Sekitar pukul sepuluh, Jinhwan yang merasa bosan menunggu Hanbin selesai dengan urusannya itu memutuskan untuk berkunjung ke Sayap Kiri. Pemuda mungil itu sedikit kesal pada Hanbin yang sama sekali belum muncul meskipun hanya batang hidungnya pun. Karena tak ingin terus berdiam diri di kamar, dia memutuskan untuk bermain menemui para maid saja meskipun bokongnya masih terasa sakit. Untung saja Yunhyeong tadi pagi memberinya obat oles yang bisa mengurangi rasa sakit pada hole-nya.
Jinhwan menuruni tangga dengan hati-hati untuk menghindari rasa sakit yang teramat jika bergerak terlalu berlebihan. Menghembuskan nafas lega saat sudah berhasil melewati tangga. Lalu berjalan keluar mansion lewat pintu belakang untuk menuju taman bunganya. Sekedar melihat-lihat kondisi bunga-bunga kesayangannya. Dia mengedarkan pandangan ke sekeliling, mengamati halaman belakang mansion yang cukup sepi. Entah kemana semua orang pergi, mungkin beristirahat setelah selesai mengerjakan tugas?
Sebenarnya Yunhyeong melarangnya keluar kamar sebelum tengah hari entah untuk alasan apa. Karena dia sedang sakit bokong? Jinhwan rasa itu bukan alasan tepat untuk menyuruhnya tetap tinggal di kamar. Karena Jinhwan bisa keluar atau tetap tinggal sesuai keinginannya meskipun dalam kondisi yang tidak baik pun. Kali ini biarkan saja Jinhwan mengabaikan perintah Yunhyeong, karena sungguh, berada di dalam kamar sendirian tanpa melakukan apapun terlalu membosankan. Padahal ini hari libur, tapi Hanbin masih tetap memiliki banyak urusan. Sementara Jinhwan ingin sekali menghabiskan waktu bersamanya seharian penuh. Meskipun dia terlalu malu untuk bertemu tuannya itu setelah semalam mendesah dengan tak tahu malu di bawah tubuh kekarnya hingga dini hari.
Setelah puas menghabiskan waktu untuk mengecek bunga-bunganya, Jinhwan memutuskan untuk pergi ke Sayap Kiri. Mengunjungi para maid dan bermain disana. Maid-maid itu memiliki banyak sekali ide untuk menghabiskan waktu luang mereka dengan hal-hal yang mengasyikan, omong-omong. Jadi Jinhwan selalu betah jika berkunjung kesana. Lagipula mereka sangat baik, selalu menyambut kedatangan Jinhwan dengan antusias, terutama Rosè.
Saat Jinhwan hendak keluar dari kebun bunganya, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat dua orang pria berpakaian hitam tengah membawa seorang pria dengan banyak rambut putih dikepalanya. Kedua mata Jinhwan melebar karena dia merasa tak asing dengan postur pria tua itu, meskipun hanya terlihat dari belakang. Tiba-tiba saja jantungnya berdebar kencang saat melihat dua pria itu membawa si pria tua ke Secret Home. Jinhwan menelan ludah susah payah karena bayangan eksekusi beberapa hari lalu di tempat itu melintas kembali. Nafasnya sudah mulai tak teratur dan tubuhnya sedikit bergetar. Kedua tangannya terkepal.
"Apa itu berarti, Master sedang di Secret Home? Jadi.... Urusan itu...."
Jinhwan tak melanjutkan ucapannya. Seketika percakapan bersama Hanbin di kamar mandi waktu itu muncul di kepalanya.
"Mantan-mantan bosmu yang pernah nyaris melecehkanmu itu, kau ingat dimana alamat mereka?"
"A-aku ingat, tapi Tuan... Kenapa ka-"
"Sebentar lagi mereka akan menerima balasan dari kebusukannya."
Jinhwan melebarkan mata saat sebuah nama melintas di otaknya.
"Mr. Hwang?"
Lalu dengan susah payah dia berlari keluar dari kebun bunga menuju ke arah Secret Home yang paling dihindarinya selama beberapa hari ini. Meringis berkali-kali karena rasa perih pada bokongnya saat kaki-kaki mungilnya berlari tertatih menuju tempat eksekusi itu. Dia hanya ingin memastikan, apakah benar bahwa pria tua itu adalah mantan majikannya sewaktu di Daegu. Jika memang benar, Jinhwan ingin sekali mengatakan sesuatu padanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I'm Yours, Master
FanfictionSehitam apapun pekatnya malam yang membuat matamu seolah-olah buta, Kim Jinhwan tetap akan bisa ditemukan oleh pemiliknya, bahkan dengan cara paling mengerikan pun. Karena takdirnya adalah hidup diantara gelapnya dunia Sang Pemilik, melayani dan men...
