55

1K 120 1
                                        

Dona melangkah memasuki ruang NICU dengan penuh perhatian. Pagi ini, dia harus berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis bedah mengenai salah satu bayi yang menderita hidrosefalus. Ini adalah kasus yang cukup kompleks, dan Dona tahu pentingnya untuk segera mendapatkan penanganan yang tepat. Namun, saat dia melangkah masuk, matanya tertumbuk pada sosok yang cukup familiar.

"Dea?" Dona terkejut, menyadari bahwa teman lamanya ada di sana. Dea, seorang rekan lama yang sempat menghilang setelah beberapa tahun lalu bekerja di rumah sakit yang sama, kini terlihat lebih dewasa. Dea tersenyum lebar begitu melihat Dona dan langsung menghampirinya.

"Dona! Lama sekali tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?" Dea menyambut dengan hangat, memeluk Dona sejenak.

Dona merasa sedikit canggung, tetapi senyumnya tetap muncul. "Baik, baik. Aku lagi konsultasi soal bayi di NICU ini. Kamu sendiri, kenapa bisa ada di sini?"

Dea menghela napas dan sedikit tersenyum pahit. "Aku ambil  spesialis bedah saraf, makanya di sini sekarang. Konsulenku lagi nggak ada nih. Udah lama kita nggak ngobrol ya? Kamu nggak Dateng waktu aku tunangan kemarin."

Dona mengangguk canggung. Melihat mantan calon gebetannya bersanding dengan orang lain bukanlah hal yang dia suka, makanya dia nggak datang. "Kapan kamu nikahnya?" tanya Dona mengalihkan topik pembicaraan."

"Dih, aku nggak jadi nikah. Calon mertuaku ngeselin banget!" ketus Dea.

Dona membayangkan calon ibu mertua Dea. Dea dulu kabarnya akan menikah dengan Bagas Prawirohadjo. Dona ingat, itu adalah anak kedua Budhe Endang. Yah, Bella saja sampai alergi sama Budhe Endang.

"Kamu kan nikah sama anaknya bukan sama camermu," kekeh Dona enteng.

"Ish! Tunanganku juga sama nyebelinnya. Yah, gimana ya. Namanya juga dijodohin. Mestinya aku nikah sama kamu aja kali ya. Kita kan klop banget dari dulu. Aku juga jadi nggak harus menghadapi camer yang nyebelin."

Dona tertawa mendengarnya. Entah kenapa candaan itu sedikit menyakitkan mengingat Dona memang nggak punya orang tua. "Aku udah nikah," jelasnya.

Netra Dea terbeliak. "Serius? Kapan? Kok nggak undang-undang!" seru Dea tak percaya.

Dona mesem saja. Kalau Dea tahu mereka akan menjadi keluarga, mungkin dia akan kaget. "Yah, nikahnya nggak rame-rame Karena satu dan lain hal."

"Eh, kamu nikah sama siapa?"

Sebelum Dona bisa menjawab, matanya melihat sosok yang familiar dari kejauhan. Bella sedang berdiri di pintu, tampaknya mengawasi mereka. Ekspresinya jutek seperti biasa, tapi rasanya kali ini Bella terlihat amat sangat tidak senang. Bela membalikkan badan dan berjalan pergi. Ada apa kira-kira dengan istrinya itu?

"Yah, nanti kamu juga tahu," ucap Dona. Karena kalau Dea jadi menikah dengan Bagas. Tentunya, mereka akan sering bertemu di arisan keluarga nanti.

"Ish! Siapa sih! Bikin penasaran aja deh!" ketus Dea.

"Eh, aku balik dulu ke ruangan ya. Kalau konsulenmu udah datang, tolong wa."

Dona bergegas mengejar Bella yang sudah berjalan menjauh. Rasanya Bella jadi kayak orang cemburu. Nggak mungkin kan Bela beneran cemburu? Dona nggak bisa membayangkannya, tapi kalau Bella memang sungguhan cemburu, Dona rasanya malah seneng. Mungkinkah Bella menyimpan perasaan padanya walaupun hanya sedikit saja?

***

Votes dan komen ya gaes.

Bella Mooi (Republish)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang