16th Chapter -[The War Team]

2.1K 389 213
                                        

Arjuna Shander

Dua jam kemudian.

Aku dan Almira telah berada di dalam mobil Crown kesayangan. Bersama terik matahari hangat yang membakar kulit kami hingga bersemangat. Aku menatap matanya sesekali sambil menyetir ditemani lagu Rock kesukaan kami. Ada rona kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Pantulan cahaya membuat matanya bersinar sangat indah, dan senyumnya, mengisyaratkan padaku bahwa ia telah lebih kuat dari sebelumnya.

Kami berada di saf paling depan. Membawa segerombolan genk moge di belakang yang tampak hebat karena suara motor mereka yang menderu. Almira berhasil membuat komplotan baru yang sudah siap jiwa dan raga untuk membantu kami membantai para mafia seperti Danggo.

Triana―sahabat terbaikku itu―turut membantuku mencarikan jalan pintas. Ia berhasil melacak keberadaan Danggo dari para agen yang tersebar di sepanjang jalan. Almira telah berhasil menghimpun kekuatan besar, begitu juga aku. Yang mana di balik ini semua, telah ada kekuatan para agen rahasia yang kukumpulkan untuk siap membantuku saat diperlukan. Kurasa kami adalah pasangan yang saling melengkapi. Hanya saja ia tidak menyadari itu. Dan kurasa belum waktunya untuk Almira tahu semua tentangku. Sebelum aku benar-benar memastikan keterlibatannya pada kasus ini.

Berdasarkan informasi dari Triana, komplotan Danggo bergerak dari sisi utara Banda Aceh, dan untuk menuju ke pelabuhan Ulee Lheue mereka harus melewati sisi jalan yang berbeda. Aku dan para genk moge Darah Soematra telah berada di jalan besar Banda untuk menjalankan rencana yang sudah kami susun.

Dengan bantuan earloop tersembunyiku, Triana terus memberiku informasi dengan bantuan GPS nomor ponsel dari pesan aplikasi yang meneror Almira. Mereka berjumlah lima mobil, 1 mobil van berisi perempuan yang akan dibawa ke pelabuhan, dan empat mobil adalah para anggota Danggo. Diperkirakan jumlah musuh mencapai 24 orang. Gila saja, aku tidak menyangka Danggo akan menambah kekuatan sebanyak itu. Apa jadinya jika aku dan Almira hanya berdua? Bisa jadi kami tidak pulang dan tanpa nama tertinggal.

Almira sama sekali tidak bertanya bagaimana aku bisa tahu cara mencari jalan, kurasa ia masih percaya padaku yang sebelumnya mengatakan bahwa temanku yang seorang polisi turut membantu.

Kami telah sampai di titik pertemuan. Danggo berada dua kilometer di belakang kami. Bram berhenti di sebuah jalan yang―untungnya tidak terlalu padat. Mereka membuat barikade di tengah jalan, tak ada seorang pun yang berani melewati sebab anggota Bram senang menghadang mereka untuk mencari jalan lain. Aku tidak memarkirkan mobilku di antara mereka. Kucari tempat persembunyian yang menurutku aman agar Almira baik-baik saja. Di sebuah lahan yang dipenuhi pepohonan besar dan rindang, tidak ada siapa-siapa apalagi rumah warga. Aku tidak ingin kejadian semalam terulang lagi.

"Kenapa kita berhenti di sini?" tanya Almira padaku yang sedang sibuk membuka seat belt.

"Aku harus menyembunyikanmu, Ra! Aku ngga mau satu pun anggota Danggo mengganggumu lagi." Aku mulai membujuk sebenarnya.

"Kamu mau ninggalin aku di sini? Sendiri?" Ia menggeleng dengan seringaian yang sedikit banyaknya membuatku curiga. "Aku harus ikut bersamamu."

"Musuh kita lebih dari dua puluh orang. Kamu pasti sudah bisa membayangkan akan seperti apa peperangan ini. Aku ngga mau membawamu dalam situasi yang membahayakan."

"Memangnya kamu bisa menjamin tempat ini bakal aman untukku?"

"Setidaknya kamu ngga berada di antara orang-orang yang berani mati."

"Bagaimana kalau Danggo datang kemudian membakar mobil ini sampai habis? Apa kamu mau aku mati terpanggang?"

"Aku akan minta salah satu anggota Bram untuk menjagamu di sini."

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang