54

823 143 47
                                        

Dona berdiri di samping tempat tidur, menatap Bella yang terlelap dengan selimut menutupi tubuhnya. Suhu tubuh Bella sudah turun, dan meskipun masih tampak lemah, dia terlihat sedikit lebih tenang. Dona memeriksa termometer yang ia letakkan di samping tempat tidur, memastikan tidak ada yang terlewatkan. Suhu tubuh Bella kini normal, dan Dona merasa sedikit lega.

Namun, saat matanya kembali menatap wajah Bella yang terlelap, ada sesuatu yang mengganggu dirinya. Sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Mungkin karena semalaman ia merawat Bella dengan penuh perhatian, atau mungkin karena Bella kini sangat rapuh di hadapannya.

Dona merasa dorongan untuk mendekat, untuk memastikan semuanya benar-benar baik-baik saja. Perlahan, ia menyentuh pelipis Bella, merasakan sisa panas yang masih ada di sana. Wajah Bella tampak begitu tenang, dan entah mengapa, Dona tak bisa menahan diri untuk tidak mendekatkan wajahnya.

Ia menunduk sedikit, dan bibirnya hampir menyentuh pipi Bella yang halus. Detak jantung Dona meningkat. Apakah aku... ingin mencium Bella? pikirnya. Rasa cemas dan ragu mulai muncul. Bagaimana jika ini hanya perasaan sesaat? Bagaimana jika aku salah?

Bella, yang sebenarnya sudah sadar sejak beberapa detik yang lalu, pura-pura tetap terlelap. Dia bisa merasakan kedekatan Dona, bisa merasakan hembusan napas Dona yang semakin dekat. Ada perasaan yang tak terungkapkan di dalam dirinya—kegelisahan, rasa ingin tahu, dan bahkan sedikit kegembiraan.

Apa Dona akan menciumnya? Bella bertanya-tanya, hatinya berdebar-debar lebih kencang daripada sebelumnya. Dalam hatinya, dia merasa takut, sekaligus tertarik. Perasaan yang bertentangan ini begitu membingungkan, tetapi dia tidak ingin menghentikan momen ini.

Namun, justru ketika bibir Dona hampir menyentuh kulit Bella, Dona tiba-tiba mengurungkan niatnya. Perlahan, ia mundur, menarik napas dalam-dalam, dan merapikan selimut Bella. Ada perasaan canggung yang muncul begitu ia menarik dirinya kembali.

Dona merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Ia berbalik, berniat untuk pergi dan meninggalkan Bella untuk beristirahat lebih lama. Namun, sebelum dia melangkah lebih jauh, ia mendengar suara napas Bella yang sedikit lebih cepat. Bella membuka mata perlahan dan memandang Dona yang berdiri di sisi tempat tidur.

Dona tersenyum gugup, berusaha menutupi kebingungannya. “Tidur aja lagi, Kak,” katanya sambil merapikan rambut Bella yang sedikit berantakan.

Bella hanya mengangguk, berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya masih berdegup kencang. “Terima kasih sudah merawatku,” jawabnya pelan, matanya masih menatap Dona dengan tatapan yang tak bisa ia jelaskan.

Dona tersenyum lagi, tetapi kali ini lebih terkesan canggung. “Aku ...  ke ruang tamu sebentar,” katanya sambil berbalik dan berjalan keluar.

Bella menghela napas pelan, masih terjebak dalam perasaan yang tidak bisa ia pahami. Apa yang baru saja terjadi? pikirnya, matanya tertutup kembali, tapi hatinya tetap berdebar-debar.

***

Votes dan komen.

Bella Mooi (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang