Setelah beberapa saat lamanya, Davis pun kembali ke kelasnya dengan hati-hati. Ia juga tak lupa untuk membuka pintu kelas secara perlahan agar tak mengganggu konsentrasi belajar teman-temannya yang lain. Namun ketika tubuhnya berbalik, didapatilah tatapan penuh curiga dari teman-teman serta guru yang seolah-olah memang sudah menanti-nantikan kedatangan Davis sejak lama. "Permisi pak", sapa Davis sopan namun terkesan kaku pada gurunya itu. "Kamu itu tadi kemana? Bilangnya ke toilet tapi kok lama sekali?", tanya guru tersebut dengan penuh perasaan curiga bercampur kesal. Mendengar pertanyaan yang sudah ia duga itu, Davis hanya bisa tersenyum kikuk sambil menundukkan kepalanya.
***
"Eh, Sya! Gue tadi udah lihat pengumuman di mading. Dan lo tahu nggak? Ternyata besok Sabtu bakalan ada audisi buat pentas teater!", kata Prisca bersemangat menceritakan apa yang telah ia temukan tadi saat berjalan di koridor.
"Oh, iya! Gue lupa, Pris. Emang audisi teater kan bentar lagi diadain. Kayak yang udah gue ceritain sebelumnya", jelas Tasya.
"Gue mau ikut! Sumpah, gue seneng banget akhirnya di sekolah ini ada teater juga!", kata Prisca dengan wajahnya yang terus berseri-seri.
"Baguslah. Gue tahu kok lo itu emang berbakat. Lo pasti bisa! Jangan sampai bikin malu gue karena udah ngerekomendasiin elo, ya!", kata Tasya memberi semangat.
"Tenang aja", jawab Prisca tersenyum senang.
"Dapet 85? Yah, nggak jeleklah...", celetuk Vina tiba-tiba ketika melihat nilai tugas Geografi yang baru saja dibagikan. Mendengar celetukan gadis menyebalkan itu sama sekali tak membuat Prisca terkejut. Tentu saja karena ia sudah mengetahuinya terlebih dulu. "Hmm.. giliran dapet bagus aja langsung pamer!", kata Tasya lirih. Prisca hanya mengangguk setuju. "Yah, seenggaknya gue bisa dapet 88. Not bad. Lo dapet nilai berapa, Pris?", tanya Tasya. Masa SMA. Masa anak sekolah dimana nilai tinggi merupakan sebuah prestasi yang patut dibanggakan. Dan sebaliknya, nilai rendah akan selalu ditutupi.
"Ha? Apa? Gue?", jawab Prisca gugup.
"Lo kok langsung panik gitu sih? Kayaknya lo dapet nilai jelek nih...", seperti biasa sebagai orang sudah mengenal Prisca dengan sangat baik, Tasya mulai menerka-nerka.
"Dih, enak aja! Enggak dong...", kata Prisca membela diri sambil berusaha menyibukan diri dengan hal lain.
"Oh ya? Mana? Gue mau lihat!"
"Aduh, udah gue masukkin tas bukunya, males mau ngeluarin lagi. Udah ah, nggak jelek kok", elak Prisca teguh.
"Ok kalau gitu. Yah, walaupun sebenernya gue nggak percaya. Tapi nggak apa-apa kalau lo nggak mau nunjukkin, gue sih nggak maksa." Prisca mulai bernapas lega meskipun Tasya tak semerta-merta mempercayainya. Namu sejenak Prisca kembali teringat akan sesuatu. Meskipun bukan hal besar, namun ia masih merasa terancam karena selain dirinya, guru, dan Tuhan, ada satu orang di dunia ini yang tidak ia harapkan mengetahui nilainya yang jelek itu. Davis.
****
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga, yaitu hari diadakannya audisi untuk pentas teater sekolah. Tak disangka-sangka ternyata banyak murid yang datang untuk ikut berpartisipasi dalam pentas teater ini, sepertinya usul yang diberikan oleh Davis sangatlah tepat. Ada sekitar 50 siswa yang datang untuk mengikuti audisi tersebut. Minat mereka pun bermacam-macam. Ada yang ingin menjadi pemeran teater, menjadi crew, dan lain-lain. Tetapi,tentu saja tidak semuanya akan berhasil masuk karena kapasitas yang dibutuhkan terbatas. "Gimana, Dave? Semuanya udah siap?", tanya Denta pada Davis yang berperan sebagai penanggung jawab dari jalannya audisi ini. Hal ini tentu saja didasari karena Davis adalah pencetus ide serta dianggap sebagai orang yang paling mengerti kebutuhan untuk audisi teater kali ini. Selain itu, sang pelatih sekaligus juri untuk audisi hari ini juga termasuk pilihan dari Davis sendiri. "Hampir. Tinggal nunggu pelatihnya aja, karena dia juga yang akan nilai kualitas pemain kita."

KAMU SEDANG MEMBACA
High School, I'm in Love
Teen FictionKisah romansa remaja. Prisca si gadis ceria yang selalu bertengkar dengan kakak kelasnya, Davis yang telah merusak hubungannya dengan cinta pertamanya, Alex. Dalam perjalanannya yang dilengkapi dengan kisah persahabatan dan mimpi dalam dunia teater...