Dona duduk di sofa, gelisah sambil memandangi layar ponselnya yang terus bergetar. Nama "Reno, Direktur Pemasaran P-Farma" tertera di sana. Wajahnya tegang, tangan kanan memegang ponsel, sementara tangan kirinya sibuk menggigit kukunya. Bella, yang duduk di seberangnya sambil menggendong Lita, melirik Dona dengan alis terangkat.
"Kenapa nggak diangkat aja?" tanya Bella, heran.
Dona menggeleng kuat. "Enggak, Kak. Aku takut! Ini Reno, sepupumu sekaligus direktur pemasaran P-Farma. Dia pasti marah besar. Gimana kalau dia mau nuntut aku?"
Bella menatapnya, bingung. "Kenapa nuntut? Kamu kan nggak melakukan kejahatan. Ya udah, angkat aja, jelasin baik-baik."
"Tapi aku nggak tahu harus ngomong apa!" keluh Dona, menatap Bella dengan panik. "Kakak bantuin aku dong!"
Bella menghela napas panjang. "Don, dia nelpon kamu, bukan aku. Lagian aku juga nggak tahu harus bilang apa. Aku kan bukan kamu."
Dona makin bingung, akhirnya memutuskan untuk menolak panggilan itu. Dia menatap Bella dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Kak, jangan kasih tahu dia aku ada di rumah, ya?"
Baru saja Dona selesai bicara, ponsel Bella berbunyi. Nama Reno muncul di layar. Bella melirik Dona, yang langsung berdiri panik. "Kak, jangan angkat!" bisiknya sambil melambai-lambaikan tangan.
Bella mendesah. "Dia sepupuku, Don. Kalau aku nggak angkat, dia bakal curiga." Bella menggeser layar untuk menerima panggilan itu.
"Halo, Ren," sapa Bella dengan suara biasa.
"Halo, Bel," suara Reno terdengar santai di seberang, tapi jelas mengandung nada penasaran. "Aku mau tanya nih. Apa benar Bella Mooi itu Ahmad Ramadona, suamimu?"
Bella terdiam beberapa detik. Pertanyaan itu terasa seperti petir di siang bolong, meski sebenarnya dia tahu jawabannya pasti sudah tersebar luas di internet. "Eh, iya. Kok bisa tahu?"
Reno tertawa kecil. "Ya ampun, Bel. Netizen zaman sekarang itu lebih cepat dari detektif swasta. Mereka menemukan bukti foto, suara, sampai gerakan Dona waktu di talk show tadi. Hebat, kan?"
Bella mengangguk pelan meski Reno tidak bisa melihatnya. "Oke, iya. Aku memang sudah tahu soal itu. Jadi, gimana menurutmu? Kamu merasa ditipu?"
Reno terdiam sesaat sebelum menjawab. "Ditipu? Nggaklah. Aku cuma kaget. Dona itu aktingnya sempurna banget sebagai Bella Mooi. Aku nggak nyangka dia bisa seluwes itu."
Bella mendesah lega, tapi masih penasaran. "Kamu nggak takut citra produk P-Farma bakal ikut kena imbasnya?"
Reno malah tertawa. "Justru ini kesempatan emas. Kasus ini viral, kan? Itu artinya kita dapat eksposur gratis. Aku malah kepikiran buat bikin lini skincare khusus pria. Dona itu contoh sempurna buat kampanye kita."
Bella mengangkat alis, tidak menyangka Reno berpikir sejauh itu. "Jadi, kamu nggak marah?"
"Marah? Nggak, malah aku mau ketemu Dona besok buat diskusi konsep. Tolong sampaikan ya."
Bella mengiyakan dengan senyum tipis. Setelah menutup telepon, dia menatap Dona, yang sejak tadi mendengarkan percakapan itu dengan gugup.
"Gimana?" tanya Dona cemas.
Bella tersenyum kecil. "Dia nggak marah. Malah, dia pengen ketemu kamu besok buat diskusi soal skincare pria."
Dona memandang Bella dengan mata melebar, antara tidak percaya dan lega. "Beneran dia nggak marah? Aku kira dia bakal ngamuk."
Bella menepuk bahu Dona. "Santai aja, Don. Kadang apa yang kita takutkan nggak seburuk kenyataannya. Jadi, besok kamu tinggal temui dia dan bicarain ide-idenya."
Dona menghela napas panjang, merasa bebannya sedikit berkurang. "Alhamdulillah. Aku kira hidupku bakal kacau setelah ini."
Bella tersenyum tipis. "Kamu cuma perlu percaya diri, Don. Dunia nggak akan berakhir hanya karena kesalahan kecil."
Mendengar itu, Dona akhirnya tersenyum, merasa sedikit lebih kuat untuk menghadapi hari esok.
***
Votes dan komen ya guys.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (Republish)
RomanceBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
