Eighteenth : Here is Family

1.9K 212 93
                                        





Jinhwan dan Chanwoo duduk bersebelahan di tempat duduk berbahan marmer yang tingginya tak jauh di bawah lutut, keduanya menatap pada dua batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tua Jinhwan. Baru beberapa menit lalu Jinhwan berhenti menangisi kedua orang tuanya, kini kedua pemuda seusia itu saling diam terlarut dalam pikiran masing-masing.

"Saat aku dan Master pergi ke Gyeonggi waktu itu, kami pergi ke Suwon untuk menemui ibuku di pemakaman." Ucap Chanwoo memecah keheningan diantara keduanya.

Jinhwan menoleh ke arah pemuda jangkung itu. "Benarkah? Kau pasti sangat merindukan ibumu." Senyuman terbit di wajah sembabnya.

Chanwoo tersenyum tipis, kedua matanya masih menerawang ke depan. "Iya. Sudah lima tahun aku tidak datang berkunjung. Bukankah aku putera yang tidak berbakti?"

Jinhwan yang semula melebarkan kedua mata mengembalikan wajah tersenyumnya. "Mungkin kau memiliki alasan sendiri untuk tak mengunjunginya, meskipun kau mampu melakukannya. Berbeda dengan aku yang sama sekali tak mampu melakukan apapun untuk menemukan makam kedua orang tuaku, meskipun aku sudah mencarinya kemanapun sebisaku." Ucapnya dengan sedih.

Pemuda jangkung itu mengangguk, menyadari keburukannya sendiri yang selama lima tahun ini tidak pernah menyempatkan waktu untuk mengunjungi ibunya di Suwon. "Aku hanya mendoakannya dari sini. Karena menurutku, berdoa dari sini dan di dekat batu nisannya sama saja. Doaku mungkin akan didengar olehnya dan tersampaikan pada....Tuhan." Saat menyebutkan kata 'Tuhan', Chanwoo memelankan suaranya dan Jinhwan mengerti akan hal itu.

"Memang benar apa yang kau katakan itu. Namun tetap saja, dengan berkunjung langsung kau akan merasakan hal yang berbeda. Kau akan merasa bisa lebih dekat dengannya meskipun dia sudah berada di alam berbeda. Dia juga akan merasakan hal yang sama, ketika kau datang langsung ke makamnya, dia akan merasa sangat senang karena akhirnya kau datang berkunjung dan berbicara dengannya lagi." Sahut Jinhwan yang menatap ke arah kedua batu nisan di hadapannya. "Aku pikir kau juga tahu bagaimana sakitnya kehilangan orang-orang yang kau cintai, namun apakah kau pernah berpikir saat mereka telah ditimbun tanah dan tidak ada satu pun dari orang-orang tercintanya yang datang mengunjungi mereka, di alam lain mereka merasa sangat kesepian? Tidak pernah lagi mendengar suara akrab dari orang-orang yang dulu selalu ada bersama mereka. Yang bisa mereka rasakan hanyalah rasa kesepian dan mencekam di alam kematian."

Hati Chanwoo tergerak mendengar penuturan pemuda mungil di sampingnya ini, meskipun dia terlihat kekanakan namun ternyata pikirannya jauh lebih dewasa dari dirinya. "Kau mempercayai hal seperti itu?"

Jinhwan menoleh sambil mengangkat alisnya. "Kenapa tidak? Kepercayaan yang kupegang mengajarkan itu."

"Benar. Memang benar seperti itu." Ucap Chanwoo seraya mengangguk. "Terimakasih sudah mengingatkanku."

Senyuman kembali muncul di wajah Jinhwan. "Tidak masalah. Di hidup ini, kita memang perlu menghargai waktu. Waktu bersama maupun waktu berpisah. Karena jika kita terus mengabaikannya, bisa saja hal berharga yang kemarin masih bersama kita besoknya sudah tidak bisa lagi kita lihat dan genggam."

Chanwoo tersenyum, dalam hati memuji kedewasaan Jinhwan. Kehidupan keras di luar sana memang bisa membuat seseorang hidup lebih bijaksana dibandingkan dengan orang lain yang memiliki kehidupan normal. "Aku akan selalu mengingat semua kata-katamu."

"Tentu saja kau harus." Sahut Jinhwan seraya tersenyum. "Ah, apa lagi yang kalian lakukan di Suwon? Apakah itu benar-benar karena sebuah urusan penting?"

"Itu tidak terlalu penting saat kami berada di Suwon. Kami hanya berkunjung ke pemakaman dan mampir ke kafe tempat dimana dulu Master membelikan makanan untukku pertama kalinya." Chanwoo terkekeh saat mengenang hal-hal yang terjadi di masa lalu bersama Hanbin itu.

I'm Yours, Master Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang