Twentieth : His Pain

1.8K 199 80
                                        

SURPRISE HAHAHAHA!!

Aku mau bayar utang update minggu lalu. Selamat membaca dan jangan bosen ya. Ikuti kisah Hanbin di masa lalu yg penuh dengan luka 🥺

***

Setelah seminggu berlalu, Hanbin yang telah pulih dan sudah kembali bisa berjalan stabil pun pulang ke mansion. Jiwon membawanya dari rumah sakit dan orang-orang mansion telah menyambutnya dengan penuh suka cita. Tidak tahu apa yang sebenarnya dikatakan Jiwon seminggu lalu, namun Hanbin tidak pernah lagi menyinggung soal ibunya, bahkan tidak ada jejak kesedihan di wajahnya sama sekali. Yunhyeong berpikir bahwa mungkin Jiwon memang belum menceritakan apa-apa padanya. Selama dia datang ke rumah sakit untuk berjaga dan merawat Hanbin, pria itu masih sedingin sebelumnya. Tidak ada kata yang dia ucapkan seolah-olah dia telah lupa caranya berbicara. Yunhyeong melihat bahwa tuannya itu telah berganti dengan pribadi yang baru. Seolah-olah dia terlahir kembali, merasa begitu asing dengan dunia ini.

Pada hari ini, kekasihnya yang selama ini membantu menangani pekerjaan Hanbin bersama sekretaris Choi kembali dari perjalanan bisnisnya. Yunhyeong yang mendengar seseorang memberitahukan bahwa pria itu telah kembali tidak dapat menahan kebahagiaannya. Ketika melihat Hanbin tertidur di kamarnya dia pun bergegas pergi untuk menemui kekasihnya yang telah pergi selama seminggu untuk kepentingan pekerjaan itu. Saat turun, dia bergegas pergi ke deretan kamar para pekerja mansion di lantai satu. Saat itu mansion hanya terdiri dari bangunan utama saja, belum ada bangunan di samping kiri maupun kanan. Jadi kamar para pelayan maupun bodyguard berkumpul di lantai satu karena belum terlalu banyak yang bekerja disana.

Yunhyeong menghabiskan waktunya dengan kekasihnya selama beberapa saat untuk mengobati rindu. Hingga lewat tengah hari bel dari lantai atas, tepatnya kamar Hanbin, berbunyi. Menandakan bahwa Hanbin memanggilnya dan dia bergegas untuk pergi. Pria di sampingnya pun ikut berbenah diri untuk siap-siap bertemu Hanbin. Setelah itu mereka berjalan beriringan ke lantai atas untuk memenuhi panggilan tuan mereka. Yunhyeong bertanya-tanya apa sekiranya reaksi yang diberikan oleh Hanbin saat melihat bawahannya yang paling disayangi telah kembali? Meskipun sejak dia bangun tidak pernah sekalipun menanyakan keberadaannya, namun Yunhyeong cukup yakin jika Hanbin juga pasti ingin bertemu dengannya.

Yunhyeong masuk lebih dulu untuk memenuhi apa yang Hanbin butuhkan. Di dalam kamar, pria itu tengah berdiri di dekat jendela dengan wajah yang menghadap keluar. Dia masih mengenakan pakaian tidur dan tak bergeming meskipun Yunhyeong sudah berada di belakangnya, menanyakan apa yang dia butuhkan. Setelah hening beberapa saat, suara berat dan dalam milik pria itu akhirnya terdengar.

“Sore ini kita akan menemui ibuku.”

Yunhyeong membeku, sepuluh jemarinya mengepal sebelum berusaha senormal mungkin membuka suara. “Aku akan mempersiapkannya terlebih dahulu.”

Hening kembali. Pria itu tetap berdiri tegak dan tenang di dekat jendela, tidak mengatakan apapun lagi.

“Apa yang ingin kau kirim untuk Nyonya, Tuan Muda? Biarkan aku menyiapkan hadiahnya terlebih dahulu.” Yunhyeong sedikit bersusah payah menjaga suaranya agar tetap stabil.

“Siapkan hal yang paling disukainya.”
Itu pastilah bunga, jadi Yunhyeong mengangguk paham. “Akan segera aku persiapkan.”

“Persiapkan satu buket sederhana. Tidak perlu terlalu besar karena di tempatnya saat ini tidak akan cukup ruang untuk menyimpannya.”

Hati Yunhyeong terasa membeku saat mendengar ucapan Hanbin. Dari kata-katanya, seolah-olah pria itu telah tahu tentang ibunya yang sudah meninggal. Namun, kenapa tidak ada tanda-tanda duka dalam suaranya? Saat mengatakan kalimat seperti itu, dia begitu tenang. Apakah dia sungguh belum tahu atau dia sudah tahu namun berusaha menyembunyikan kesedihannya? Jika itu Hanbin dari satu tahun ke belakang, tidak mungkin baginya untuk menyembunyikan perasaan kehilangannya. Yang pergi adalah sosok yang menjadi separuh hidupnya selama ini, dulu saat ibunya sakit demam biasa saja dia benar-benar merasa terpukul dan tak ingin pergi barang sedetik pun dari sisinya. Bahkan dia lupa untuk merawat dirinya sendiri dan senantiasa murung sepanjang hari di samping ranjang sang ibu. Di beberapa kesempatan, Yunhyeong bisa menemukan kedua mata pria itu agak bengkak di pagi hari. Saat hanya ada dirinya dan sang nyonya besar, wanita itu berbisik dengan nada jenaka bahwa Hanbin telah menangis sepanjang malam untuknya. Hati Yunhyeong benar-benar tergelitik oleh kasih sayang Hanbin yang begitu besar terhadap ibunya. Dia tahu jika Hanbin memang selalu bergantung pada ibunya sejak kecil. Sang ibu adalah segalanya bagi Hanbin, cahaya yang senantiasa menyinari hidupnya selama ini. Dia telah menjadikan wanita itu sebagai satu-satunya cahaya dalam hidupnya, jika cahaya itu padam maka padam pula dirinya.

“Baik, Tuan.” Yunhyeong berusaha mengendalikan diri untuk tak jatuh menangis. “Dan... Tuan. Sebastian telah kembali. Apa kau mengizinkannya untuk masuk menemuimu?”

Hanbin tidak langsung menjawab dan hanya terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Yunhyeong pun segera kembali untuk membuka pintu dan membiarkan pria yang sedari tadi menunggu di depan pintu kamar untuk masuk.

“Tuan muda, maaf aku baru menemuimu. Aku baru kembali dari urusan pekerjaan di Jepang. Bagaimana kabarmu?”

Setelah sekian lama berdiri menghadap jendela, Hanbin pun berbalik untuk melihat bawahannya. Ekspresinya masih sedingin sebelumnya, tidak ada penyambutan yang hangat seperti dulu. Pria di hadapannya terkejut dengan reaksi Hanbin, lebih terkejut lagi dengan sikap acuh tak acuh dan dinginnya yang sama sekali belum pernah dia lihat sebelumnya. Dia tidak mengatakan sepatah kata pun selain berjalan dengan langkah tenang menuju sofa tunggal di samping jendela di sisi lain. Duduk dengan menyandarkan punggung sambil menyilangkan kedua kaki jenjangnya. Wajahnya dingin dan tatapannya tanpa emosi.
Baik Yunhyeong maupun pria yang dipanggil Sebastian itu hanya berdiri sambil memandang ke bawah, tak sanggup menatap wajah tanpa emosi itu. Kaki keduanya seakan-akan dipaku ke lantai sehingga mereka tak mampu bergerak barang sedikit pun. Aura di dalam kamar sang tuan berubah menjadi sedingin bilah pedang.

“Mulai hari ini, tidak ada lagi panggilan ‘tuan’ ataupun ‘tuan muda’.” Suaranya yang dalam dan dingin memecah kesunyian.

Kedua bawahan di depannya mengangkat kepala, menatap bingung pada tuan mereka yang masih mempertahankan wajah tanpa emosinya. Tidak ada yang berani bertanya, bahkan pria bernama Sebastian yang biasanya paling berani kepada Hanbin saat ini seperti lidahnya sedang membeku.

“Aku adalah seorang Master. Master dalam kekayaan, master dalam dunia bisnis, master dalam kekuasaan, master dalam dunia akademik dan master dalam keindahan. Kalian yang berada di bawahku mulai saat ini hanya diperbolehkan memanggilku Master. Tidak dengan panggilan lain.”

Yunhyeong dan Sebastian tersentak mendengar perintah baru dari Hanbin. Perintah yang berisi dengan kata-kata penuh keangkuhan. Ini benar-benar bukan dirinya. Selama ini dia tidak pernah membanggakan dirinya meskipun semua yang ada pada dirinya memang patut dibanggakan. Apakah ini benar-benar Kim Hanbin? Tuan sekaligus sahabat mereka yang baik dan rendah hati itu?

“Kita akan mengunjungi ibuku nanti. Biarkan aku istirahat. Kalian bisa pergi.” Tukas Hanbin sebelum bangkit dan berjalan menuju tempat tidurnya.

Yunhyeong dan Sebastian mengangguk kemudian membungkuk secara serempak sebelum berbalik pergi.

“Song Yunhyeong.” Panggil Hanbin tiba-tiba membuat pria cantik itu berhenti dan berbalik lagi.

“Ya, tuan... Ah, Master? Apa ada lagi yang kau perlukan?”

“Tutup tirainya.”

Yunhyeong mengerjapkan mata sebelum dengan segera melaksanakan perintah tuannya. Ini bahkan masih siang, namun Hanbin memintanya untuk menutup tirai. Setelah itu Yunhyeong segera berpamitan dan pergi. Kamar pun menjadi gelap, hanya ada figur seorang pria yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Kedua obsidian hitamnya masih tampak bersinar meskipun sekitarnya telah menjadi gelap. Menatap lurus ke arah dinding kosong di seberang ranjang.

“Siapapun, yang mengusikku, yang mengecewakanku, yang membangkitkan amarahku. Tidak ada ampun bagi mereka.”
Suara yang dingin itu tersebar di kamarnya yang gelap. Sekilas, figur wajah dengan mata yang bersinar itu tampak menyerupai figur seorang iblis.

Yunhyeong bergetar di tempatnya berdiri. Dia belum sepenuhnya menutup pintu saat Hanbin berbicara pada dirinya sendiri. Pria cantik itu bisa melihat figur mengerikan Hanbin dalam gelap, seolah-olah iblis tengah merasukinya dan mengucapkan kalimat kejam itu disana.

I'm Yours, Master Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang