2nd Chapter - [Reptile Hunter]

5.7K 719 205
                                        

Arjuna Shanders

"Dua ratus meter ke depan menuju Desa Sukajati." Barusan adalah suara google map. Menandakan bahwa aku harus memperlambat laju kendaraan.

Seratus meter kemudian aku mendapati sebuah gedung bertuliskan SMA Kartini, ada jalan persimpangan di sebelah area sekolah tersebut. Pelan-pelan kuputar setir ke arah kiri, masuk ke sebuah gang yang hanya bisa dilewati dua kendaraan roda empat. Jalanan yang sangat sunyi. Ini situasi yang sangat menguntungkan bagiku.

Kuambil sebatang rokok dari atas dasbor dan menyalakannya dengan cepat. Membuat beberapa hisapan hingga nikotin menyebar ke pembuluh darah dan itu membantuku merasa rileks. Setidaknya cukup membantuku untuk meningkatkan kepercayaan diri. Lagipula, aku masih belum mendapatkan petunjuk setelah melalui jalan sepanjang empat ratus meter. Ditambah lagi dengan naluriku untuk buang air kecil tiba-tiba saja menghendakiku untuk segera mencari tempat bersembunyi.

Perlahan aku menepi di sebuah lahan perkebunan pohon karet di mana beberapa meter ke depan terdapat sebuah jalan masuk kompleks perumahan. Salah satu keuntungan menjadi laki-laki adalah kau bisa membuat tempat apa pun menjadi toilet darurat. Jadi, manfaatkan saja.

Kuawasi pandanganku ke jalanan dan untungnya tidak ada rumah atau bangunan apa pun di sekitar sini. Jalan masuk kompleks di depan sana juga sunyi. Aku mengerenyitkan dahi dengan ekspresi tak tertahan. Kuselipkan rokok di antara bibirku dan membuat sebuah lompatan kecil melewati parit lalu mendarat tepat di bawah pohon. Kulangkahkan kakiku beberapa meter ke depan hingga mendapati sebuah batang pohon berukuran sedang. Spot paling nyaman kurasa.

Yah, tak butuh waktu lama untuk menuntaskannya, hanya saja , sebuah suara senapan mendadak membuatku terperanjat kaget.

Satu tembakan meledak di bawah kakiku.

Sialan! Rokokku yang masih sisa setengah terjatuh begitu saja. Lepas dari bibirku. Wajahku panik, mataku terbelalak sementara tanganku secepat mungkin menutup ritsleting jeans. Wajar jika aku berpikir curiga, jangan-jangan ada agen lain yang menyadari keberadaanku dan berniat membunuhku dengan cepat, tapi atas dasar apa?

Kupusatkan penglihatanku sekali lagi ke bawah kaki, ada darah yang berceceran di situ, membasahi rumput dan dedaunan hingga warna merah mengental. Sejurus kemudian, aku baru menyadari kalau cairan itu ternyata adalah darah dari reptil berukuran besar yang tadi tertembak.

Mulutku ternganga lebar, biawak itu berukuran sangat besar. Panjangnya kira-kira 80 cm. Mati dibawah kakiku dalam keadaan kepala hancur. Aku membungkuk.

"OH Shitt!" umpatku kesal. Bergidik aku mengangkat ekor bangkai reptil menjijikan itu. "Aku hampir mati konyol di tempat ini." Naluriku pun tiba-tiba meninggi untuk segera mencari tahu dari mana peluru ini berasal. Secepat yang kubisa, aku mengalihkan pandangan ke belakang sambil memasang muka garang.

Samar-samar aku mendengar suara cekikikan tawa anak kecil dan perempuan. Tanpa perhitungan, aku berupaya mencari asal suara itu ke arah jalan masuk kompleks untuk memastikan. Kusibak ranting-ranting kecil yang menghalangi jalan.

"Hei!! Siapa yang main senapan tadi?!" teriakku begitu sampai di ujung perbatasan antara aspal dan kebun.

Aku mendapati seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun memegang senapan dengan kedua tangan, dan di sebelahnya seorang wanita terlihat sibuk membetulkan posisi kursi roda yang di dudukinya. Tawa mereka berhenti sejenak ketika melihatku muncul di hadapan mereka yang berdiri sambil menyincing bangkai biawak dengan bola mata hampir keluar.

Ketiga pasang mata kami pun saling bertemu, dua detik kemudian tawa mereka berdua menggelak lagi bahkan semakin keras. Anak kecil itu terpingkal-pingkal sampai membungkuk hingga ujung senapan yang dia pegang menyentuh tanah. Sementara gadis di sebelahnya hanya tertawa kecil mendukung. Jelas aku merasa terhina, tak terima dengan perlakuan mereka.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang