31st Chapter - [Give Up]

1.5K 301 131
                                        

Arjuna Shanders

"Dia terlihat sangat hebat, Bro!" seru Jhon di kejauhan sana. Nada suaranya terdengar antusias di balik earphone telingaku. Sementara mataku tetap fokus pada layar notebook di dalam mobil.

Pengecut. Mungkin itu yang pantas dialamatkan padaku saat aku hanya bisa menyaksikan Almira bertanding melalui channel website TV olahraga secara live. Tadinya aku menonton bersama Jhon, tapi ia tidak bisa berdiam diri di dalam kabin mobil yang sempit hingga akhirnya ia lebih memilih beringsut bersama para penonton di gedung olahraga tembak—setelah gagal membujukku tentunya.

"Oww... your lady is fuckin' awesome, Man! Dia mencetak angka tertinggi. Kalau kamu lihat sasarannya, oh... shit! Hampir delapan puluh persen pelurunya berada di titik bullseye dengan sempurna. Ahh, kamu pasti nyesal banget ngga bisa melihatnya langsung, Juna." Jhon terus saja mengoceh seperti komentator acara olahraga, menceritakan bagian demi bagian yang tidak terlewat sampai Almira dinyatakan sebagai peraih golden medal dan lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang bangga.

Aku menyaksikan setiap scene dengan perasaan bangga dan penuh haru. Sedari awal aku memang tidak meragukan kemampuannya untuk bisa menjadi pemenang, sebab ia memang sudah ditakdirkan sebagai pemenang sejak lahir di setiap kompetisi. Seandainya aku bisa mendekatinya, aku pasti sudah memeluk dan mengangkat tubuhnya hingga berputar seperti yang pernah kulakukan saat menari dengan laut.

Kembara pikiranku tiba-tiba menghilang ketika foto Bunda muncul di layar ponsel. Aku menjawabnya tanpa pikir panjang dan dengan terkaan yang sudah kuduga pembicaraan apa yang akan dilontarkan Bunda.

"Wa'alaikumsalam, Bunda," jawabku begitu salam bunda menghampiri telingaku.

"Juna, apa kamu sedang menonton pertandingan Almira secara langsung? Maksud bunda di gedung olahraganya."

"Enggak, Bunda. Juna belum berani mendekati Almira," jawabku.

Bunda mendesahkan napasnya hingga suara gemerisik terdengar beriak di telepon. "Kenapa kamu ini bodoh sekali! Kenapa ngga kamu gunakan profesimu sebagai mata-mata itu untuk berbaur dengan orang lain dan menyamarkan diri. Keluarlah! Jangan jadi pria pengecut, Bunda masih menagih janjimu, Juna! Sudah berapa hari ini Bunda ngga mendengar kabar tentang Almira, Bunda cemas. Kurasa dia sudah memblokir nomor Bunda juga, dan ini semua akibat ulahmu."

Sarkas bunda seperti kereta api beruntun yang membawa batu bara. Panas dan menusuk langsung ke gendang telinga paling ujung. Aku ingin menyela kalimatnya tapi sepertinya lebih sulit dibanding menyela omongan sales baju diskon.

"Mau sampai kapan kamu menggantung hubungan kalian? Pergi dan temuilah dia, mumpung ia berada di keramaian dan ngga mungkin baginya menyakiti diri sendiri." Aku mencerna saran bunda dan menemukan kejanggalan berupa—kebodohan diriku.

Aku masih mendengarkan suara merdu bunda yang mengalun. "Temui Almira dan sampaikan ucapan selamat dari Bunda, bilang kalau bunda sangat bangga dan juga sayang padanya. Tadi kami menonton pertandingannya lewat channel website, Rani yang menyetelnya di tablet. Dia sangat hebat. Calon menantu Bunda itu, jangan kamu sia-siakan, Juna." Itu adalah kalimat terakhir Bunda sebelum kami berpisah dan mengucapkan salam. Ya, kali ini pembicaraan Bunda sangat mendominasi.

Lantas, sepuluh menit kemudian, aku sudah berada di gedung olahraga tembak. Sesuai instruksi dari Jhon, ia sudah melihat situasi dan peluang terbaik untuk aku bisa menemuinya adalah saat Almira sedang sendiri di sudut gedung. Tentunya setelah si Plankton yang terus lengket padanya itu pergi, sementara Nouvie sibuk bercengkrama dengan teman perempuannya di bangku baris tengah penonton.

Sedikit menyembulkan kepalaku dari balik tembok, aku melihat Almira sedang sibuk memperhatikan dagunya yang ditumbuhi satu jerawat melalui pantulan cermin. Dia masih mengenakan kostum olahraga berwarna merah putih, rambutnya yang indah di gelung tak rapi ke belakang. Ia sangat cantik, dan memang ia selalu tampak cantik di mataku.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang