HATI TAK BISA DIPAKSA

5.8K 257 0
                                        


Dengan langkah berat, Hasna mengikuti perintah ayah dan ibunya. Meski hanya butuh waktu lima menit untuk sampai ke rumah dari kantor Abi, perjalanan itu dirasa lama.

Setelah sepuluh menit mematung di depan cermin yang terpasang di salah satu pintu lemari, barulah dipakai gamis marun dengan kerudung senada. Tanpa memastikan kerapian tampilan, dia duduk di tepi ranjang. Dihela napas dalam-dalam seiring lantunan istigfar untuk menghilangkan kekesalan.

Diraih ponsel yang tergeletak sembarang di atas ranjang yang tertutup sprei merah muda dengan gambar hati kecil-kecil. Baru saja akan meraihnya, panggilan untuk segera menemui tamu sudah terdengar dari balik pintu.

Dengan ekspresi datar, Hasna melangkah menuju ruang tamu tempat pertemuannya dengan lelaki yang dicomblangkan Kyai. Detak jantungnya sedikit mengencang kala kaki akan menjejak ruangan tersebut. Sebelum langkah dilanjutkan, ditarik dahulu udara sebanyak mungkin agar kesempitan di rongga dada, menghilang.

Hasna makin gugup tatkala tirai pemisah ruang keluarga dan ruang tamu tersibak. Tiba-tiba lututnya gemetar, tubuh pun ikut melemas. Kehadirannya membuat Kyai dan Gus Reyhan, putra pemilik pesantren dari Jombang berpaling ke arahnya. Pemuda gagah berkulit sawo matang itu mengangguk dan melengkungkan sudut bibir menyambut sang gadis. Saat pandangan keduanya bertemu, terasa ada yang bergetar di tepian hati Gus.

Kali ini, Hasna tak terlalu kaku. Obrolan hangat ustaz muda pewaris pesantren ayahnya itu mampu mencairkan suasana. Selera humor pemuda itu sesekali mengurai tawa, juga canda.

Dua jam tak terasa perbincangan mengalir begitu rupa. Hati Kyai diliputi asa bahwa putrinya akan menerima. Dilirik wajah dengan binar indah di sampingnya, ada harapan di sana.

Kyai menepuk-nepuk telapak tangan Hasna, mengalirkan tanda bahwa jangan mengecewakannya. Gadis itu menoleh sekilas, kedua netra beradu pandang, lalu kembali dipalingkan pada pria yang sedang terpanah asmara.

Di ujung prosesi taaruf, Kyai memutuskan untuk memberi waktu berfikir selama tiga hari kepada pasangan yang bertaaruf ini. Keduanya diberi kesempatan untuk menimbang berbagai hal sebelum memastikan apakah akan dilanjutkan ke fase khitbah atau tidak. Tak lupa, sebelum taaruf ini benar-benar berakhir, Kyai menyelipkan tausiah bahwa apapun yang terjadi, itulah yang terbaik dari Allah.

Tak ingin ditanya macam-macam, lepas pria itu menghilang dari pandangan, Hasna cepat-cepat berdiri dari sofa krem keemasan dan pergi dari ruangan.

“Hay, Hasna bagaimana dia?”  tanya Hasna pada dirinya sendiri.

Setelah melepas kerudung dan jilbabnya, gadis itu berdiri di depan cermin di dinding sebelah ranjang, lalu bertanya pada bayangan di sana.

“Entahlah!”

Dijengkitkan bahu lalu tertawa perlahan.

Di jam makan malam, Kyai dan Umi sudah siap dengan pertanyaan. Setelah bicara ke sana-sini, sampai juga pada titik paling krusial.

“Baik, bersahabat, dan ....“

“Apa?” sela umi saking tak sabar

“Cocok buat Rum.” jawab Hasna dengan wajah tanpa merasa bersalah. Lepas itu  kembali mengunyah makanan.

Kyai dan istrinya saling pandang dengan tatapan yang sulit diartikan. Di leher keduanya seperti ada sumbatan yang membuat sesak pernapasan. Melihat tatapan tak menyenangkan, gadis itu undur diri meninggalkan abi dan umi yang tengah diliputi kebingungan.

“Sepertinya gagal lagi, Yayi,“ keluh Kyai.

