60

946 83 8
                                        

Bella dan Dona duduk di ruang meeting kantor P-Farma, berhadapan dengan Reno. Reno, sepupu Bella sekaligus direktur pemasaran P-Farma, terlihat santai sambil menyeruput kopinya. Namun, matanya jelas menyiratkan rasa penasaran yang besar.

"Jujur aja," Reno membuka percakapan, "aku masih kaget saat tahu Bella Mooi itu laki-laki. Lebih kaget lagi waktu tahu dia suaminya Bella." Reno menatap keduanya bergantian, bibirnya melengkung membentuk senyuman kecil.

Dona menunduk sedikit, merasa tidak enak. "Saya benar-benar minta maaf, Mas Reno. Saya nggak ada niat menipu atau merugikan. Semuanya berawal dari tantangan iseng, tapi ternyata keterusan."

Reno melambaikan tangan, menandakan dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. "Ah, santai aja. Dunia entertainment itu memang dunia tipu-tipu, Dona. Banyak orang memakai topeng. Ada yang berpura-pura baik, ada yang berpura-pura kaya. Selama nggak merugikan orang lain, aku nggak terlalu ambil pusing."

Dona terlihat lega, tetapi Reno melanjutkan dengan nada menggoda. "Tapi yang bikin aku penasaran, kalian berdua gimana ceritanya bisa sedekat ini? Jangan-jangan selama kerja sama, kalian malah saling jatuh cinta?"

Bella mendengus sambil menyilangkan tangan di dada. "Reno, jangan mulai dengan teori aneh-anehmu."

Reno tertawa kecil. "Eh, tapi serius, aku ingat waktu itu aku pernah menempatkan Bella sama Bella Mooi di kamar hotel yang sama. Aku pikir kalian bakal protes, tapi ternyata nggak ada masalah."

Wajah Bella memerah, dan dia dengan cepat mengalihkan pandangan. Dona, di sisi lain, hanya tersenyum tipis tanpa menjelaskan lebih jauh.

"Kisah cinta kalian ini menarik, loh," Reno melanjutkan dengan nada antusias. "Kalau diangkat ke publik, pasti bakal viral. Bayangin aja: seorang beauty influencer ternyata adalah seorang pria, dan dia menikah dengan salah satu brand ambassador terbesar di perusahaan kami. Dramanya komplit!"

"Nggak!" Bella memotong dengan tegas. "Aku nggak mau kehidupan pribadiku jadi konsumsi publik, apalagi dijadikan bahan promosi."

Reno mengangkat alis, terlihat sedikit terkejut dengan ketegasan Bella. "Santai, Bel. Aku cuma bercanda kok. Tapi ngomong-ngomong," Reno melirik Dona, "gimana sih kamu bisa sabar menghadapi Bella yang, jujur aja ya, kadang menyebalkan ini?"

Bella melotot ke arah Reno, tetapi sebelum dia bisa membalas, Dona menjawab dengan senyuman hangat. "Kak Bella itu nggak menyebalkan, Mas. Justru, hidup saya jadi indah dan menyenangkan setelah mengenal Kak Bella."

Bella terpaku, tidak menyangka jawaban seperti itu keluar dari mulut Dona. Reno hanya bersiul pelan, tampak terhibur. "Wah, gombalnya. Tapi aku percaya sih. Kalau kamu bisa bilang begitu, berarti kamu memang tulus."

Dona mengangguk pelan. "Saya memang tulus, Mas. Kak Bella itu... ya, segalanya buat saya."

Ruangan itu hening sesaat, atmosfernya berubah menjadi sedikit canggung bagi Bella. Dia cepat-cepat bangkit dari kursinya. "Kalau kita udah selesai bicara soal konsep baru, aku mau pulang."

Reno tertawa kecil melihat reaksi Bella. "Oke. Tapi ingat, kalau kalian berubah pikiran soal kisah cinta kalian, kabarin aku ya. Siapa tahu bisa jadi proyek besar berikutnya!"

Bella hanya mendengus sambil melangkah keluar, diikuti Dona yang tersenyum tipis. Meskipun percakapan itu membuat Bella kesal, kata-kata Dona terus terngiang di pikirannya, membuatnya sedikit lebih hangat di dalam hati.

***

Besok aku akan update chapter terakhir novel ini untuk versi Wattpad. Yang penasaran bisa baca kelanjutannya di Karyakarsa yak. Kalian bisa baca mulai dari volume 21 yak.

Bella Mooi (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang