24th Chapter -[Aware]

1.6K 310 82
                                        

Arjuna Shanders

Jari tangan kananku berkali-kali menyisir rambut yang sudah kupotong lebih pendek, bulu halus di rahangku juga sudah kurapikan. Tidak ada lagi ikat rambut, meski kupikir ke-macho-anku menghilang beberapa persen, tapi aku yakin Almira akan sangat suka dengan penampilanku yang sekarang.

Ayah sudah lebih dulu sampai rumah setelah tadi kami pulang bersama dari gudang ekspedisi yang selama ini menjadi mata pencaharian ayah. Sedangkan aku mampir ke barbershop untuk merubah penampilan.

Aku berlari kecil menuju halaman rumah. Namun saat aku menaiki anak tangga, seorang wanita berambut panjang terkucir keluar dari pintu. Ia mengenakan seragam putih khas dokter dengan mulut tertutup masker. Melirik ke arahku lalu menundukkan kepalanya saat kami berselisih.

Siapa dia? Kupikir. Aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi mata yang melihat ke arahku itu. Aku seperti merasa deja vu saat melihat mata itu menghampiriku. Sebelum rasa penasaranku semakin menggelayut, aku pun menghentikan langkah Bunda yang sedang jalan menyusul wanita itu dari belakang.

"Siapa wanita itu, Bunda?" tanyaku pada bunda yang hendak melewati posisiku berdiri.

Bunda mendadak berhenti, lalu tersimpul kecil padaku. "Dokter Tania, asisten baru Dokter Kamal. Tadi bunda yang memintanya datang untuk memeriksa kondisi Almira."

Aku melirik wanita itu yang masih menunggu Bunda di ujung halaman. "Asisten baru? Memangnya Dokter Kamal ke mana? Kenapa bukan Dokter Kamal yang memeriksa Almira?"

"Dokter Kamal sedang keluar kota katanya, jadi untuk sementara Dokter Tania yang menggantikannya. Memangnya kenapa, Juna?"

Aku menelan sulivaku dan mengarahkan pandanganku pada wanita itu lagi. "Kenapa bukan asistennya Dokter Kamal biasa yang Bunda suruh datang?"

"Kamu ini kenapa, sih? Bunda hanya memintanya memeriksa keadaan Almira agar kondisinya benar-benar siap untuk melakukan perjalanan ke Jakarta besok. Ngga ada macam-macam."

Yah, tentu saja anakmu ini curiga Bunda. Almira itu saksi kunci, dia punya segudang rahasia yang bisa saja dimanfaatkan orang lain.

"Bunda yakin wanita itu ngga melakukan hal yang membahayakan Almira?"

Bunda menjauhkan wajahnya dariku dengan dahi mengernyit. "Arjuna, kamu pikir bunda ini bodoh apa? Mana mungkin Bunda menyuruh sembarang dokter untuk memeriksa keadaan gadis pujaan anak Bunda?" Bunda menekan dadanya. "Kamu menyakiti hati Bunda."

Astaga, aku mendadak jadi durhaka pada wanita yang sudah menjadi ibuku selama lebih tiga puluh tahun ini―terhitung sejak benih ayahku menulari rahim Bunda. Bukankah pohon selalu memberikan yang terbaik untuk buahnya? Seharusnya aku tidak perlu serambang itu pada wanita yang diutus bunda untuk wanita yang kucintai. Sepanjang hidupku juga aku selalu tahu, bahwa Bunda tidak pernah sembarangan memperilakukan anaknya sendiri bahkan orang lain.

Lupakan saja, barangkali aku terlalu aware pada orang asing beberapa hari ini.

"Maafin Juna, seharusnya Juna ngga pernah meragukan itu," kataku menyesal.

"Sudah, ah, bunda harus kembali ke Puskesmas bersama Dokter Tania. Pastikan Almira beristirahat dengan baik dan meminum obatnya siang ini." Bunda mengarahkan. "Dan satu lagi!" Bunda membalikkan badannya menoleh padaku beberapa detik. "Kamu tampan sekali."

Aku melihat bunda terkikik sambil melangkah cepat menghampiri dokter muda di sana yang terlihat mulai kepanasan akibat terik matahari. Dan―ia masih memandangiku dengan tatapan yang sulit kuabaikan.

Melupakan dokter itu, sebaiknya aku ke kamar Almira dan memastikan dia baik-baik saja. Saat kubuka pintu kamarnya, kulihat gadis itu masih serius mengepak pakaiannya yang telah bersih dan rapi ke dalam koper yang dipinjamkan bunda untuk perjalanan kami.

THE LADY HAMMER Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang