Bella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang.
dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
Pagi itu, Bella dan Dona memutuskan untuk memanfaatkan promo 12.12 untuk membeli baju baru untuk Lita. Mereka duduk di sofa ruang tamu, masing-masing dengan ponsel di tangan, sibuk menjelajahi aplikasi belanja online.
“Aku sudah masukin ini ke keranjang,” kata Dona sambil menunjukkan layar ponselnya. Pilihannya adalah gaun kecil berwarna merah muda dengan renda-renda di bagian lengan dan rok.
Bella menatapnya dengan tatapan tajam. “Serius, Dona? Itu kelihatan norak banget. Lita bukan boneka, tahu.”
Dona mengangkat bahu. “Apa salahnya sedikit gaya? Anak perempuan itu harus cantik dan menarik.”
“Cantik itu tidak harus pakai renda berlebihan,” balas Bella sambil menunjukkan pilihannya—sebuah baby doll polos berwarna pastel tanpa motif. “Ini simpel, manis, dan nyaman.”
Dona mendecak. “Terlalu biasa. Nanti Lita malah kelihatan seperti anak panti.”
Bella mengernyit. “Hei, jangan bawa-bawa panti asuhan. Kamu itu suka meremehkan hal-hal sederhana. Tidak semua harus berlebihan.”
Perdebatan pun semakin sengit, dengan masing-masing mempertahankan pilihannya. Lita yang sedang berbaring di atas playmat memperhatikan mereka dengan mata bulatnya yang ceria.
“Bagaimana kalau kita tanya Lita saja?” usul Dona akhirnya.
Bella mendengus. “Tanya bayi? Kamu ini serius?”
“Tentu saja! Lita bisa memilih, kan, Lita sayang?” Dona menghampiri bayi itu dan menunjukkan dua pilihan baju di ponselnya. “Kamu suka yang mana, hmm?”
Lita, tentu saja, tidak memberi respons. Namun, tiba-tiba dia menggerakkan tubuhnya dengan usaha keras, seolah mencoba tengkurap.
“Lihat, dia hampir tengkurap!” seru Bella, suaranya penuh antusias.
Dona segera berjongkok di samping Lita. “Ayo, Lita! Kamu pasti bisa!” katanya menyemangati.
Bella ikut berlutut. “Ayo, sayang, hanya sedikit lagi. Kamu hebat, Lita!”
Lita mengerahkan semua tenaganya, dan dengan dorongan kecil dari tangannya, dia akhirnya berhasil tengkurap untuk pertama kalinya.
“Dia melakukannya!” teriak Dona, suaranya penuh kebanggaan.
Bella tersenyum lebar, perasaan haru memenuhi hatinya. “Lita, kamu luar biasa! Mama bangga sekali sama kamu.”
Dona mengulurkan tangannya untuk memberikan tos pada Bella. “Kerja sama yang bagus, ‘Mama’.”
Bella hanya memutar matanya tetapi tetap menerima tos itu. “Kamu tahu, saat-saat seperti ini membuat semuanya terasa berharga. Bahkan perdebatan bodoh kita tadi.”
Dona tertawa kecil. “Yah, setidaknya kita sepakat soal satu hal—Lita itu anak yang luar biasa.”
Mereka berdua duduk di lantai, memandangi Lita yang sekarang tampak puas dengan pencapaiannya.
“Jadi,” kata Dona akhirnya, “tentang baju tadi, siapa yang menang?”
Bella tertawa. “Lita yang menang. Dia yang jadi pusat perhatian hari ini.”
Dona mengangguk. “Setuju. Lagipula, dia baru saja membuat momen yang tidak akan kita lupakan.”
Walau pernikahan mereka hanyalah kontrak, momen seperti ini membuat keduanya sadar bahwa ada kebahagiaan nyata yang bisa mereka nikmati bersama.
***
Vote dan komen ya gaes.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.