Yes, they did

771 55 18
                                        


Sejujurnya, pemandangan orang bercinta bukan lagi hal baru untuk Changkyun.Dia pernah melihat pasangan Kwon bercinta di atas sofa mereka, begitu juga pasangan suami istri di lantai empat. Dan, satu lagi yang sampai hari ini Changkyun abaikan. Adalah pemuda Yoo yang pada suatu hari di musim dingin, mengundang temannya yang ternyata pemuda kekar di kamar 4.2, dan mereka bercinta. Di atas tempat tidur yang dekat dengan jendela.

Changkyun tidak merasa terkejut. Dia hanya merasa dunia terlalu sempit.

Dia melihat mereka melakukannya. Dan mengabadikan dalam lensa kamera, semua itu karena Changkyun sangat berbakat menjadi orang brengsek.

Dia juga lelah menghitung hari, jadi dia membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Ketika dia bangun esok harinya, mandi, makan, menjelajahi internet dan membalas email-email dari 'penderita' lainnya. Berbagi tips untuk tetap nyaman dan berani. Lalu, mengamati jendela-jendela seperti biasa. Benar-benar seperti biasa.

Changkyun juga sempat bertatap muka dengan pria yang lebih kecil. Berambut hitam dan memiliki senyum manis. Ketika Changkyun menatapnya, tidak ada rasa malu atau enggan. Dia sepenuhnya mengabaikan kenyataan bahwa malam kemarinnya. Changkyun, -pemuda sinting ini- melihat mereka bercinta dan memotret mereka dengan kamera digital lalu bertingkah seperti anak di bawah umur yang melihat orang tuanya membuat adik.

Dia mengabaikannya, lalu untuk apa Changkyun peduli.

Pemuda itu tahu hari-hari yang kemudian datang tetap tidak memberinya kesan yang berlebihan. Changkyun masih kelaparan dan senang untuk seperti itu. Bulan telah berganti. Memasuki bulan Desember yang bersiap dengan musim dingin. 

Salju memang belum turun. Dan Changkyun masih berharap musim gugur berlangsung selamanya. Dia benci salju. Semua jenis makanan yang dia beli akan terlambat datang dan dia terlalu kesepian untuk menikmati salju yang jatuh.

Pemuda itu melirik kucingnya yang terlihat tidak sehat sejak beberapa hari yang lalu. Minggu-minggu berganti begitu cepat untuk Changkyun yang sendirian. Pagi tadi, ketika dia baru saja terbangun setelah meminum beberapa gelas Wine -Changkyun tidak tahu kenapa seleranya minum Wine berkurang drastis- dia menghabiskan berjam-jam untuk memilah foto-fotonya. 

Dia memiliki banyak  hardisk untuk menyimpan foto-foto itu. Changkyun tahu dia mungkin akan merindukan saat-saat dia mengabadikan semua ini, atau semua ini akan membusuk seperti mayat Changkyun suatu saat nanti.

Oh, benar.

Pemuda itu meraih kucingnya yang terlihat lemas. Bulunya rontok dan Changkyun tidak tahu harus bagaimana. Ketika Changkyun beranjak, mengambil makanan kucing di dalam rak tinggi di samping dapurnya. Changkyun jelas melihat pria kekar itu duduk di ambang jendelanya. Menjuntaikan kakinya yang terbalut celana training hitam bergaris putih dan menatap jendela dapur Changkyun.

Tentu semua itu benar.

Changkyun merasakan tulang rusuknya dihantam sesuatu. 

Dan Changkyun melambaikan tangannya seperti yang pria itu lakukan. Di tangannya melambai kelembar kertas putih bercoretan spidol hitam. 

Apa pria itu mencoba mengajaknya bertukar pesan.

Changkyun tidak bisa menahan senyumannya ketika sadar memang itu yang diinginkan pria itu ketika dia menunjuk kertasnya dengan bersemangat. Dia terlihat seperti anak kecil dengan senyum sumringah seperti itu.

Kotak makanan kucing yang tadi Changkyun buka seketika terlupakan. Dia justru menyibukkan dirinya untuk memberi isyarat dia akan mengambil sesuatu. Changkyun perlu kertas dan alat tulis. Ah, dia juga perlu kamera. Matanya sangat minus untuk melihat sejauh itu.

Behind the Lens [end]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang