1. awal

69 32 0
                                        

___

Hari ini adalah hari terakhir bagi seseorang untuk duduk dibangku kelas sepuluh. Perkenalkan saja namanya Fanita Sani Davinky, ratu onar di Sma Bangsa. Kini ia tengah berdiri didepan pintu rumahnya dengan memegang erat sebuah buku berwarna merah menggunakan kedua tangannya. Mulutnya tak berhenti menbaca doa doa serta jurus mantra menakhlukan hati kedua orang tua.

"Bismillah," kakinya melangkah, perlahan pintu terbuka. Tak ada sambutan seperti biasa, hanya terdapat kursi dan meja yang diam saling berhadapan.

Fani dengan langkah gontai menyusuri rumahnya, sepi. Seperti hatinya.

"Ma? Pa?" Sebenarnya ia ragu mengucapkannya.

Tak ada jawaban, Fani segera berjalan menuju kamarnya. Namun, baru saja ia membuka pintu, seseorang memanggil namanya. Dan segeralah Fani membuang tasnya kedalam kamar, lalu berlari kearah sumber suara.

"Ma, Pa aku cariin didalam ngga ada." Fani tersenyum kearah kedua orang tuanya yang sedang duduk santai ditaman belakang rumah.

Ketika Fani ingin duduk, dengan cepat Rio-papa Fani bertanya,"rapor kamu mana?".

Sekujur tubuh Fani tiba tiba memanas dan mulai lemah. Tak berani berkata apa apa. Hanya raut muka pasrah yang mewakilinya.

"Bentar pa," Fani berjalan kembali menuju kamarnya, buku merah tadi adalah rapor atau nilai hasil ulangan selama ia duduk di kelas sepuluh.

Hatinya terus berdetak cepat tak karuan.

Dengan sopan, Fani menyerahkan buku tersebut. Wajahnya nampak pucat. Ia takut sekarang, sangat takut. Satu persatu selembar kertas dibaca seksama oleh Rio. Dan ketika sampai pada lembar dimana ditampilkan daftar rank satu kelas, muka Rio seakan membara.

"Kamu dapat rank terakhir lagi? Dulu semester ganjil kamu juga dapat rank terakhir, kanapa tidak ada peningkatan?! Apa susahnya belajar! Hape saja yang kamu pantengin!" Berbagai kata panas keluar dari mulut Rio. Fani tak ingin menjawab, karena apapun perkataan orang tua selalu benar. Mungkin itu menurutnya.

"Apa kamu mau nanti tidak lulus?" Tanya Rio dengan nada yang cukup keras.

"Pa sudah pa sudah, masih ada langit diatas langit." Mama Fani atau kerap dipanggil Nita, sering kali mendamaikan suasana. Apalagi jika suaminya sedang marah. Ia kadang juga tak tega jika Fani terus dimarahi karena ia tak bisa.

"Kalau begini hasilnya, liburan tahun ini kamu les private setiap hari!" Kata tekan pengakhir kalimat membuat Fani semakin lemah. Ia tak ingin terus menerus belajar, ia juga butuh istirahat dan juga waktu bermain diluar dengan teman teman.

Sepeninggalan Rio dari taman, Nita mendekati anaknya bungsunya tersebut. Dibelainya bahu dengan lembut, lalu berubah menjadi pelukan hangat dari ibu untuk anak.

"Ma kenapa aku tak sepintar mama?" Tanya Fani terus terang, jujur Nita merasa sakit hatinya apabila seorang anaknya berkata seperti itu.

"Dan kenapa aku tak secerdas papa?" Hanya Nita tempat curahan hati Fani satu satunya setelah kakaknya.

Nita tetap tak kuasa menjawab pertanyaan tersebut.

"Engga sayang, kamu itu pintar dan kamu juga cerdas. Mama percaya itu." Nita mencoba menguatkan anaknya.

"Apa aku bukan anak mama sama papa?"

Deg,

Satu pertanyaan lepas dari mulut Fani, membuat Nita harus merasakan detak jantungnya berhenti seketika.

"Ya kamu anak mama dengan papa lah," Ucap Nita santai, toh memang itu faktanya.

"Papa bisa punya perusahaan dan mama bisa jadi profesor, pasti kalian berdua sangat amatlah pintar. Kok aku engga?" Wajah kesal nan imut terpasang jelas diraut muka Fani. Nita tersenyum gemas ke arah anaknya.

BridledTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang