintu kemudi, lalu masuk kedalam. Mengendarakan mobilnya dengan kecepatan rata-rata, hening menyelimuti keduanya.
Rachel yang asik memandangi jalan dari jendela, sedangkan Rey yang fokus dalam menyentir agar selamat. sampai tujuan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka berdua telah sampai di tempat tujuan, dan tempat yang menjadi pilihan Rey adalah Dunia Fantasi. Alasannya agar bisa modus-modusan walaupun sedikit.
Sesudah membayar tiket keduanya memikirkan wahana apa yang akan mereka naiki terlebih dahulu. Dari sini Rey menikmati senyuman Rachel, jarang sekali gadis itu mau menunjukkan senyumannya. Ya, kecuali saat bersama Devan.
"Kita naik roller coaster dulu ya? Atau mau yang lain dulu?" tanya Rachel dengan wajah girangnya.
"Terserah lo aja deh, gue ngikut kok."
Rachel mengangguk senang, ia melangkahkan kakinya dengan riang. Melupakan Rey yang masih berjalan santai dengan kedua tangan yang dimasukkan di kantong jaketnya.
Gadis itu sudah mengantri untuk menaiki wahana, untungnya antriannya tidak begitu panjang. Rachel menolehkan kepala, baru sadar Rey tidak ada di belakangnya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling area.