Lepas kepergian putrinya, Kyai berkata perlahan pada istri yang senantiasa dipanggil dengan sebutan kesayangan’Yayi’. Kata yang merupakan modifikasi dari Rayi atau adik dalam bahasa Sunda.

“Sepertinya, Kang.“

Keduanya saling pandang, lalu tertawa hambar.

“Jangan pantang menyerah, Kang. Baru dua ini!” tukas umi.

“Akang punya ide!” seru Kyai.

Umi melirik suaminya dengan tatapan penuh tanya. Teh hangat yang baru akan diminum, diletakkan kembali di meja. Wanita paruh baya itu langsung bertanya, “Ide apa?

*****

Tiga hari ini Hasna sedang sibuk-sibuknya mengerjakan tugas menyusun evaluasi pengaruh pembelajaran pelajaran aqidah pada cara berpikir dan bersikap santriwati kelas sepuluh, sebelas dan duabelas. Karena evaluasi ini berupa deskripsi detil, waktunya terkuras habis, sampai-sampai tak sempat ngobrol dengan Rum.

Di jam istirahat, beres sholat dan makan, langsung berkutat kembali dengan tumpukan tugas dari mudir. Kelelahan raga kentara di raut wajah yang tak cerah. Hanya saja, ada keuntungannya juga, dia bisa menghindari perbincangan dengan kedua orang tuanya terkait penolakan pada lamaran Gus Reyhan.

“Alhamdulillah, akhirnya kelar juga!”  seru Hasna. Ia hampir melompat kala tugas terakhir yang diamanahkan padanya telah berhasil dituntaskan.

Belum sempat membereskan tumpukan berkas, seseorang yang sudah memasang tampang penasaran menarik tangannya. Hasna pasrah saja saat Rum memaksanya keluar ruangan menuju tempat yang terletak dua ratus meter di belakang ruang ustazah. Tepatnya di samping aula serba guna khusus akhwat.

Keduanya duduk bersisian di lantai keramik hijau teras aula. Di seberangnya ada deretan pohon bonsai dan tanaman perdu yang dibentuk menjadi bulat. Dibawahnya dihamparkan rumput serta bebatuan kecil.

“Anak Kyai mana? Jamil, gak? Hafiz Qur’an? Gimana? Cocok, gak?” tanya Rum. .
Belum genap satu semenit duduk, Rumaisa langsung saja memberondong Hasna dengan berbagai pertanyaan. Yang ditanya mengerucutkan bibir, memutarkan bola mata.

“Cocok buat kamu!” jawab Hasna

“Laah, kok aku?” tanya Rum. Gadis berhijab biru dongker itu menepuk jidat. Hasna tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya.

“Hati gak bisa dipaksa, Rum. Mau dia sholeh, ganteng, kaya. Kalau kita gak ikhlas mau apalagi,” ucap Hasna dengan nada lebih serius. Pandangannya dipertemukan dengan sepasang netra sayu di sisi kanan.

“Iya, sih,” gumam Rum.

“Aku bukannya pilih-pilih atau memasang kriteria tinggi. Itu gak benar sama sekali. Alasanku cuma satu, belum sreg di hati alias tak ikhlas,” jelas Hasna. Rum manggut-manggut, jari disimpan di antara bibir dan dagu.

“Kamu benar, Neng. Yang utama dari sebuah hubungan itu ‘kan keikhlasan, bahkan perempuan yang dinikahkan tanpa izinnya juga boleh menggugat cerai saat dia tahu,” ungkap Rum.

Hasna melengkungkan bibir mendengar temannya menyetujui alasan kali ini.

“Nah, kalau sama Aa Hafiz, aku ikhlas deh pasti, suer!” canda Rumaisa. Ia mengerjap-ngerjapkan mata pada gadis yang tengah menatapnya lekat.

“Janganlah, aku gak mau punya ipar kayak kamu, hehehe!” Rum melotot mendengar candaan temannya. Sebelum dicubit, Hasna berdiri dan melangkah cepat-cepat meninggalkan gadis yang lebih pendek lima centi darinya.

Setelah dipastikan Rum tak mengikutinya lagi, gadis itu memperlambat jalan. Perlahan diatur napas yang sedikit tersengal sebelum masuk kembali ke ruangan guru untuk mengambil sarana prasarana mengajar santriwati Aliyah.

*

Novel CALON MANTU KYAI ready stok!

Rp 99 000
.
081261934594

CALON MANTU KYAICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang