43rd Chapter - [A Fairy Tale]

1.4K 291 111
                                        

Hai!! Si Agen Rahasia dan Si Sniper kembali...

kali ini,  pertama kalinya thorjid nulis cerita bucin di kisah mereka berdua  >,<

Entahlah, there's someone dare me to write bucin series. Hahahah... aku menyebutnya bucin dewasa. Apaan sih...  XD

Silahkan putar musik di atas untuk menambah feel jadi lebih real.

🌼🌼Happy Reading🌼🌼

Arjuna Shanders

Aku sering berpikir mengenai sesuatu; bagaimana proses metamorphosis seekor ulat menjadi kupu-kupu bisa begitu menakjubkan. Dimulai dari telur kemudian menjadi ulat atau larva, selanjutnya kepompong dan pada akhirnya menjadi kupu-kupu. Proses panjang yang sangat indah.

Bagaimanapun, belajar dari proses metamorphosis, aku menganggap apa yang terjadi padaku dan Almira sekarang merupakan fase kepompong. Mengerahkan energi yang ada, perjuanganku untuk terus bertahan barangkali belum berada pada tahap akhir. Aku percaya, jika semua usahaku mencapai sempurna, maka sayap indah itu akan muncul dan kebebasan merekah sedemikian rupa, terbang bebas serupa keindahan nan calak.

Aku, akan membawa gadis itu bersamaku. Menjalani hidup yang terbaik sebagaimana seharusnya. Tekad yang kutelan bulat-bulat. Namun, ada hal yang tidak pernah kupikirkan secara rasional, aku—terlalu mencintai gadis itu, entah dengan alasan apa. Tak bisa kuuraikan hanya dengan serbuan lisan, sebab stagnasi terkadang datang di saat yang tidak tepat ketika pikiranku bergeming pada gadis berkepribadian ganda itu, ia... tanpa terasa telah membangun rasa cintaku semakin berandang kian hari.

Kurasa kali ini, pekikan berfrekuensi standar yang disuarakan Almira saat memanggil namaku terdengar laung. Aku kembali ke kamar mandi, dan mendapati Almira melihatku dengan tatapan mata seakan aku baru saja melakukan kesalahan. Alis matanya naik sebelah, begitu juga dengan satu sudut bibirnya.

"Bagaimana caranya aku membasuh rambutku jika shower itu tidak mau datang padaku?" Tangan kirinya menunjuk shower yang tergantung agak tinggi di dinding belakang punggungnya.

Kuturunkan tanganku yang semula bersandar pada kenop pintu, tersenyum menunduk kemudian menghampirinya. "Sepertinya aku harus memodifikasi ulang kamar mandi ini untukmu," kataku sembari mengambilkan shower yang semula bertengger di dinding.

"Untukku?" balasnya dengan wajah setengah senang.

"Ya... bukankah kamar mandi ini nantinya juga akan jadi milikmu, My Lady?"

Ia meringis tawa ringan, menolak shower yang hendak kuserahkan padanya.

"Ini shower-mu," kataku menyerahkan.

"Bahu kiriku sakit, sepertinya akan sulit jika mengangkat tanganku terlalu lama untuk memegangi shower itu."

"Sakit?" Aku melihat bahu kiri yang dimaksud, bahu yang—tampak baik-baik saja menurutku.

"Memangnya siapa yang membuatku terjatuh dari kursiku saat di rooftop?"

"Huh?" Ya, tentu saja itu aku. Dan aku menyesal jika itu menyakitimu. "Aku, ya? Tapi... itu, aku terpaksa melakukannya, salahmu juga karena ngga mau dengerin aku." Wajahnya kecut, aku bisa melihat parasnya dari sisi atas. "Jadi, gimana?" tanyaku masih dengan tangan menggantung di udara.

"Keramasin!"

"Hah?"

Ia mendongak ke atas, menangkap raut wajahku yang kikuk. Kemudian berdecak pelan, "Keramasin ...." Aku menganga tak percaya, terlebih saat mendengar suara memohon manjanya yang menggelitik telingaku. "Kenapa? Keberatan?" Keningnya merambat ke atas, dengan nada suara seindah itu, bagaimana mungkin aku menolak. Justru permintaanya ibarat grand prize bagiku.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang