"Akhhh...! Sakit....!!" seru seorang wanita muda bersurai merah sambil mengerang kesakitan pasca melahirkan. Disampingnya, terdapat seorang pria muda bersurai pirang dengan manik shappire sambil memegang erat tangan wanita muda yang merupakan istrinya itu. Menggenggam erat tautan jemari yang bergetar menahan sakit.
"Sebentar lagi,permaisuri... Kepalanya sudah keluar!" seru seorang medis sambil berusaha mengeluarkan bayi yang terlahir premature itu. Keringatnya membanjir.
Dan...
"Ahh!" jerit wanita itu kesakitan. Badannya menegang dratis. Air matanya keluar. Suara tangisan bayi mengalun dengan kencang diseisi ruangan yang merupakan kamar raja dan ratu.
"Oeekk!! Oeeekk...!"
"Selamat yang mulia,bayi anda berjenis kelamin perempuan." kata medis itu dengan senyuman mengembang. Sedangkan,pembantunya kini tengah membersihkan bayi itu dan membalutnya dengan kain halus bak sutra yang indah.
"Mana bayiku? Aku... Mau melihatnya... Hiks." kata Wanita itu sedikit terisak. Medis itu memberikan bayi mungil nan cantik itu kepada sang ibu. Senyum wanita itu merekah dengan bahagianya. Namun,tidak untuk pria pirang itu. Wajahnya mengeras seperti batu. Ada sedikit kerutan jijik dan tak suka saat melihat bayi itu. Bagaimana tidak? Ia merasa malu memiliki bayi yang premature. Walaupun bayi itu sangat cantik dan sialnya rambut serta matanya didominasi darinya.
"Dia sangat cantik. Lihat,surai dan maniknya sepertimu,anata..." kata wanita itu. Pria itu terdiam.
"Iya,Kushina... Wajahnya pun mirip denganmu." kata pria itu menutupi kekesalannya.
"Kau benar,Minato..."
'Cih,sampai mati pun aku tidak akan menerima bayi itu...'
.
"Hiks... Hiks..." isak gadis kecil berumur 3 tahun didepan seorang pria yang memiliki surai dan manik seperti dirinya. Pria yang didepannya ini malah menatap datar kepada gadis kecil itu. Dia hanya duduk diam diatas singasananya dengan angkuh.
Para maid hanya diam menunduj dengan takut. Tidak berani menolong nona muda yang sering ditindas oleh ayahnya sendiri. Mereka lebih memilih diam jika tidak ingin dihukum berat oleh raja Namikaze itu.
"Anata! Apa-apaan ini?" tanya Kushina sambil berlari menuju putrinya. Minato hanya berpaling. Enggan untuk mengusap air mata gadis kecil yang didepannya ini. Satu hal lagi,Kushina tengah mengandung anak kedua. Baru berusia 4 bulan.
"Minato! Apa yang kamu lakukan pada Naruto?!" seru Kushina yang tidak habis pikir dengan perilaku suaminya. Minato terlihat tidak suka dengan Naruto, putri kandungnya. Bahkan,secara terang terangan ia menyakiti Naruto.
"Aku tidak melakukan apapun padanya,Kushina." sahutnya dengan nada yang dingin.
"Apa?! Tidak melakukan apapun? Lalu,apa ini?!" pekik Kushina saat mendapatkan memar biru dipundak Naruto.
Minato hanya menatap tajam kearah Naruto.
"Katakan,Minato. Kenapa kau melakukan ini pada Naruto? Kepada anak kita!" kata Kushina sambil terisak dan memeluk Naruto. Minato mendelik dan menatap angkuh kearah 2 perempuan yang didepannya.
"Karena dia bukan anakku." kalimat yang dingin itu mengejutkan hati Kushina. Terlebih lagi Naruto. "Sampai kapanpun dia bukanlah anakku!"
"Kenapa?! Padahal,ia terlahir dirahimku yang dibuahi oleh sperma mu!" jerit Kushina membahana. Sungguh,sekarang ia mulai merasa menyesal menikah dengan Minato. Dia... Sangat benci.
"AKU TIDAK SUDI MEMILIKI ANAK YANG PREMATURE!!!" teriak Minato yang tak kalah kuatnya. Mata Kushina membulat dan mulai berkaca kaca. Hatinya sakit...
Dan...
"Naruto! Kembali,sayang....." kata Kushina dengan nada pilu. Naruto melepas pelukan sang ibu dan berlari sekencangnya keluar dari istana. Tanpa memakai alas kaki,ia berlari menyusuri jalanan. Kakinya sudah lecet bahkan sempat tertusuk duri yang tajam. Beberapa warga desa berkerut kening. Mengapa putri Namikaze berlari tanpa menggunakan sandal?
Naruto sampai ditengah hutan terlarang. Mungkin,bagi mereka mengganggap hutan itu angker dan terlarang untuk dimasuki. Tapi,tidak bagi Naruto. Gadis kecil itu menjadikan hutan tersebut sebagai tempat penampungan kesedihan,bermain,dan lainnya.
"Hiks... Kenapa? Apa salah Nalu touchan...?" isak gadis kecil itu sambil terisak. Ia berusaha menyeka air matanya. Namun,tak kunjung berhasil. Bahkan,ia tidak memperdulikan rasa sakit karena darah membasahi kakinya.
"Kenapa touchan membenci Nalu...? Hiks!"
Gadis kecil itu terus menangis. Sampai tidak memperdulikan sosok berjubah hitam dibelakang sebuah pohon beringin. Sosok itu hanya diam menatap Naruto. Diam? Boleh saja. Tapi,selama ini dia memperhatikan Naruto. Semenjak Naruto sering datang ke hutan
Melihat kaki yang dipenuhi darah membuat hatinya iba. Namun, dia tidak berani mendekati gadis pirang yang menurutnya sangat imut itu. Tapi,pada akhirnya...
"Hei,gadis kecil.. Kakimu terluka." kata nya sambil duduk didepan Naruto. Naruto menghentikan tangisannya. Ia mendongak dan mendapati seorang pria yang mungkin berumur 23 tahun menatapnya dengan mata penuh iba. Naruto sedikit terpesona dengan penampilan 'paman' yang ada didepannya.
"Um.. Camu ciapa?" tanya Naruto yang dengan cadel serta sopannya pada pria itu. Mata hitam legam dengan rambut hitam. Kulitnya sangat pucat seperti vampir.
Pria itu tersenyum. Dia menawarkan sebuah kain putih dan daun yang berguna untuk menghentikan pendarahan. (#maaf,author tidak tau apa nama daunnya.)
"Um... Cakit." lirih Naruto saat pria itu mengobati kakinya yang terluka. Sesekali ia mengerang.
"Nama paman siapa?" tanya Naruto.
"Lucifer. Nama paman Lucifer..."
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
HAPPINESS
Fiksyen PeminatNaruto, anak yang tak diharapkan dari pasangan Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Ayahnya adalah penguasa tertinggi dikonoha,raja paling jaya didesa makmur tersebut. Ibunya adalah putri tunggal Uzumaki yang berasal dari kerajaan Uzushio. Dia memil...
