Bella tidak bisa menahan perasaan cemburu yang membuncah saat melihat Dona dan Dea berbicara akrab. Wajah mereka tampak begitu dekat, tawa mereka berbagi kenangan lama, dan Bella merasa seperti ada yang mengganjal di dalam dadanya. Rasa cemburu itu muncul begitu saja, meskipun dia tahu hubungan mereka hanya pernikahan kontrak.
Saat mereka kembali ke rumah, Bella langsung menegur Dona. "Dona, aku perlu bicara denganmu."
Dona menoleh, sedikit bingung. "Ada apa?"
Bella memandangnya dengan mata yang tajam, mencoba menenangkan emosinya. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang Dea."
Dona mengingat kejadian beberapa tahun lalu, saat dia pernah melihat Dona dan Dea berdua di taman rumah sakit. Mereka tampak begitu akrab, dan bahkan Bella sempat melihat Dona yang hampir mencium Dea. Kenangan itu kembali menyergapnya.
"Dea, kenapa sama Dea?" tanya Dona yang masih belum memahami situasi.
Bella terdiam sejenak. Dia sendiri bingung kenapa dia harus mempertanyakan hubungan Dona dengan Dea. Mereka kan hanya menikah secara kontrak saja. Tapi dulu Dona pernah mengatakan kalau mereka jatuh cinta pada orang lain, maka kontrak mereka harus dibicarakan lagi. Sementara Dona yang melihat wajah kebingungan Bella entah mengapa justru merasa senang. Dalam hatinya dia jadi berpikir mungkinkah jika Bela cemburu pada Dea?
"Apa kamu suka sama Dea?"
Dona mengerjap-ngerjap. Tidak menyangka Bella akan langsung bertanya seperti itu.
"Nggaklah, Dea itu hanya temen seangkatan aja," aku Dona.
"Teman seangkatan? Tapi kenapa aku merasa kamu sangat dekat dengan Dea? Bahkan kamu hampir mencium dia waktu itu, kan?" Bella menatap Dona dengan ekspresi serius.
Dona langsung teringat kejadian itu, dan wajahnya memerah. Padahal kejadiannya sudah sangat lama. Ternyata Bella masih mengingatnya. "Itu... itu bukan seperti yang kamu pikirkan."
"Apa maksudnya?" Bella bertanya, sedikit tidak sabar.
Dona menggelengkan kepalanya dengan gugup. "Itu... hanya insiden kecil. Aku cuma mau mengambil bulu mata yang jatuh di pipinya."
Bella menatap Dona, mata hitamnya menyala. "Bulu mata? Begitu saja kamu hampir mencium dia?"
Dona merasa sangat malu, wajahnya semakin memerah. "Iya, itu cuma kecelakaan, Kak. Nggak ada apa-apa."
Bella diam sejenak, lalu dengan nada lebih tajam bertanya, "Lalu semalam? Apakah ada bulu mata yang jatuh di pipiku juga?"
Dona terkejut mendengar pertanyaan itu. "Kamu... kamu bangun waktu itu?"
Bella mengangguk dengan santai, meskipun ada rasa cemas yang mulai menyelinap. "Aku bangun dan melihat kamu sangat dekat denganku. Jadi, kalau tadi ada bulu mata yang jatuh, kenapa kamu tidak ambilkan saja tanpa harus sedekat itu?"
Dona terdiam, wajahnya semakin merah. Mendadak dia jadi gugup. "Bella, itu... itu bukan yang kamu kira. Aku... aku..."
Kalimat Dona mengambang di udara. Dia sendiri merasa lidahnya kelu. Apakah sebaiknya dia mengaku saja kalau dia memang mau mencium Bella? Apa sebaiknya dia mengakui saja kalau dia memang memiliki perasaan pada Bella? Tapi bagaimana pandangan Bella padanya nanti?
"Kamu mau ngapain?" kejar Bella.
Dona menarik napas panjang dan akhirnya menjawab. "Aku hampir mencium kamu, karena kamu tertidur begitu tenang, dan aku ... tapi aku... aku tidak jadi melakukannya."
Bella tertegun. Debaran aneh seketika menjalar di hatinya. "Kamu hampir menci...?"
Dona mengangguk perlahan, merasa cemas dan bingung dengan reaksinya sendiri. "Iya... aku hampir melakukannya, tapi aku mengurungkan niatku. Aku takut kalau aku melakukannya, kamu akan terbangun dan... nggak suka."
Bella menatap Dona, cemas dan bingung. "Kenapa kamu nggak bilang saja? Kenapa harus diam-diam?"
Dona menghela napas, merasa nggak enak. "Aku takut, Kak. Aku takut kalau aku melakukannya, hubungan kita jadi berubah. Aku hanya ingin tetap dekat denganmu, nggak lebih."
Bella merasa bingung dan canggung, tapi ada sesuatu yang menghangatkan hatinya. "Kenapa... kenapa kamu bisa... merasa seperti itu?"
Dona menatap Bella, mencoba menyusun kata-kata. "Karena aku mulai merasa lebih dari sekadar teman dan suami kontrak, Kak. Aku... aku mungkin mulai menyukaimu."
Bella terdiam, hatinya berdebar lebih kencang dari sebelumnya. Bagaimana bisa perasaan itu muncul begitu saja? Dia yang awalnya tidak pernah berpikir tentang cinta, kini mulai merasa cemas tentang perasaannya terhadap Dona.
Dona meraih tangan Bella dengan lembut. "Aku nggak tahu apa yang akan terjadi, Kak. Tapi aku ingin kita coba menjalani ini bersama, lebih dari sekadar pernikahan kontrak."
Bella menatap Dona, hatinya terombang-ambing antara kebingungan dan kebahagiaan yang tak terucap.
***
Vote dan komen ya gaes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (Republish)
RomanceBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
