Pagi itu, Lita baru saja menerima imunisasi DPT di posyandu. Sejak mereka pulang, Bella tidak bisa berhenti mengawasi suhu tubuh Lita yang terasa lebih hangat dari biasanya. Saat Lita mulai rewel dan menangis, Bella langsung heboh.
“Dona! Aku rasa Lita demam. Kita harus membawanya ke dokter sekarang!” Bella berseru panik sambil menyentuh dahi Lita berulang kali.
Dona, yang sedang duduk di sofa sambil membaca jurnal kedokteran, menatap Bella dengan tenang. “Bella, itu reaksi normal setelah imunisasi DPT. Demam ringan biasanya muncul, apalagi kalau ini pertama kalinya.”
“Tapi Dona, bagaimana kalau ini bukan hanya demam biasa?” Bella bertanya, wajahnya penuh kekhawatiran.
Dona menutup jurnalnya dan mendekati Bella. “Tenang dulu. Kita cek suhunya. Kalau tidak lebih dari 38,5 derajat, tidak perlu buru-buru ke dokter.”
Bella mengangguk setengah hati sambil meraih termometer digital. Hasilnya menunjukkan suhu 37,8 derajat. “Masih di bawah 38,5, tapi dia rewel sekali,” gumam Bella sambil mengayun-ayunkan Lita di pelukannya.
Lita, yang masih menangis, tiba-tiba meraih kancing baju kerja Dona dan menggigitnya. Tangisannya perlahan mereda.
“Lihat, dia lebih tenang sekarang,” ujar Dona sambil tersenyum. “Mungkin dia hanya ingin sesuatu untuk dikunyah.”
Bella mengerutkan kening. “Kenapa dia menggigit kancing bajumu? Itu tidak higienis!”
Dona mengangkat bahu. “Mungkin karena dia merasa nyaman. Atau mungkin dia lapar. Kamu harus menyusuinya, Bella.”
Bella menatap Dona dengan ekspresi terkejut. “Apa? Jangan konyol. Mana mungkin aku bisa menyusui!”
Dona terkekeh. “Kalau begitu, aku saja yang menyusui. Lita suka kancing baju, mungkin dia juga suka padaku.”
Bella melotot. “Kau bercanda, kan? Kalau mau menyusui, cari cara lain!”
Dona tersenyum usil. “Kenapa tidak? Susuku dan susumu sama-sama tidak ada isinya. Jadi sama saja, kan?”
Bella mendengus kesal. “Enak saja. Aku ini B cup, Dona! Tidak seperti kamu yang rata.”
Dona menaikkan alisnya, menantang. “B cup? Aku yakin kau A cup, Bella. Jangan membesar-besarkan!”
“Berani-beraninya kau meragukan ukuran bra-ku!” Bella membalas dengan penuh semangat, wajahnya memerah.
Namun sebelum perdebatan itu semakin memanas, Lita kembali menangis. Kedua orang tuanya langsung berhenti berdebat dan fokus pada bayi mereka.
Dona menggendong Lita dan menepuk punggungnya perlahan. “Sudah, sayang, jangan menangis lagi. Kita beri kompres hangat di ketiakmu, ya?”
Bella, meski masih kesal, mengambil kain dan membasahinya dengan air hangat. Mereka bergantian merawat Lita hingga tangisannya mereda.
Melihat Lita yang akhirnya tertidur di lengan Dona, Bella mendesah lega. “Aku benar-benar tidak tahu bagaimana orang tua lain bisa menghadapi ini setiap hari.”
Dona tersenyum lembut. “Kita sedang belajar, Bella. Aku yakin kita akan lebih baik seiring waktu.”
Bella menatap Dona sejenak, kemudian tersenyum kecil. “Kau benar. Tapi lain kali, berhenti membahas ukuran bra-ku, oke?”
Dona terkekeh pelan. “Setuju, asalkan kau berhenti panik dulu.”
Bella hanya mendengus, tetapi dalam hatinya ia merasa sedikit lebih tenang, tahu bahwa ia tidak sendiri dalam perjalanan menjadi orang tua.
***
Vote dan komen ya gaes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bella Mooi (Republish)
Roman d'amourBella Mooi adalah nama beauty vlogger misterius yang cantiknya bukan main kayak barbie tapi tertutup dengan kehidupan pribadinya sehingga dia menjadi sosok misterius yang dicari-cari banyak orang. dr. Isabella Annesha Prawirohardjo, Sp. KK adalah d...
