Twenty-second : Tears in His Arms

1.9K 205 99
                                        

[A/N] : setelah libur panjang akhirnya baru bisa update malem ini, maapin guys. Selamat idul fitri ya bwt kalian yg merayakan. Maaf telat 🙏🏻

***

Lantunan musik klasik yang tenang terdengar di ruang audio, sebuah piringan hitam berputar mengalunkan sebuah lagu romantis dari musisi beberapa dekade lalu. Hanbin dan Jinhwan duduk di sofa dengan tubuh yang saling menempel. Lengan Hanbin melingkar di tubuh Jinhwan yang menyandarkan kepalanya pada dada bidang pria itu. Sementara jemari lentik Jinhwan sedang bermain-main dengan kancing teratas kemeja Hanbin. Rambut berwarna merah jambunya dielus oleh telapak tangan besar Hanbin dengan lembut, membuat lelaki cantik itu merasa sangat nyaman.

"Apa Master lelah? Sebaiknya kau segera beristirahat di kamar." Ucap Jinhwan dengan suaranya yang lembut.

Hanbin membungkuk untuk mengecup surai lembut merah jambu itu. Meraih dagu runcing lelaki di pelukannya agar wajahnya menghadap padanya. "Sudah tiga hari kita tidak bertemu. Apa kau tidak merindukanku?"

Jinhwan menatap kedua obsidian sekelam malam yang tengah menatapnya dengan dalam. Dadanya membuncah karena ledakan rindu yang tak tertahankan. Suara berat yang dalam itu mengalun di telinganya, seolah-olah itu adalah sebuah nyanyian lagu romantis pembakar hati. Lelaki cantik itu tersenyum lalu dengan berani mengusakan wajahnya pada dada bidang di depannya. Mengeratkan lingkaran lengan kurusnya pada tubuh kekar itu.

Hanbin terkekeh lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping dalam rengkuhannya. "Sepanjang jalan aku hanya diam dengan nyaman di pesawat. Bagaimana bisa aku merasa lelah, hm?" Satu tangannya mengelus punggung Jinhwan. "Meskipun begitu, kenyamanan fasilitas di kabin kelas bisnis tetap takkan bisa mengalahkan kenyamanan berada di rumah. Apalagi jika di rumah itu ada seseorang yang selalu menungguku pulang." Suaranya begitu tenang.

Jinhwan merasakan rasa manis dari ucapan Hanbin, membuat wajah putihnya memerah. Lalu dia mengangkat kepala untuk menatap pria itu, mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah yang begitu dia dambakan. Kenangan yang telah masuk ke memorinya tentang Hanbin melalui Yunhyeong terulang di benaknya, membuat hatinya yang melunak semakin melunak bahkan mungkin telah meleleh. Aliran rasa sakit mengaliri seluruh hatinya, kembali merasakan semua luka dan duka Hanbin. Pria itu memejamkan mata dalam belaian jemari lentik yang dia sukai.

Atas nalurinya, Jinhwan menarik leher Hanbin dengan lembut dan membawanya ke dalam sebuah pelukan. Menyandarkan kepala pria itu pada ceruk lehernya seraya membelainya dengan penuh kasih. Hanbin sebenarnya cukup terkejut mendapat perlakuan tiba-tiba ini dari Jinhwan, dia saat ini terlihat seperti seorang pria malang yang sedang ditenangkan atau seperti seorang anak yang sedang diberi kehangatan oleh ibunya. Namun tidak peduli tentang itu, sebaliknya dia melingkarkan lengannya kembali pada tubuh Jinhwan dan semakin membenamkan kepalanya pada ceruk leher yang wangi itu. Mencoba mencari kenyamanan dan ketenangan darinya, seolah-olah karenanya semua penderitaan yang terjadi selama sisa hidupnya terakhir kali akan melebur dan tersembuhkan.

Tiba-tiba air mata mengaliri pipi putih dan halus milik Jinhwan, namun pemuda itu berusaha untuk menyembunyikannya dengan mengeratkan pelukannya pada tubuh Hanbin. Sementara Hanbin kini merasa bahwa hatinya dipenuhi dengan kepahitan dari masa lalu yang telah membuatnya membangun benteng yang begitu tinggi dalam dirinya selama bertahun-tahun. Hingga orang lain tidak akan mampu menjangkau, menembus bahkan melihat dirinya yang sebenarnya pernah berkubang dalam penderitaan paling menyedihkan. Namun akhirnya benteng itu perlahan runtuh hanya karena sebuah pelukan hangat penuh kasih dan keibuan.

Hanbin merapatkan kedua matanya dan berusaha untuk menekan perasaan sedih yang menggila dalam hatinya. Sementarra Jinhwan masih terus mengalirkan air mata, hatinya berulang kali berikrar untuk tak pernah meninggalkan pria ini. Meskipun harus banyak mengalirkan darah dan air mata, dia ingin tetap berada di sisinya. Menjadi tempat ternyaman untuknya pulang dalam setiap kesulitan dan kebahagiaannya. Menjadi tempat bersandar dan berbagi penderitaannya. Jika kematian ibunya beberapa tahun lalu telah memadamkan seluruh cahaya dalam hidupnya, maka Jinhwan ingin menjadi seseorang yang mampu membawa cahaya baru untuknya. Menjadi alasan baginya untuk terus melanjutkan hidup, menjemput kebahagiaan. Bersama dengannya, selamanya.

I'm Yours, Master Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang