Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Dona membuka pintu rumah dengan langkah berat. Wajahnya kusut, dan tubuhnya terasa seolah dihantam badai. Ia masuk ke ruang tamu, di mana Bella sedang bermain dengan Lita yang tertawa riang di atas karpet.
Melihat Dona, Bella langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Kamu kenapa? Kok kelihatan capek banget?" tanyanya sambil berdiri dan menghampiri.
Dona menjatuhkan tubuhnya ke sofa, melepas dasi dan jas yang dikenakannya saat menjadi Bella Mooi di acara tadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, lalu menghela napas panjang. “Hancur... semuanya hancur, Kak.”
Bella duduk di sebelahnya, menatap Dona dengan serius. "Hancur gimana? Cerita dong."
Dona mengangkat kepalanya, menatap Bella dengan mata merah yang tampak lelah. "Identitasku ketahuan, Kak. Semua orang tahu kalau Bella Mooi itu... aku."
Bella mengerutkan kening, jelas terkejut. "Ketahuan? Maksudnya, mereka tahu kamu sebenarnya laki-laki?"
Dona mengangguk lemah. “Iya, Kak. Tadi ada penggemar yang maksa selfie. Aku nolak karena buru-buru. Tapi dia malah curiga dan maksa. Terus dia narik bajuku... semuanya ketahuan. Parahnya lagi, ada orang lain yang live di media sosial pas kejadian itu.”
Bella terdiam sejenak, mencerna situasi tersebut. Ia menghela napas panjang, mencoba bersikap tenang. “Oke, ini memang nggak mudah. Tapi jangan panik dulu, Don. Kita cari solusinya sama-sama.”
Dona menatap Bella dengan wajah penuh keputusasaan. “Solusi apa, Kak? Karierku sebagai Bella Mooi udah tamat. Orang-orang pasti merasa ditipu. Gimana besok aku harus ngadepin mereka di rumah sakit?”
Bella menatap adiknya dengan tegas. “Don, dengar ya. Kalau identitas kamu terbongkar, itu bukan berarti hidupmu selesai. Kamu cuma perlu ganti strategi. Kamu nggak harus jadi Bella Mooi lagi. Kamu bisa jadi diri kamu sendiri—Dona. Cowok ganteng yang jago banget dandan dan bisa bikin konten lebih menarik.”
Dona mendengus, tidak yakin. "Kakak pikir orang-orang bakal terima?"
“Kenapa nggak?” Bella mengangkat bahu. “Mereka mungkin kecewa sebentar, tapi orang-orang suka hal baru. Kamu bisa ubah konsep. Lagipula, kamu tuh ganteng, Don. Itu aset besar.”
Dona menatap Bella dengan mata skeptis. “Jadi, Kakak pikir orang bakal maafin aku karena aku ganteng?”
Bella tertawa kecil, lalu menimpali dengan nada bercanda, “Ya, jelas lah. Publik gampang luluh sama cowok ganteng.”
Ucapan Bella membuat Dona tertawa kecil, meski masih terlihat sedikit ragu. “Kak, aku serius.”
“Aku juga serius,” jawab Bella dengan nada lebih lembut. “Intinya, Don, jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri. Kamu lebih dari sekadar Bella Mooi. Kamu punya banyak hal yang bisa kamu tunjukin ke dunia. Fokus ke situ.”
Dona terdiam sejenak, kemudian tersenyum tipis. “Kakak selalu tahu gimana bikin aku ngerasa lebih baik, ya.”
“Tentu saja,” jawab Bella sambil tersenyum penuh keyakinan. “Kan aku kakak kamu. Tugas aku memastikan kamu nggak terpuruk lama-lama.”
Dona menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Oke, aku coba buat nggak mikirin ini dulu. Tapi kalau besok aku diketawain di rumah sakit, Kakak harus tanggung jawab.”
Bella tertawa kecil. "Deal. Kalau ada yang berani ngetawain, aku yang urus."
Dona kembali tersenyum, merasa sedikit lebih lega. Meski masalah besar menimpanya, keberadaan Bella membuat semuanya terasa lebih ringan.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.