Nouvie Freddie
Entah mimpi apa aku beberapa hari yang lalu. Berada kembali di ruangan yang dingin, serba putih dan—untung saja aroma rosmary yang dihantarkan ke sekeliling ruangan membantuku untuk tetap rileks. Dua tahun yang lalu, aku sudah berjanji pada wanita itu untuk tidak akan pernah kembali lagi ke tempat ini sejak ia menyatakan adikku itu benar-benar telah bersih. Namun waktu seolah membawaku pada masa lalu. Aku duduk di sini, di sebuah sofa panjang bersama anak laki-lakiku yang penurut dan tampan, menyilangkan kakiku dengan pandangan masih memperhatikan. Rio duduk tenang di sebelahku memainkan legonya serius.
Suara ketukan ujung pena Delaney adalah satu-satunya gelombang yang memecah udara hening. Ia masih fokus pada kertas materi yang sedari tadi diceklis setiap kali mendapat jawaban dari gadis yang duduk di depan mejanya. Ia menggigit kuku ibu jarinya di sela-sela konsentrasinya yang tidak bisa diganggu dengan apa pun. Sesekali matanya melirik gadis itu dari balik kaca mata bundar. Rambut bergelombang sepunggungnya yang berwarna merah kehitaman itu membuat penampilanya semakin pantas disandingkan dengan wajah seorang Deutschland
Delaney menarik napas, lalu tersenyum manis sekali kepada gadis yang sedang duduk di kursi keabadiannya, duduk sambil memangku dan memeluk teddy bear coklat yang tingginya hampir sama dengan si pemilik.
"Pertanyaan terakhir." Delaney menegakkan tubuhnya. "Apa kamu pernah mimpi buruk sejak terakhir kali serangan?"
Gadis itu tampak berpikir sejenak, bola matanya naik ke atas tanda ia mengingat sesuatu. Wajahnya masih setengah bersembunyi di atas bahu boneka yang semakin erat ia peluk. "Hmmm ... sekali, tapi kupikir itu bukan mimpi buruk," ujarnya.
"Oh ya? Bisa ceritakan padaku mimpi apa itu?" Delaney melipat tangannya di atas meja—tertarik dengan pembahasan.
"Ngga terlalu jelas, tapi—yang kulihat, aku pergi ke suatu tempat yang sangat ramai lalu tiba-tiba aku menembak kepala seorang pria tua sampai mati. Bahkan kepalanya langsung lepas dan menggelinding ke bawah kakiku, hanya dengan satu peluru."
Ya ampun, apa sebenarnya yang terjadi pada adikku itu? Bahkan mimpi mengerikan seperti itu tidak dianggapnya buruk. Aku membungkukkan tubuhku, menenggerkan daguku pada tumpuan tangan di atas paha. Kecemasanku semakin terlihat mengkhawatirkan. Tapi tidak pada Delaney, tampaknya ia bisa mengontrol ekspresinya. Tentu saja ia sudah terbiasa dengan hal-hal aneh seperti itu. Aneh? Ya Tuhan, aku bahkan sudah menganggap Almira aneh sejak kejadian mengerikan tiga hari yang lalu.
Aku tak ingin mengingat bahwa itu adalah hari yang paling mengerikan, bahkan lebih mengerikan daripada peristiwa penculikan dan petarungan melawan Danggo waktu itu. Ini persoalan adikku. Bayangkan jika kau pulang kerumah dengan hati yang tadinya riang, tiba-tiba menjadi gelap dan menakutkan saat membuka pintu dan mendapati seluruh isi rumah berantakan, pecahan kaca di mana-mana. Ditambah dengan ceceran darah yang semakin membuat suasana rumahmu semakin mencekam. Kau seperti berada dalam situasi menakutkan dalam film thriller Scream. Jantungku benar-benar tidak dapat dikendalikan, darahku semakin berdesir tak karuan manakala menemukan Almira meringkuk di lantai bersimbah keringat dan wajah berdarah. Memeluk dan menggigit ujung bantal untuk bersiaga bilamana tubuhnya tak dapat dikendalikan dan melonjak-lonjak hebat.
Kejadian lima tahun yang lalu terulang kembali. Kalau dulu masih ada almarhum ayah yang membantuku menangani Almira, kini aku hanya seorang diri. Memeluk tubuhnya sekuat tenaga agar tubuhnya terkontrol, dan bilamana kejang itu terjadi, tubuhnya tidak membentur lantai atau benda keras di sekitar.
Sakit. Aku tahu ia menahan sakit hampir di sekujur tubuhnya. Aku melihat butiran-butiran pil berserakan di lantai, salah satunya pasti sudah ia telan susah payah. Entah pil apa yang sudah ia konsumsi, tetapi sepertinya berhasil membuat tubuhnya beringsut membaik dan terkontrol. Rasa sakit di kepalanya berangsur pulih, pupil matanya yang tadinya tampak melebar perlahan terlihat normal. Aku cukup lega ketika napasnya mulai teratur dan ia sudah bisa bicara kembali. Selang beberapa menit kemudian, Almira berhasil mengontrol tubuhnya hingga akhirnya ia tertidur dalam dekapanku dan juga Rio.
KAMU SEDANG MEMBACA
THE LADY HAMMER
ActionACTION, THRILLER, ROMANCE Arjuna Shander, seorang agen rahasia yang ditugaskan khusus untuk mencari barang bukti kasus pembunuhan seorang Pejabat Menteri bidang Kemaritiman 6 tahun lalu yg mungkin disimpan oleh mantan atlet downhill bike bernama Alm...
