"Jadi kapan nih kita nyerang gengnya Tama?" ujar Angga saat Raka dan temannya sudah berkumpul kembali di rooftop.
"Nyerang gengnya Tama? Kok gue nggak tahu?" kata Naufan.
"Yeh lo! Makanya jangan ngurusin Osis terus." jawab Angga.
"Dua hari yang lalu dia nantangin sekolah kita, ya udah diterima sama Gara." jelas Hanzel.
"Lo siapin anak-anak yang lain aja, nanti pulang sekolah kita kumpul di warung belakang." perintah Raka.
"Oke, itu sih gampang." balas Hanzel
"Lo ikut kan Fan?" tanya Raka pada Naufan.
"Hm," Naufan hanya membalas dengan berdeham.
"Oh iya, jangan sampe aja lo bongkar rahasia kita ke anak Osis." tutur Angga.
"Lo kira gue secepu itu apa?" ujarnya.
"Naufan kan pendiem bre, gak mungkinlah dia cepu." ucap Hanzel.
"Haha emang dasar sebelas dua belas sama Raka."
"Btw lo beneran masuk Osis cuman karena mau deketin Aurel?" tanya Raka lagi.
"Emang tujuan gue apa lagi?" tanyanya balik sambil menaikan salah satu alisnya.
"Haha, sans aja kali lo. Gue dukung lo!" jawab Raka.
"Lo gak masuk kelas nih pada?" tanya Angga.
"Nggak deh, gue males pelajaran fisika." ucap Naufan.
"Lo Gar?" tanyanya lagi.
"Sans aja. Gak ada ulangan ini." ucapnya enteng.
"Set dah iya Gar, tau gue lo pinter, jadi masuk kelas pas ada ulangan aja." ucap Angga sedikit dramatis.
"Maksud gue gak gitu kambing." ucap Raka seraya melempar korek api ke arah Angga.
"Somplak lo!"
"Ngomong apa lo Ngga?"
"Hehe kaga becanda gue. Udah ah ayo Zel temenin gue ke kantin. Gue laper!" ujar Angga.
*****
"Hah lo serius Na? dianterin sama ketua osis?" ucap Karin terkejut setelah mendengar ucapan Alana saat itu.
"Iya..."
"Kok bisa?" tanya Nisha ikut penasaran.
"Iya, tadi ketemu di jalan pas gue mau nunggu bus. Ternyata rumah dia sekomplek sama gue. Tapi gue gak pernah tuh lihat dia selama di situ." jelas Alana.
"Ya bisa aja sih, lo kan jarang main keluar Na." ujar Karin benar.
"Jadi, lo dihukum berduaan gitu?"
lanjut Karin heboh, Alana pun hanya berdeham.
"Kenapa gue gak liat coba ya? pasti asik banget."
"Asik pale lo!" ujar Alana.
"Lah bukannya biasanya lo sama Kak Raka kan?" tanya Thalia.
"Makanya itu, dia ninggalin gue tadi pagi. Katanya dia udah ngechat gue tapi gak tau kalo habis kuota.
"ada-ada aja,"
"yaudah ke kantin yuk udah bel." ajak Alana
"Ayuk gue udah laper," ucap Nissa dan mereka semua pun bergegas ke kantin.
*****
Kini Alana sedang berada di koridor kelas 11, Ia disuruh untuk mengambilkan barang gurnya yang tertinggal di Kantor Guru. Ya maklum saja sebagai sekertaris di kelasnya sudah pasti Ia akan disuruh-suruh oleh guru-guru yang mengajar. Seperti saat ini, rasanya ia sangat malu karena melewati kakak kelas.
Mungkin anggapan para kakak kelas itu Alana tidak punya rasa takut karena berani-beraninya menginjakkan kaki di koridor kelas 11. Dan rasanya Ia ingin benar-benar cepat pergi saat melihat Raka ketika Ia baru saja keluar dari Kantor. Sialnya, Raka malah melihatnya balik bahkan menghampirinya.
"Ngapain lo Na di sini?" tanya Raka ketika sudah menghampiri Alana.
"Lo gak liat? gue habis dari kantor ngambil buku guru." jawab Alana seraya mengangkat buku yang ada ditangannya.
"Yaudah sih santai aja kali, gue kan cuman nanya."
"Kok lo bawa tas sih? lo mau kemana?" Sial batin Raka atas pertanyaan Alana, tidak mungkin kan Raka jujur Ia belum masuk kelas sedari tadi.
"Kenapa emangnya? tas-tas punya gue ada masalah sama lo?" ujar Raka, dan melanjutkan "Gue mau ke kelas."
"Dari tadi emang lo kemana?" tanya Alana penasaran.
"Kepo aja lo!" ucap Raka seraya menyentil kening Alana pelan.
"Apaan sih lo Ka!" protes Alana seraya melihat sekelilingnya yang juga menatapnya sinis, Ia jadi bergidik ngeri sendiri.
"Udah minggir lo, lo gak liat apa, kita jadi tontonan gini. " bisik Alana pada Raka.
"Sans aja udah biasa." jawabnya datar, lalu memasukkan tangannya ke saku celana.
"Udah awas gue mau balik ke kelas." ujarnya lagi dan pergi.
*****
Bel pulang sekolah pun akhirnya berdering nyaring membuat siswa-siswi Antariksa yang sudah menantinya langsung berhamburan keluar kelas. Sama seperti Alana yang ingin cepat-cepat sampai di rumah, namun harus tertunda karena Ia harus piket dulu. Tapi sepertinya teman-teman piketnya sudah pulang alias kabur.
"Na, gue balik duluan ya. Lo ada piket ya?" ucap Karin.
"Iya." Ia hanya menjawab singkat.
Saat Ia sedang merapikan bukunya, temannya menghampirinya. "Lan, gue sama yang lain izin ya piketnya belakangan gue mau daftar ekskul dulu, biar duluan. Gak apa-apa ya?" ucap salah satu teman Alana.
"Oh yaudah gak apa-apa."
"Ok. Thanks!"
"Eh Alana ada Kak Raka nih nyari lo!" seru Thalia dari ketika hendak keluar kelas. Ketika Alana baru saja ingin bangkit dan berjalan keluar kelas, Raka sudah berada di dalam kelasnya yang tinggal Ia seorang.
"Eh Ka, kok lo tumben ke kelas gue? gue ada piket lo tahu kan?" tanya Alana bingung.
"Iya gue tau. Ada yang mau gue bilang."
"Apa?" tanyanya penasaran seraya menaikkan alis matanya.
"Gue gak bisa pulang bareng. Gue mau ada kumpul sama yang lain. Lo gak papa kan pulang sendiri?" jelas Raka.
"Oh, gue kira ada apa. Bisalah lo kira gue anak kecil?"
"Oke, gue pergi ya. Bye." pamit Raka seraya mengajak Alana bertos tangan. Raka pun akhirnya berjalan keluar kelas. Tinggalah Alana sendiri di kelas yang harus menyelesaikan piket seorang diri mungkin. Padahal hari itu sangat melelahkan bagi Alana. Kini ditambah lagi dengan pulang naik Busway. Ia harus menunggu lama di halte, dan mungkin tidak dapat tempat duduk, yang berarti Ia harus berdiri.
a.n.
Jangan lupa vote dan commentnya guys!
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pelangi di Langit Senja
Teen Fiction[ON GOING] Ini bukan kisah tentang pelangi dan senja, bukan juga kata-kata puitis seputar pelangi dan senja. Tapi ini adalah kisah tentang dua sahabat yang hanya bisa mencintai dalam diam, Yakni Alana dan Raka. Bagi Alana, Raka ialah sebuah pelangi...
